Senin, 25 September 2017

Life is look like a long journey



Semasa kecil sering kita tertatih tatih dalam menapakkan kaki kecil untuk mencoba selalu sigap dan siap dalam berjalan dan berlari, sang ibu memberikan lambain tangan untuk menarik respon sang anak berjalan menuju ke arahnya. Setiap hari mulailah kicauan kicauan kecil dari bibir munggilnya, celotehan yang masih belum bisa dipahami jelas dan yang mampu memahaminya adalah sang ibunya sendiri.
Beranjak menjadi anak-anak, mulailah dia mengenal kawan sesamanya, mulai memahami dunia sosialisai dengan mulai bermain,bercanda dan terkadang bertengkar, sepertiya itu sudah biasa terjadi pada umumnya. Teringat jaman ketika masa anak-anak, tepatnya ketika berumur 9-10 tahun, bercandaan yang waktu itu sangat buming, “hai dapat salam dari si A”, dan ketika selesai pelajaran sekolah atau waktu istirahat ada yang jahil menuliskan nama si perempuan dan si laki-laki, sebut saja SRI dan SLAMET, “ ciyeeee sri dan slamet, sri dan slamet”, bukan hanya itu saja kejahilan masa anak-anak, jika ada yang ingat kaca kecil bekas tempat bedak yang diambil kacanya saja, lalu kacanya diselipkan ke sepatu, setelah itu pantulan cermin difungsikan untuk melihat warna celana dalam kawannya, hahaha sungguh itu masa-masa konyol dan sangat hits pada waktu itu, bukan hits seperti zaman sekarang dengan penuh gadget yang sebenarnya belum saatnya anak-anak mengkonsumsi gadget.
Masih tersimpan masa anak-anak dalam memori, kalau didaerah saya namanya “sonda”, permainannya memakai “kereweng” (pecahan genting), dengan memakai garis pembatas yang digariskan pada halaman rumah, gerak permainannya dengan “angkle” (kaki diangkat satu), permainan yang melibatkan beberapa kawan dan bagus untuk melatih keseimbangan dan paling utama kejujuran. Ada juga yang sejenis dengan “sonda”, permainan “gobak sodor”, hahah itu permainan udah ramenya kayak se-RT aja, ada 4 penjaga depan tengah belakang dan utama, nah kalau yang utama ini yang dia agak kerempongan, karena dia harus  mengawasi depan belakang dalam satu garis tenggah, jenis permainannya menggunakan garis 4 balok besar yang awal permainanya satu persatu lawan masuk pada satu kotak dan harus bergiliran masuk pada kotak-kotak yang lain, jika lawan sampai bisa finish yaitu bisa keluar dari pintu masuk tanpa tersentuh oleh penjaga, maka dia bisa dikatakan menang. “HORE MENANG…”, sontak ketika ada group pemenang yang memenangkan, permainan yang bisa dimabil dari “gobak sodor”, adalah trik dan tak-tik untuk menjaga gawang agar lawan tidak bisa masuk ke kotak balok berikutnya, dan bagi si lawan akan berusaha bagaimana bisa lolos ke balok selanjutnya tanpa terkena atau tertangkap oleh si penjaga.
Permainan yang tidak kalah menariknya yaitu lompat tali, alat permainannya menggunakan karet gelang yang disusun saling mengaitkan lalu dibuat sampai panjang dengan perkiraan panjangnya sudah bisa difungsikan dalam lompat tali, semakin tingi dia bisa melompat dia bisa dikatakan menang, yang paling menarik dalam permainan ini adalah gerak tubuh si anak sangat mempengaruhi, karena dari segi tubuh dan kelincahan si anak akan terpacu terus untuk bergerak dan memacu untuk bisa melompatinya. Sungguh sangat sehat permainan anak zaman dulu, tidak perlu barang mahal, cukup dengan memanfaatkan barang-barang yang ada, banyak kawan dan tentunya kekompakan.
Mungkin adakah diantara kita ketika masa kecil suka main ke sungai, lalu mencari ikan-ikan kecil setelah itu ikan-ikannya digoreng di kebun samping sungai. Sebelum ke sugai kesepakatan sama teman-temanya, ada yang bawa kaleng bekas kaleng susu atau wajan kecil, ada yang bawa minyak goreng, ada yang bawa korek api, kalau semisal dirumahnya ada yang punya kerupuk yang masih mentah bisa itu sekalian dibawa, setelah pembagian selesai. Tara….. nyemplung lha kita ke sungai, eits.., tapi sungai yang beraliran kecil ya, nyempulng ke sungai otomatis pasti basah semua, hahah setelah kita selesai mencari ikan-ikan kecil yaitu (iwak gatoel), barulah kita goreng dengan memakai perapian kayu-kayu kecil di kebun, sembari mengeringkan baju yang nempel dibadan, setelah ikannya matang.., beuhhhh “rasanya enak..”, teringat sangat masa-masa itu. Ketika sudah waktunya pulang, kita pulang ke rumahnya masing-masing, kena semprotlah sama ibu karena sudah main ke sungai, itu adalah hal wajar bagi seorang ibu yang mengkhawatirkan anaknya, namanya juga anak-anak besoknya ya balik lagi ke sungai.
