Minggu, 15 Oktober 2017

Malin Kundang bukan Maling Kandang





Kisah zaman dahulu kala, hiduplah sebuah keluarga miskin di daerah pesisir pantai. Sang Ayah bekerja di kapal-kapal para pedagang untuk mencukupi kehidupan. Sepasang suami istri memiliki seorang anak lelaki yang masih kecil, bernama Malin Kundang. Malin Kundang termasuk anak rajin, suka membantu setiap pekerjaan ibunya dan sering membantu pekerjaan ayahnya dalam membuat kandang . Jika cuaca sedang tidak bersahabat Ayah membuat kandang ayam dan kandang burung untuk dijual ke pasar atau ke kampung-kampung sebelah. Ayah dan Ibu sangat menyayangi Malin Kundang, anak semata wayang mereka dan dambaan keluarga.
Di desa Sumbara, Ayah Malin Kundang terkenal dengan keahliannya dalam membuat kandang ayam dan kandang burung, sempat beberapa ahli petarung ayam memesan kandang untuk dibawa ke Negeri sebrang, ayam jago gagah ditunjang dengan penampilan kandang buatan Ayah Malin membuat nilai tambah pada pertandingan. Ada satu kandang berbahan kayu jati tua berukiran garis ombak dan bertuliskan nama Malin Kundang, Ayah berpesan kepada Malin mengenai kandang keramat. “Nak…, jangan kau jual atau kau berikan kepada siapa pun, karena kandang ini adalah keramat, memiliki kekuatan positif dan negatif, jika kandang ini dimiliki orang baik maka kekuatan kandang juga mengikutinya, namun celakalah jika kandang ini dimiliki orang jahat, karena energi kejahatan akan kembali kepadanya”. Malin mengangguk sebagai tanda bahwa dia faham atas amanah Ayah yang diberikan.
Hingga pada suatu waktu, cuaca dirasa sudah memugkinkan untuk berlayar, sang ayah diberikan tawaran oleh pedagang untuk pergi berlayar selama satu bulan. Namun setelah ditunggu melewati satu bulan lebih, sudah tak terdengar lagi kabar beritanya dan sudah bertahun-tahun berlalu tak kunjung pulang. Ibu malin kundang kini bekerja keras seorang diri untuk menghidupi dirinya dan membesarkan si Malin. Melihat hal itu, Malin Kundang yang masih belia merasa sangat kasihan. Setiap hari Malin membuat kandang ayam dan kandang burung, beruntunglah Ayah malin sudah pernah mengajarinya dalam membuat kandang, meski tidak sebagus buatan Ayahnya, namun penghasilan dari pembuatan kandang tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari, sehingga Malin bertekad untuk bekerja merantau dan kelak pulang membawa harta yang banyak untuk Ibunya.
Hingga pada suatu hari, ada sebuah kapal yang cukup mewah berlabuh. Seperti biasa, malin segera berlari ke kapal menawarkan diri untuk bisa bekerja sebagai kuli panggul bersama para pekerja angkut. Melihat malin begitu rajin, sang nahkoda kapal menjadi sangat tertarik. Dia berniat mengajak malin berlayar dan bekerja di kapalnya. Malin pun merasa sangat senang, karena mimpinya untuk berlayar dan merantau ke negeri seberang akan bisa terwujud. Dia langsung berlari pulang untuk meminta izin pada Ibunya.
Dengan berat hati, ibunya memberikan izin kepada anak semata wayangnya. Ingin rasanya menahan Malin untuk pergi, namun karena melihat tekad Malin yang begitu kuat, sang Ibu tak kuasa melarangnya. Di dalam hati Ibunya merasa sangat khawatir akan keputusan Malin merantau, ada firasat yang sangat menganggu dan sang Ibu sangat ingin mencegahnya.

