Jumat, 20 Oktober 2017

Polemik Mitos Jawa dan Sunda




Dua adat istiadat yang sudah sangat umum pembahasan di masyarakat, Jawa dengan karakter pekerja keras dan Sunda dengan kelembutannya, keduanya memiliki adat istiadat berbeda dan punya cerita dalam sejarah nenek moyang. Para orang tua memberikan petuah kepada anak keturunan mereka dengan berdalih bahwa orang Jawa tidak boleh menikah dengan orang Sunda. Orang Jawa memberikan penilaian kepada orang Sunda, begitu juga dengan orang Sunda, keduanya sama sama memiliki penilaian postif dan negatif.
Nia hidup dalam ras keturunan asli Jawa, belum pernah tercampur dengan ras lain, orang tua mengajarkan bahwasanya ras, budaya, suku jangan dijadikan pembatas untuk bersosialisasi. Pandanglah seseorang itu dari agamanya, ilmunya, dan akhlaknya, petuah yang selalu diingat oleh Nia.
Setelah lepas SMA, Nia kuliah di salah satu kampus swasta Yogyakarta dengan mengambil jurusan Ekonomi, memiliki banyak rupawan teman dari berbagai asal daerah, mulai mengenal seperti apa bergaul dengan orang luar Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Sumatra, Sunda dan beberapa orang pribumi asli Yogyakarta. Tidak seperti apa yang diperkirakan sebelumnya, orang baik itu bukan dinilai dari ras atau budaya daerah, namun kebaikan seseorang tercermin dari individu masing-masing.
Pada pertengahan kuliah, Nia berjumpa dengan seorang pemuda berasal dari Garut Jawa Barat, pemuda tampan, pintar, paras wajahnya putih bersih, suaranya lembut seperti angin sore, tata bicaranya sopan dan santun. Namanya Alam semester 6 dari jurusan Manajemen Bisnis, Alam salah satu mahasiswa yang menyandang Duta Kampus, segudang prestasi telah diraih, sudah tentu banyak yang tertarik dengannya.
Pertemuan Nia dan Alam pertama kali di dalam sebuah acara seminar di Universitas Biru, Nia mengikuti seminar atas delegasi kampus, begitu juga Alam dengan beberapa temannya mengikuti seminar atas delegasi kampus dari Bandung, seminar diadakan dengan mengundang beberapa narasumber Pakar Ekonomi, Nia mengambil jurusan Ekonomi sedangkan Alam mengambil jurusan Manajemen Bisnis.
Pada acara seminar beberapa peserta memberikan ide dan solusi menurunnya perekonomian di Indonesia. Alam mengutarakan ide dan gagasan tentang “Peluang Perekonomian dalam Mengelola Ekspor Impor.” Nia juga tak mau kalah dengan Alam, dia mengutarakan tentang “Potensi Pengembangan Usaha Kecil Menengah (UKM) di Indonesia”. Keduanya saling memberikan pendapat untuk memberikan solusi.
Dalam proses acara seminar terlihat Alam beberapa kali mencuri mata terhadap Nia, Nia pun menyadarinya, namun karena sedang berada di acara formal, tidak mungin keduanya bisa berkomunikasi secara langsung.
Usai dari acara seminar, Mahasiswa dikumpulkan jadi satu untuk penjamuan penutup acara dan makan malam bersama, disitulah mulai berhamburan dan saling bercakap dengan Mahasiwa lain sambil menikmati jamuan, Nia melihat dari sudut kanan, seseorang memakai baju biru tua sambil membawa beberapa selembaran brosur, Nia mencoba menghampiri dan menyapanya, “permisi…, Anda dari kampus Bandung?,” tanya Nia.
“Iya Teh, manga atu brosurnya, ini mah program yang sedang kami gerakkan di Bandung, penyantunan anak yatim dengan memberikan bantuan berupa dana maupun barang.” Alam menjelaskan dengan nada sunda.
Sejenak hening sesaat ketika Adam menyerahkan brosur, keduanya saling menatap dengan wajah penuh tanya, Nia menerima brosur dengan membalas senyum kecil terlihat diwajah cabinya.
“Jika Teteh berkenan, boleh mengisi data dibuku ini untuk kami jadikan kontak person di organisasi”.
