Jumat, 13 Oktober 2017

Perjalanan Waktu



Perjalanan waktu akan mengajarimu pada kedewasaan, Kita berjalan menyusuri berbagai macam waktu, berganti hari demi hari dan berubah ke hari berikutnya, merasakan rasa dalam berbagai hal, mengikhlaskan apa yang seharusnya diikhlaskan, tidak memihak atau menghakimi, memberi bukan untuk menerima, berkasih bukan hanya berkisah.
Di penghujung waktu sore, pesan singkat muncul di handphone android kover silver, sebuah pesan singkat dari Rere, isi pesannya bahwa besok sore dia akan ke Yogyakarta untuk mengambil kartu ujian CPNS dan bermaksud berkunjung ke tempatku, Rere mengutarakan bahwa ingin berjalan-jalan di Kota Istimewa. “Mbak Ilmi besok aku ke Jogja, Mbak Ilmi di Jogja kan?”, pesan singkat ini membuatku tersentak keheranan, kenapa Rere tidak menghubungi kakaknya, apakah telah terjadi sesuatu?. Aku menjawab di dalam pesan singkat, “sebenarnya besok senin aku sudah pulkam Re, namun jika Rere mau ke Jogja, okelah aku tunda keberangkatanku untuk pulang kampung.
Ke esokan harinya aku berjumpa dengan Rere, senyum ceria terbesut dalam raut mukanya, terlihat bahagia, namun di balik senyumnya ada sesuatu yang disembunyikan. “Sehat Re…?” tanyaku singkat sambil menghentikan motorku di depannya, “sehat Mbak..”, jawab Rere dengan singkat. Setibanya Rere di Stasiun Lempuyangan, Rere mengajak untuk ditemani makan malam, setelah perjalanan dari Cilapop membuat dia sangat lapar, setelah jarak beberapa kilometer aku memberikan lampu send ke arah kiri jalan menuju Lesehan Penyetan. “Kalau makan di sini gimana Re?”, tanyaku singkat, “oke Mbak, bolehlah..”.
Sembari Kita menunggu pesanan datang, barulah ku mencoba membuka pertanyaan terkait kedatangan dia ke Jogja apakah sudah diketahui oleh Kakaknya atau tidak, “Re.. kamu ke Jogja tidak ngasih kabar ke Kakakmu?”, Rere menjawab tanyaku diawali dengan senyuman, “hemmm gimana ya Mbak, sepertinya gak bakalan lagi Aku ngabari”. Aku tersentak kaget dan memberikan pertanyaan balik “Lho kenapa? Bukannya dua kluarga kalian sudah merestui, Kalian ada masalah apa”. Dalam suasana malam ditemani nasi uduk hangat dan lele goreng, Kita berbincang-bincang mengenai perjalanan Kita masing-masing, mereview ulang atas yang sudah dilalui, apakah Kita diharuskan untuk memperbaiki terlebih dahulu mengenai sikap dan perilaku Kita atau memang belum waktunya Kita menemukan seseorang yang tepat untuk membersamai dalam beribadah yang disebut sebagai Imam.
“Entahlah Re Aku pun tak tau kenapa hubungan baik Kakakmu dengan keluargamu kandas di tengah jalan, dengan segala kebaikan dan usaha dia dalam berusaha memberikan kepastian ke keluargamu, namun ternyata itu hanya sebatas sebuah cerita tak berujung dalam sebuah keingginan, meski keadaanya sekarang seperti itu, perlu Kita ambil hikmahnya. Boleh jadi Allah tidak mengabulkan keinginanmu sebab Allah tau apa yang terbaik buat Rere dan keluarga, Kita tidak tau apa yang baik menurut Kita belum tentu baik untuk semuanya yaitu dirimu sendiri dan keluarga”. Aku mencoba menjelaskan dan memberikan arahan untuk tetap dalam jalurNya.
Seseorang yang disebut Kakaknya Rere adalah calon Imamnya, meskipun belum ada ucapan resmi dalam sebuah pertalian hubungan yang sering kali disebut tunangan, Orang tua dan Kakaknya sudah pernah bersilaturahmi ke rumah Rere. Berkunjungnya keluarga Kakaknya sudah membuat tanda tanya terhadap keluarga Rere, tidak ada percakapan keseriusan dalam pembahasan dan ketika saat ini sudah mampu terjawabkan, bahwa silaturahmi yang sudah dilakukan itu hanya sebagai kunjungan biasa, belum ada komitmen untuk menuju dalam sebuah tunangan dan pernikahan.
Hubungan yang hanya sepihak dalam pengharapan memberikan dampak psiklogis terhadap keluarga Rere, Orang tua semakin kepikiran anak gadisnya, umur semakin berkurang dan pertanyaan terkait pernikahan selalu menghantui.
Perlu diambil hikmah dalam setiap perjalanan waktu, Kita tidak tau dimana kapan dan dengan siapa berlabuh, lewat jalan mana bertemu, memulai dari mana untuk menemukan, namun Kita tidak pernah sendiri, ada Allah senantiasa membersamai umatnya, kita hanya sebagai hamba hanyalah mampu berusaha untuk menjadi hamba yang lebih baik, bukan selalu menuntut untuk pengharapan-pengharapan duniawi, boleh lah Kita mengharap namun semua hanyalah tertuju pada ridhonya, maka ku mencoba menghibur kepada kawan lamaku Rere. “Semoga Allah senantiasi membersamai Kita dan meminta rindhonya tanpa terkecuali meminta ridho Orang tua”.
Semoga Kita bisa mengambil hikmah atas perjalanan waktu, menjadikan manusia lebih baik, sebab perjalanan waktu mampu memberikan pelajaran banyak hal.

0 komentar:

Posting Komentar