Minggu, 22 Oktober 2017

Nikmatnya Lagu Lir-Ilir





Awalnya hanya sebatas suka mendengarkan lagu lir-ilir tanpa ingin tahu apa maksud dari lagu ini, hingga saat terdengar oleh ayahku pada suara musik lir-ilir yang ku putar di laptop hitam. Ayah berucap “lagu ini penuh makna Neng, Ayah suka sekali mendengar lagu ini, meski tidak banyak orang yang memahami makna sebenarnya lagu lir-ilir”. Aku penasaran dengan maksud ucapan ayah akan lagu lir-ilir.
Ayah mencoba menceritakan akan asal-usul lagu ini bahwasannya pada zaman Kerajaan Islam masih berkuasa di tanah Jawa, lagu lir-ilir sangat populer dinyanyikan sebagai tembang dolanan dikalangan anak-anak dan masyarakat. Lir-ilir juga dijadikan lantunan seorang ibu yang tengah ‘meninabobokan’ bayinya agar lekas pulas tertidur.
Lagu lir-ilir termasuk tembang yang diciptakan oleh Raden Said atau Sunan Kalijaga sebagai bagian dari media dakwah. Melalui tembang lir-ilir yang berbahasa Jawa dijadikannya alat untuk mendekati masyarakat dengan maksud penyebaran agama Islam. Tembang ini sarat akan makna dan filosofi bagi kehidupan masyarakat untuk menuju kepada-Nya Allah SWT.
Tembang Lir-ilir[1]
Lir-ilir, lir-ilir
Tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo, tak senggo temanten anyar
Bocah angon, bocah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekno, kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro-dodotiro, kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono, jlumatono kanggo sebo mengko sore
Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane
Yo surako surak iyo

Terjemahan Bahasa Indonesia
Bangunlah, bangunlah
Tanaman sudah bersemi
Demikian menghijau bagaikan pengantin baru
Anak gembala, anak gembala panjatlah (pohon) belimbing itu
Biar licin dan susah tetaplah kau panjat untuk membasuh pakaianmu
Pakaianmu, pakaianmu terkoyak-koyak di bagian samping
Jahitlah, benahilah untuk menghadap nanti sore
Mumpung bulan bersinar terang, mumpung banyak waktu luang
Ayo bersoraklah dengan sorakan iya.


Mencoba memaknai akan tembang yang bisa dikatakan sudah lama sekali. Di dalamnya mengajak umat islam untuk bangun dari keterpurukan, buang sifat malas, memang kita mempunyai pilihan untuk tetap tidur atau bangun untuk berjuang untuk menumbuhkan iman kita layaknya menumbuhkan tanaman hingga besar dan mendapatkan kebahagiaan seperti layaknya pengantin baru
sang anak diminta untuk memanjat pohon belimbing, meskipun pohonnya licin tapi panjatlah, bak seperti layaknya perjuangan umat muslim, makna dari buah belimbing mengambarkan lima Rukun Islam yang harus dijalankan, meski jalannya licin harus bisa dilampaui.
Pakaian yang terkoyak dilambangkan bahwa umat islam memang harus selalu memperbaiki imannya, agar nanti ketika sudah waktunya tiba menghadap kepada Nya sudah sehat, bagus, dan baik, mumpung masih ada waktu luang untuk memperbaiki selayaknya pengambaran bulan masih terang.
Pakaian yang terkoyak dilambangkan bahwa umat harus selalu memperbaiki imannya agar kelak siap ketika dipanggil menghadap kehadirat-Nya. Hal terasebut harus dilakukan ketika kita masih sehat yang dilambangkan dengan terangnya bulan dan masih mempunyai banyak waktu luang.

0 komentar:

Posting Komentar