Minggu, 29 Oktober 2017

Jangan Tanyakan Lagi




Aku pun tak tau harus menulis apa, hanya saja ingin kuluapkan saja ungkapan dan pertanyaan-pentanyaan tak bisa ku jelaskan, mengapa selalu berputar pada permasalahan kapan? dan dengan siapa?. Ah itu sungguh memberikanku tekanan batin.
“Jangan tanyakan itu kepadaku, berikanlah solusi”, sentakku didalam hati ketika pertanyaan itu muncul lagi untuk keberapakalinya mendatangi.
Diujung jalan banyak orang berkelebatan berjalan menuju tujuan masing-masing, sembari menyapa dengan sebutan orang pada umumnya (Mbak, Mas, Bude, Pakde, Mbah) atau langsung dengan memanggil namanya, tak hiran jika bertemu sesama dalam berfikir atau sama dalam genre pembahasannya pun sama, berbicara dalam suatu ungkapan yang mereka miliki tersendiri untuk memunculkan perbincangan hangat antara fakta atau hanya opini tambahan.
Sebutku suatu penilaian sepihak memberikan wejangan kilat yang tak didasari oleh apa yang seungguhnya dirasakan, penilaian tanpa adanya sebuah pernyatan kebenaran sering memberikan hasil penilaian sepihak. Seringkali mendapatkan pertanyaan besar atas permasalahan sekelumit kehidupan. Tak sedikit banyak jawaban memberikan pembenahan semua yang tampak terlihat olehnya mampu dikritisi oleh beberapa manusia lain.
Sungguh tersiksa batinku terkoyak atas pertanyaan pertanyaan itu, aku pun terusik, tersakiti, terpojokkan dan terdiam membisu ketika pertanyaan itu datang. Aku pun tak tau, sebab Sang Khalik adalah penentu, karena pertanyaan itu sama halnya dengan kapan Sang Pemilik Hidup akan memanggil untuk kembali, Aku pun tak tau apa yang mesti dijawab.
Polemik masyarakat desa sungguh memberikanku himpitan hati dan teroyak dalam sudut tak terjawab. Menjawab atas sesuai kehendak orang-orang pada umumnya perlu pembuktian dan pelaksanaan, jika pertanyaan itu terus menuntut, maka berikanlah diri ini doa agar pertanyaan-pertanyaanmu menjadi segudang, segunung, sealam doa untuk memberikanku jalan Aku mampu menjawab pertanyaann-pertanyaanmu dengan sempurna.
Maafkanlah jika Aku sering membalas dengan senyuman untuk memberikan penghormatan kepadamu, tak kuasa bibir ini berucap tuk memberi penjelasan, entah sampai kapan ujungnya, semoga dalam menunggu waktu yang sudah ditentukan oleh dan waktu akan menjadikan pribadi ini lebih baik dan mampu menyulurkan tangan ini kepada hal-hal bermanfaat untuk jiwa pribadi, jiwa terkasihi dan jiwa-jiwa yang tak bisa tersebut satu persatu.
Jadi jangan tanyakan lagi, cukup tambahkan doa untuk jiwa ini yaitu disela doa-doa pada lima waktu tatap hati kepada tuhanmu.

0 komentar:

Posting Komentar