“hemmm saya dipanggil Teteh, baru kali ini dipanggil Teteh, biasanya Nduk, Mbak malah kadang Nok,” gumam Nia dalam hati.
“Iya boleh, nanti jika ada acara bagus, saya bisa dikontak untuk bisa ikut bergabung atau mensupport,” jawab Nia dengan mendukung.
Setelah acara selesai, selang waktu satu bulan ada pesan singkat masuk ke handphone Nia.
“Asslamu’alaikum Teh Nia, saya Alam dari mahasiwa Bandung yang ikut seminar di Universitas Biru.” Langsung tersentak hati Nia membaca pesan dari Alam, setelah satu bulan pertemuan dia memberikan pesan singkat, sungguh hati Nia berguncang kuat tak henti, jantungnya tidak normal dalam berdetak, Nia mencoba menormalkan emsionalnya dan tetap tenang.
Setelah beberapa saat memandangi handphone, Nia teringat perkataan Alam ketika memberikan brosur bahwa dia memiliki program penyatunan anak yatim. “aduh…, Aku kepedean nih, tidak seharusnya dag-dig-dug seperti ini, dia menghubungiku bukan maksud lain namun ingin memberikan info penyatunan”. Nia menggumam sendiri.
Melewati beberapa menit Nia menjawab pesan singkatnya. “Wa’alikumussalam, iy Mas Alam, ada yang bisa saya bantu?”. Pesan singkat nia mencoba mendatarkan suasana.
***
Alam tiba-tiba datang dalam kehidupan Nia, memberikan informasi mengenai kegiatan-kegiatannya di Bandung, begitu juga Nia di Yogyakarta, berkomunikasi menjadi suatu keseharian diantara keduanya, bahkan mengenai tugas kuliah seringkali mereka bertukar pikiran.
Setelah beberapa waktu kemudian, Alam mengutarakan maksud perasaanya. Tepat ketika hari ulang tahun Alam, Nia memberikan ucapan selamat atas hari lahirnya melalui pesan singkat di handphone, tanpa diduga-duga Alam mengutarakan keseriusan kepada Nia.
“Teh, ada keingginan terbesar saya tepat di hari lahir ini, saya bermaksud ingin mengutarakan keseriuasan dengan Teh Nia yaitu meminangmu”.
Nia tersentak, matanya terbelalak membaca pesan singkat dari Alam, “ini orang beneran bilang seperti ini, apa jangan-jangan hanya sekedar bercandaan semata.” Nia kaget karena dia tau Alam adalah asli orang Sunda sementara Nia asli orang Jawa, dia mulai berfikir apakah dia bisa diterima dikeluarganya Alam.
“untuk saat ini saya belum bisa mengambil keputusan, namun secepatnya saya akan memberikan informasi”, pesan singkat Nia kepada Alam.
***
Selang beberapa hari, Nia berfikir dan merenung sendiri dalam dunianya, tidak nyaman dengan semua ini, Nia memutuskan akan bercerita dengan ibunya. Ibu Nia seorang wanita bijaksana, penyabar dan penyayang, Ibu Nia tidak pernah memihak siapapun meski anaknya sendiri, jika memang anaknya salah maka tidak ada pembelaan jika memang benar-benar salah.
Libur semester telah datang disaat yang tepat, waktu yang tepat untuk pulang ke kampung halaman, “Aku ingin meminta pertimbangan ke Ibu, jika Ibu mengizinkan maka aku akan pertimbangkan tawaran dari Alam”, gumam nia.
Sesampainya dirumah, ketika waktu pagi sudah menghampiri, dapur mulai terlihat asap mengepul dari sudut panci, Nia mencoba mengawali pembicaraan dengan sang Ibu, namun masih saja kegelisahan di pikiran dan di dalam hatinya terus saja menganggu.
Kenapa perempuan Sunda bukan untuk lelaki Sunda. Kenapa larangan ini hanya untuk Jawa dan Sunda, kenapa tidak dengan suku-suku lain di tanah air. Nia menyadari bahwa konon katanya perkawinan antara Jawa dan Sunda akan mengakibatkan hal buruk menimpa pada pasangan ini selama hidupnya.
But who knows only God knows..!!!”. Sentak Nia dalam lamunan panjangnya. Nia mencoba menenangkan diri, teringat akan hadis yang pernah dia pelajari
