Jumat, 06 Oktober 2017

Pengepul Sampah dan Pengisi Ulang Korek Api




Hari ini baru pukul 07.00 pagi, matahari sudah sangat menyengat, apalagi nanti ketika siang sudah tiba, matahari bisa maksimal cahayanya. Seperti biasa ketika jam menunjukkan pukul 07.30 aku harus bergegas berangkat menuju kantor, kurang lebih perjalanan memakan waktu 15 menit dari tempat tinggal.
Pemandangan ketika perjalanan menuju kantor setelah melewati dua lampu merah, ada seorang bapak-bapak tua, beliau seorang pengepul sampah dengan membawa gerobak sampah di belakang badannya, bapak tua setiap hari berkeliling untuk mengambil sampah-sampah yang sudah ada di drum-drum atau tempat sampah.
Hal yang menarik ketika aku melihat bapak tua dalam mengambil sampah di tiap-tiap ruko yaitu bapak tua bekerja dengan cinta, berwajah ceria, senyum renyah, serta gayanya yang khas membuat orang ikut berbahagia, penampilannya dengan baju kusam dan sepatu olah raga khas anak muda. Ketika aku melewatinya, sering kali mata ini tertarik pada sepatu yang dikenakan, “eits…bapak nih, gaul juga ya”, gumamku.
Banyak hal bisa ku pelajari dari peristiwa ini, melihat seorang bapak tua berprofesi pengepul sampah, ikhlas menerima hidupnya, sabar menjalani kehidupan, tidak menuntut atas nasib dan selalu bersyukur.
Sebelum melewati perempatan lampu merah, sering kali aku melihat bapak separuh baya duduk di samping jalan turunan, dia berprofesi sebagai pedagang isi ulang korek api, tidak pernah dia berkoar-koar agar ada yang mau membeli isi ulang, cukup dengan duduk, posisi selalu menghadap ke barat dan tidak lupa sambil membaca Koran, entah dari mulai jam berapa bapak korek api duduk di pinggir jalan turunan, sempat terbesit pertanyaan dalam hati, “kira-kira bapak ini penghasilan perharinya berapa…?, untuk usaha jualan isi ulang korek api tidak tentu orang tiap hari mau isi ulang, keluarganya seperti apa,...? ataukah bapak ini seorang pensiunan yang ingin menghabiskan paginya diluar dengan membaca Koran sambil usaha isi ulang korek api”, besitku dalam hati.
Hal positif yang bisa aku ambil dari rutinitas bapak korek api, yaitu dia tidak pernah memaksa seseorang mau mengisi ulang ditempatnya, raut mukanya teduh, sederhana dan sangat menikmati pagi ditemani Koran. Kenyamanan dan kesederhanan membuat dia mampu menikmati hidup dengan caranya, seringkali aku melihat ada beberapa orang mengeluh akan hidupnya, merasa selalu kurang, iri melihat kekayaan orang lain, tidak bisa menerima kehidupannya, padahal hidup itu akan mengikuti bagi orang yang benar-benar hidup, dan celakalah jiwa ini jika hanya menuntut hidup.
Bapak pengepul sampah dan bapak korek api menerima dengan ikhlas hidupnya, mensyukuri atas nikmat yang diberikan oleh sang Khaliq, tidak menuntut harus seperti manusia-manusia lain bermobil mewah, bermake-up artis, bersepatu hitam kilap. Aku jadi teringat pesan salah satu guru ketika masih SMA, “hidup itu persoalan bagaimana kita ikhlas dan bersyukur, sebab manusia memiliki keterbatasan, bisa jadi Dia tidak menjadikan seseorang kaya raya karena nanti dia tidak akan sanggup mengemban amanah dan tingkat kebahagiaan bukan dilihat dari seberapa besar kekayaanya, namun seberapa besar dia mau menerima hidupya dengan ikhlas”.
Rutinitas perjalanan pagi sembari mengolah hati, bersyukurlah atas nikmat yang diberikan oleh-Nya, bisa jadi posisi yang ku peroleh saat ini sangat diinginkan orang lain. Tak perlu mengupayakan sampai berdarah-berdarah untuk sesuatu tanpa mengenal potensi diri sendiri, sebab aku pun tak mau terjerumus akan ambisius tanpa sadar seberapa potensiku. Usaha yang ku usahakan akan sangat nikmat jika atas ridhomu, sebab diri ini hanyalah manusia yang memiliki keterbatasan.

0 komentar:

Posting Komentar