Sebelum berangkat untuk berlayar, Malin memandangi dan sambil mengelus-elus kandang keramat yang diberikan oleh Ayahnya, dia selalu kepikiran mengenai amanah yang telah diberikan, maka dia putuskan untuk membawanya berlayar, Malin berucap sendiri di depan kandang . “Baiklah aku akan membawa kandang ini, mungkin akan bermanfaat ketika Aku berlayar nanti”.

Keesokan harinya Malin sudah siap berangkat dengan membawa kandang keramat.  “Malin pamit buk''. Kata Malin berpamitan diiringi air mata Ibunya. ''Hati-hatilah di tanah rantau ya nak. Bersikaplah baik pada semua orang, selalu rendah hati, dan jangan lupa pada Tuhan yang maha kuasa''. Pesan Ibu Malin. ''Iya buk.. Malin akan selalu ingat nasehat ibuk, kelak Malin akan pulang membawa harta yang banyak. Malin akan menjadi orang kaya, ibuk tak usah lagi bekerja. “Jangan lupa nak jaga baik-baik kandang pemberian Ayahmu, semoga kandang ini bisa berguna nanti ketika kamu mengalami kesulitan dan jangan sampai kandang ini dimiliki oleh orang jahat”. Pesan ibu malin mengenai kandang pemberian Ayahnya. “Baik buk, akan Aku jaga kandang ini baik-baik, Malin pamit mak”. Ucap Malin sambil mencium tangan kanan Ibunya.

Setelah satu minggu berlayar, terjadilah badai ombak besar yang meluluhlantahkan kapal, setiap pekerja kuli berlarian mencoba untuk menyelamatkan diri, berlarian kesana kemari bak seperti orang kehilangan arah, semua orang ketakutan tak tau kemana mereka meminta pertolongan. Malin masih belia, hanya tangis isakan sambil merangkul kandang buatan Ayahnya, Malin tidak tau harus meminta pertolongan kepada siapa, namun pesan Ibunya selalu dia ingat bahwa “jangan lupa pada Tuhan yang maha kuasa”. Malin berdoa sambil menangis meminta pertolongan agar dia selamat dari badai ombak.

Setelah beberapa hari berlalu, ketika Malin membuka mata, dia berada di atas kasur empuk dan berselimut putih sembari kaki kanan kiri diperban dan sekujur tubuhnya terluka, dia melihat masih ada kandang ayahnya di meja sebelah pojok jendela, namun dia merasa kebingungan kenapa dia tiba-tiba berada di kamar ini, siapa yang membawanya.

Tak lama kemudian datanglah seorang wanita cantik berambut pirang bak seperti orang Belanda. “Maaf anda siapa?, kenapa saya bisa berada di sini?”, tanya Malin. “kamu saya temukan di tepi pelabuhan tiga hari yang lalu dengan penuh luka, maka aku membawamu kerumahku, syukurlah kamu sudah sadar”. Wanita berambut pirang menjelaskan sambil duduk dengan wajah ramah.

Setelah beberapa bulan berlalu, barulah Malin sembuh secara total, dia tinggal bersama wanita janda cantik berambut pirang, wanita tersebut tinggal dengan seorang anak tunggalnya yaitu si Palung.palung adalah anak berkepribadian cerdik dan punya siasat tinggi, namun dia memiliki sifat suka menghakimi bahwa barang milik orang lain adalah barangnya Palung, jika dirasa suka oleh Palung maka tidak segan-segan Palung mengambilnya.

Wanita janda berambut pirang mengangkat Malin menjadi anak keduanya, mereka berdua hidup berkecukupan, dan sejahtera. Namun Malin masih terniang-niang dengan keadaan Ibunya di kampung halaman, sudah lama sekali dia tidak memberikan kabar. “Malin….” Suara ibu angkatnya memanggil, Malin bergegas menuju arag panggilan, “Malin.., ibu berpesan kepadamu jika nanti suatu saat ibu pergi tolong jaga Palung untuk ibu, tolong berikan apa saja yang dia minta, sebab dia tidak seperti kamu selayaknya anak normal, Palung adalah anak dengan berkepribadian khusus, tolong jaga dia baik-baik”. Maling menganguk dan mngekspresikan wajahnya bahwa dia akan selalu menjaga Palung.

