Minggu, 22 Oktober 2017

Lebaran Kupat





Filosofi kupat (ketupat) pokok makanan yang disuguhkan ketika lebaran ketupat. Awal mula kupat diangkat dari tradisi pemujaan Dewi Sri yaitu dewi pertanian, kesuburan, pelindung kelahiran dan kehidupan. Dewi Sri merupakan dewi tertinggi bagi masyarakat agraris, ia dimuliakan sejak kerajaan kuno seperti Majapahit dan Pajajaran.
Berjalannya waktu Dewi Sri tidak lagi dipuja sebagai dewi kesuburan tapi hanya dijadikan lambang yang dipresentasikan dalam bentuk ketupat bermakna ucapan syukur kepada Tuhan. Tak heran jika kita melihat beberapa tradisi di daerah yang memiliki perbedaan dalam merayakan lebaran ketupat. Untuk daerah kota kota besar, ketupat sudah bisa dinikmati ketika lebaran Idul Fitri. Kalau di daerah saya tepatnya di Trowulan, Mojokerto yang dikenal sebagai kota peninggalan Kerajaan Majapahit, lebaran ketupat dilaksanakan setelah satu minggu lebaran Idul Fitri, tiap rumah menyajikan menu masakan ketupat, lepet, lontong, gule ayam ditambah kikil.
Makna ketupat berasal dari kata kupat yaitu ngaku lepat (mengaku bersalah). Janur dan daun kelapa yang membungkus ketupat merupakan kependekan dari kata jatining nur yaitu hati nurani. Secara filosofi beras yang dimasukkan dalam anyaman ketupat mengambarkan nafsu duniawi. Dengan demikian bentuk ketupat melambangkan nafsu dunia yang dibungkus dengan hati nurani. Bentuk ketupat persegi diartikan kiblat papat limo pancer, papat diartikan simbol empat penjuru mata angina utama: timur, barat, selatan, utara artinya ke arah manapun manusia akan pergi dia tidak boleh melupakan pacer (arah) kiblat. Anyaman janur merupakan simbol kompleksitas masyarakat Jawa, anyaman yang melekat satu sama lain merupakan anjuran bagi seseorang untuk melekatkan tali silaturahmi tanpa melihat perbedaan sosial.
Arti dari ketupat penuh dengan filososi dibalik balutan janur pembungkusnya. Menikmati sajian ketupat dengan sayur gule dan kawan-kawan pendukung lainnya memberikan kenikmatan keakraban bersama keluarga, anak-anaknya yang sudah lama dalam perantauan di kota lain mampu melepaskan penat dalam balutan keakraban bersama. Alhamdulillah, beruntunglah bagi yang masih bisa menikmati lezatnya ketupat bersama keluarga. Bagaimana lebaran ketupat di daerahmu…?.

0 komentar:

Posting Komentar