Kamis, 19 Oktober 2017

Sang Bintang




Malam ini terhiasi penuh bintang di depan rumah pedesaan, kebiasaan di pedesaan yaitu setelah waktu isya’ berlalu, maka tiap warga akan masuk ke rumah masing-masing sambil menikmati televisi, malam ini aku ingin menikmati indahnya bintang, ingin menunjuk satu bintang di atas sana, beribu bahkan berjuta bintang terlihat kelap kelip sinarnya, semuanya berhamburan menyinarkan cahaya kecil tertangkap oleh mata. Teringat lagu “Antique dalam lagunya Satu Bintang”.
Mungkin hanya ada satu bintang yang dapat menghiasi hatimu
dan jangan pernah engkau siakan seseorang yang ada di hatimu
Pastikan hanya ada satu bintang yang selalu menyinari jalanmu
Hingga akhirnya kau sadari dirikulah yang ada di hatimu

Mungkin hanya ada satu bintang dan pastikan hanya ada satu bintang, yang mana..?, di atas sana berjuta banyak bintang bersinar, ketika aku menujuknya salah satu dari sekian juta apakah dia akan selalu menyinari jalanku dan hatiku. Hemmm, kalau tidak memilih apalah daya tidak ada perubahan jika memasrahkan tanpa berusaha, memandangi satu bintang, teringat akan perjuangan ini dalam mencari bintang hidup, memilih seseorang seperti halnya memilih satu bintang diatas gelapnya awan, setelah bintang dipilih tidak lama kemudian awan hitam bergeser ke arah satu bintang, sama seperti ketika seseorang memilih satu bintang pujaan hati, terkadang gelap datang menyelimuti, penyebabnya bisa bermacam-macam, karena dia tidak boleh memilihnya atau karena pilihanya sudah dipilih orang lain, atau lebih tepatnya memang belum jodohnya.
Jadi sudah siapkah untuk memilih satu bintang?
Sudah dipersiapkan apa yang seharusnya diperbaiki untuk mendapatkan satu bintang?
Sebab ku hanya bisa memilih dan mengusahakanmu, ku memilih satu bintang yaitu kamu.
Sejenak memandang bintang sambil menjuntai makna kepadamu, lihatlah sang bintang sedang mengintip di sela-sela khidupan manusia, mereka bersinar meskipun gelap menyelimutinnya. sebab apa dan mengapa. Dia tidak akan mampu bersinar jika tanpa gelap, selayaknya makhluk yg bernama manusia, dia tidak akan terlihat jika dia tanpa proses (jatuh, sakit, kecewa, patah hati, galau, sunyi) mungkin itu bisa dikatakan pada zona gelapnya, tapi disitulah proses pembentukan kepribadiannya dan tentunya pada saat nanti dia mampu bersinar. Meskipun hanya berkelip, tetapi itu sudah bisa sedikit membuat senyum bagi yang menikmati.
Satu bintang, apakah itu kamu?.

0 komentar:

Posting Komentar