Ketika malam tiba, semua orang sudah terlelap tidur, terjadilah perampokan di rumah Palung, ibu palung dibunuh oleh perampok, bukan hanya itu saja harta benda keluarga Palung dan Kandang Maling di curi oleh perampok. Ketika pagi sudah tiba dan ayam-ayam sudah berkokok menandakan manusia sudah bisa beraktiitas kembali, Malin dan Palung menjerit melihat ibu palung sudah terkapar meninggal dengan bercak darah dimana-mana, Palung menangis tanpa henti, Malin mencari kandangnya namun sudah tidak ada.

Hari-hari Malin terlewati dengan Palung, sisa harta hanyalah rumah yang mereka tinggali. Tidak terasa mereka tumbuh dewasa, Malin masih mencari-mencari kandangnya di tetangga desa namun tak juga ketemu.

Setelah berpuluh-puluh tahun, datanglah sebuah kapal pesiar besar dan megah, pemuda bangsawan datang dengan istrinya untuk berlabuh ke pulau rote yaitu di desa Sumbawa, Ibu Malin terengah-rengah berlari menuju pelabuhan. “Pasti itu Malin sudah datang, anakku..”. Ibu berucap dengan mata berbinar-binar karena sudah lama tak berjumpa dengan Malin”. Ibu merasa yakin karena pemuda tersebut sambil membawa kandang keramat yang dibuatkan oleh Ayahnya.

Pemuda bangsawan sambil menyebar uang receh ke orang-orang sekitar kapal. Ibu Malin langsung naik menuju kapal memeluk pemuda bangsawan. “Nak apakah ini kandangmu?” Ibunda Malin bertanya sambil terengah-engah, “iya ini punya saya, jangan mendekat ke kandang itu, kau wanita tua miskin tak berhak menyentuhnya, pergi sana”. Bentak pemuda bangsawan.

Malin, ini Aku nak, Ibumu. Kini kau benar-benar sudah menjadi orang kaya nak, Ibu sangat senang kau sudah pulang”. Kata Ibu Malin. Pemuda bangsawan terkejut mendengarnya, tak disangka wanita dengan pakaian lusuh itu mengaku ibunya yang sudah lama dia tinggalkan.

“Benarkah pengemis ini Ibumu Bang?, katamu kau yatim piatu, ternyata dia masih hidup sebagai pengemis”. Kata istri pemuda bangsawaan dengan nada ketus. Karena malu dengan istrinya, dia akhirnya membantah dan berkata bahwa itu adalah pengemis yang hanya mengaku-ngaku sebagai ibunya untuk mendapatkan uang lebih. Lalu pemuda bangsawan meminta awak kapal untuk mengusirnya dengan kasar dan menendangya, awak kapal segera bersiap berlayar meninggalkan tempat itu.

Menerima perlakuan yang sudah keterlaluan dari pemuda bangsawan, Ibu Malin Kundang merasa sangat kecewa. Rasa sakit di hatinya sungguh tiada terkira. Akirnya, dia berdo'a pada yang maha kuasa. .''Ya Tuhan.. engkau adalah dzat yang maha adil, dan mendengar setiap do'a hamba mu. Pemuda itu telah kasar kepadaku, aku yakin dia anakku karena dia membawa kandang pemberian ayahnya, Jika benar dia bukan Malin anak ku, maka berilah dia azhab pedih di dunia ini, karena telah berani mengambil kandang anakku, karena aku ingat pesan ayahnya jika kandang keramat tidak boleh diberikan kepada siapapun dan pasti malin tidak akan memberikan kandangnya kepada orang lain, tak lain kandang itu dicuri oleh pemuda bangsawan itu. Maka kutuklah ia Maling Kandang menjadi batu karena telah mencuri kandang anakku.