Menginjak remaja barulah muncul rasa simpati terhadap seseorang, meskipun banyak orang yang bilang kalau masih bau kencur, memang masih bau kencur, namanya juga remaja. Masa-masa mulailah ada yang punya pasangan, ada yang kirim surat diam-diam, eitssss ada yang pernah dapat surat cinta masa ala-ala kencur?, unik jika itu teringat kembali, semuanya berjalan mengikuti perjalanan kehidupan masing-masing, semakin banyak kita berjalan maka semakin banyak pula rintangan dan petualangan yang dihadapi, semakin banyak yang dirasakan semakin peka terhadap kehidupan, semuanya melalui proses berputar, melaju waktu tak kenal henti, menerobos lamunan meskipun lamunan sering ditindak sendiri.
Masuk masa-masa SMA, zaman putih abu-abu, kalau dilihat dari sifat warna abu-abu adalah warna tidak jelas, tidak putih dan tidak hitam, abu-abu alias warna tidak jelas, maka perlu adanya penjelasan biar menjadi jelas, eits… kok nyambung kesini ya. Putih abu-abu mulai muncak-muncakny ego dan merasa bahwa dia yang paling menang, peralihan dari masa ABG menjadi remaja, sifat merasa benar sudah mulai muncul dan jika tidak terkontrol dan diposisikan yang baik akan berakibat buruk bagi masa depannya. Sehingga perlu adanya dukungan keluarga, sekolah maupun lingkungan sekitar.
Masa demi masa terlewati, maka masuklah masa-masa tidak perlu memakai seragam lagi, warna baju sesuka hati tanpa perlu beralih hari beralih baju yang harus dikenakan, masa kuliah dimana masa peralihan masa abu-abu yang penuh ego, masa mulai mencari jati dirinya, masa mulai memahami dia siapa dan aku siapa, kemana langkah ini menuju lalu untuk apa melangkah, apa yang dituju kemana seharusnya tujuan, sembari mencari ilmu, pola pikirpun berubah, karakter perlahan terbentuk, sifat ego mulai sedikit demi sedikit menurun, dan mulai mengenal dirinya sendiri.
Life is look like a long journey, seperti pada kebanyakan makhluk yang bernama manusia, mereka akan mengalami berbagai lika-liku kehidupan, merasakan berbagai rasa, namun tak terkecuali itu semua, kita hanyalah sebagai dalang yang hanya mampu melaksanakan apa yang sudah diperintahkan oleh ketentuannya, tidak lebih dari itu semua ketetapan sudah diatur olehnya, manusia hanya mampu berusaha, mengupayakan dan berdoa, untuk urusan hasilnya sudah ada yang menentukan.
Semakin bertambahnya umur semakin bertambah pula tanggug jawab yang diemban, strata pendidikan yang berubah secara tidak langsung mengubah tanggung jawab yang dulunya tidak seberapa, maka bertambahlah pula yang harus diemban, banyak orang berpendapat bahwa tingkat kesuksesan seseorang dilihat dari seberapa besar tanggung jawab yang diamanahkan kepadanya, seberapa tangguh dia mampu menopang, seberapa kuat dia mempertahankan, seberapa gagah dia selalu berani didepan untuk berkata “inilah aku, bukan bapakku”, bagi kebanyakan manusia akan mengeluh jika pada suatu titik jenuh menghampirinya, seperti puncak klimaks yang tertinggi, catrrius paribus pada puncak kepuasan sudah pada titik over, maka menurunlah apa yang diharapakan.
Hidup perlu perjuangan, hidup tampak sebuah perjalanan yang panjang, karena dalam perjalanan kita harus hidup karena disitulah kehidupan, hidup untuk bergerak, hidup untuk kemajuan, hidup untuk lebih baik, dan hidup untuk memberikan manfaat kepada sesama. Semoga hidup kita bukan hanya sebatas perjalanan panjang namun perjalanan yang penuh dengan makna dan keberkahan. Aamiin..
Salam Lintas Pena
Ilmi Tamami ^^

2 komentar:

  1. waahhh aku dulu sering nyari ikan julung-julung hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe klu saya dulu dapatnya ikan cucut sama ikan gatoel :D

      Hapus