“Perempuan itu dinikahi karena empat hal: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, atau karena agamanya. Pilihlah berdasarkan agamanya agar engkau beruntung”. (HR. Bukhari dan Muslim).
***
“Nduk…”, terdengar suara Ibu dari dapur memanggil, “dalem buk..”, Nia menyahuti dan langsung menuju dapur.
“Bu…, Nduk mau cerita, hemmmm sekarang lagi dekat dengan seseorang, namanya Alam dia pemuda asal Garut, sekarang sedang menyelesaikan kuliahnya di Bandung, jika Nia menerima dia apakah Ibu tidak mempermasalahkan karena dia orang Sunda?.”
“Ibu tidak mempermasalahkan kamu menikah dengan siapa, yang penting agamanya bagus, itu sudah cukup untuk menjagamu, namun Ibu hanya khawatir apakah keluarganya bisa menerima keluarga kita, menerimamu dari keluarga Jawa,” Ibu menjelaskan sambil meracik bumbu di dapur.
“Lalu kenapa orang-orang mempermasalahkan perempuan Jawa tidak boleh menikah dengan laki-laki Sunda,” gumam Nia penasaran dengan mitos yang ada.
“Tidak semua orang masih mempermasalahkan Nduk, saat ini memang bukan zamannya lagi mempermasalahkan ras dan budaya, hanya saja perlu kamu bicarakan dengannya, apakah keluarganya sama dengan keluarga kita yang tidak mempermasalahkan Jawa dan Sunda,” Ibu dengan tenang menjelaskan pada Nia.
“Kenapa orang-orang dulu mempermasalahkan pernikahan Jawa dan Sunda, Sunda juga masuk Jawa lho, Jawa Barat,” Nia masih bersikeras ingin mengetahui.
Ibu mengambil nafas panjang lalu menjelaskan kepada Nia kenapa mitos itu bisa lahir di tanah air ini, “Dahulu kala, Prabu Hayam Wuruk ingin memperistri putri Dyah Pitaloka dari Negeri Sunda, awal niat pernikahan itu adalah untuk mempererat tali persaudaraan yang telah lama putus antara Majapahit dan Sunda, namun didalamnya ada unsur politik yaitu untuk mengikat persekutuan dengan Negeri Sunda. Hayam Wuruk mengirimkan surat kehormatan untuk melamar Dyah Pitaloka dan upacara pernikahan dilangsungkan di Majapahit. Raja Sunda datang beserta permaisuri dan putri Dyah Pitaloka dengan diiringi sedikit prajurit, sesampainya Raja Sunda, Mahapatih Gajah Mada terbesit ingin menguasai Kerajaan Sunda. Gajah Mada ingin memenuhi Sumpah Palapa, sebab dari berbagai kerajaan di Nusantara yang sudah ditaklukkan Majapahit, hanya kerajaan Sunda lah yang belum dikuasai. Gajah Mada membuat alasan bahwa kedatangan rombongan Sunda adalah bentuk penyerahan diri Kerajaan Sunda kepada Majapahit. Hayam Wuruk menerima Dyah Pitaloka bukan sebagai pengantin, tetapi sebagai tanda takluk Negeri Sunda pada Majapahit.”
***
“Aku menyadari Bu.., kita berasal dari keluarga Jawa, lalu apakah permasalahan Nenek Moyang terdahulu dikaitkan dengan masa sekarang, tidak kah kita berfikir sejarah memang mencatatkan demikian, tapi perubahan pastilah ada.” Nia mencoba memberikan penjelasan apa yang sudah diketahui olehnya.
“Ibu tidak mempermasalahkan Jawa dan Sunda Nia, Ibu hanya khawatir apakah keluarga Alam mau menerima keluarga kita, coba Nduk tanyakan, apakah keluarganya tidak keberatan dengan masuknya Nduk ke keluarganya.”
“Baik Bu,” jawab Nia.
“Jika dia serius, Ibu titip pesan untuk segera datang ke rumah menemui Ayahmu, sebelum dia datang kerumah, minta pertimbangan dulu ke orang tuanya, jika orangtuanya mengizinkan, maka mudahlah dia meminangmu nak,” petuah Ibu kepada Nia.
“nanti Nia sampaikan ke Alam bu,” jawab Nia dengan senyum lesung pipitnya di sebelah kiri.
***

1 komentar:

  1. Sudah semacam garis alam atau apa kl saya perhatikan pernikahan orang jawa sama sunda kok tidak langgeng y Mbak, seandainya ada yg sampai tua didalam pernikahan itu terlalu banyak polemik #diskusi

    BalasHapus