Seketika, langit yang tadinya cerah menjadi gelap. Angin berhembus kencang, dan datanglah hujan badai yang menerjang kapal itu. Petir bersautan, ombak mengamuk. Melihat hal itu, pemuda bangsawan menjadi sangat ketakutan, minta maaf kini sudah terlambat. Tiba-tiba kapal mewah itu dihantam petir yang sangat besar hingga pecah berkeping. Dan konon, maling kandang berubah menjadi sebuah batu karena berani menyakiti hati wanita tua miskin.
Pemuda bangsawan sang maling kandang akhirnya menerima adzabnya, dia merupakan sosok perampok dan penjahat yang sudah lama mengusik ketentraman di setiap wilayah, aksi merampoknya sudah berpidah-pindah tempat, banyak yang telah dirugikan olehnya, dengan dikutukya maling kandang menjadi batu, maka ketenangan sangat dirasakan oleh orang-orang yang pernah disinggahi utntuk dirampok, banyak beberapa masyakat sekitar maupun masyarakat jauh berdatangan ke rumah Malin Kundang untuk mengucapkan terimakasih atas doa yang Ibu Malin panjatkan, doa yang memberikan adzab kepada orang yang sepantasnya, orang yang telah menganggu ketenangan masyarakat tetagga dan daerah-daerah lainnya. Meski sudah banyak orang berdatangan orang pergi ke rumah Malin Kundang, tetap saja Ibu Malin sedih, anaknya Malin Kundang tak kunjung datang ke rumah.
Selang beberapa waktu Si Malin bertekad untuk pulang, karena dirasa sudah cukup perbekalanya, Malin mengajak Palung untuk tinggal bersamanya, rumah dan pekarangan tanah Palung sudah dijual dan Malin masih memegang janji Ibu angkatnya untuk selalu menjaga Palung.
Ketika menjelang sore hari, Malin Kundang datang dengan membawa Palung, disambutnya Malin oleh warga Sumbawa, orang-orang terheran-heran, Malin berubah menjadi pemuda rupawan, sholih, wajahnya bersinar-sinar, senyum sumringah terbesit di lengsung pipitya sebelah kanan, dan mata cerahnya memberikan ketenangan jika memandangnya. Orang-orang berteriak dan memberikan informasi jika Malin sudah datang lagike Sumbawa. Ibu Malin terseok-seok bangkit dari kamar tidurnya untuk menyambut Malin, dan memang benar yang datang adalah Malin anak satu-satunya, Malin merangkul emaknya dan menangis terharu, semua warga Sumbawa ikut terbawa suasana.
“Ini siapa Malin yang kamu bawa?, Ibu malin sambil menunjuk pemuda yang Malin bawa, “ini adalah Palung, dia adik angkatku, Malin berhutang nyawa ke ibu nya Palung. Waktu itu kapal pedagang kaya yang Malin ikut bekerja terkena badai ombak besar, Malin diselamatkan dan dirawat oleh Ibunya Palung, sekarang Ibunya sudah tiada maka Palung sudah menjadi kewajiban Malin untuk menjaganya dan Malin juga meminta maaf tidak bisa menjaga kandang keramat Ayah, karena kandangnya telah di curi oleh perampok”. Malin menjelaskan dengan suara lembut sambil memgang tangan Ibunya.
Akhirnya Ibu Malin, Malin Kundang dan Palung hidup bersama, mereka hidup berkecukupan dan saling menyayangi, Ibunda Malin juga bercerita mengenai Maling Kandang yang telah dia kutuk. Malin Kundang hanya bisa tercengang mendengar cerita ibunya. Sang Ibu Malin bercerita sambil mengusap kepala Maling dan memberikan candaan, “Kalau ini baru anaknya Ibu Malin Kundang bukan Maling Kandang.” Maling Kundang tersenyum manis dengan lesung pipit di pipi kanannya.
END…  ^^

0 komentar:

Posting Komentar