Rabu, 18 Oktober 2017

Sebut Namaku bukan Gelarku

Namaku adalah sebuah nama, tertanam dalam sebutan panggilan manusia kepada sebuah nama, maka inilah nama, nama dari Ayah dan Ibu, takdir dengan nama tertera jelas di akta kelahiran, sebuah nama memiliki nama panggilan keluarga, nama panggilan sekolah, nama panggilan kesayangan dan nama-nama yang lain. Sebuah nama untuk nama menjadikan nama bernama.
“Nduk…, sebutan nama untuk anak jawa, peyebutan nduk memiliki karakteristik untuk memberikan kasih sayang secara tidak langsung, menyebutkan nduk dengan intonasi ringan dan pengucapan sederhana, efek dari sebutan sangat berpengaruh pada psikologi manusia. Seperti halnya seseorang menyebut nama lawan bicara dengan embel-embel dek, mas, mbak yu, kakang, akang, neng, teteh, cak, tentu sangat berbeda apabila penyebutannya hanya nama saja.
Budaya orang jawa dalam penyebutan nama sudah diajarkan sejak kecil, ketika anak pertama telah lahir, maka sekeluarga akan memanggilnya adek, selang beberapa tahun sang adek memiliki adik kandung, maka penyebutannya akan beralih menajadi mbak, mas, teteh, neng sesuai dengan budaya masing-masing wilayah.
Setiap keluarga sering kali kita jumpai orang tua memperkenalkan anaknya atau saudaranya terhadap saudara yang lain dengan sebutan embel-embel sebelum nama disebutkan, budaya tersebut sudah membudaya dimanapun berada, bahkan di luar Negeri sudah membudaya dengan sebutan Mr. Mrs. Sir, Madam. Kalau diruntut-runtut, budaya saling menghormati dengan sesama sudah menjadi kultur budaya tiap daerah bahkan sudah termasuk budaya di luar Negeri. Nah…, bagi yang memiliki ras jawa, sunda, bugis, batak, sasak pastinya memiliki budaya sebutan embel-embel sebelum nama disebutkan.
Sebutan embel-embel sebelum nama disebutkan, hampir setiap daerah menerima untuk dijadikan budaya, namun jika sebutan embel-embel nama diletakkan setelah nama sering kali memberikan kecanggungan terhadap masyarakat sekitar, bahkan seringkali terjadi ketidaknyamanan dalam berbaur dan beraktivitas dengan gelar di belakang nama, kalau diruntut dari awal mula gelar belakang nama diperoleh, memerlukan beberapa fase dan rentetan perjuangan, gelar belakang nama tidaklah semudah kita memberikan sebutan di awal nama.
Gelar di belakang nama. Adakah yang merasa bahwa semakin tinggi kedudukan seseorang, semakn tinggi gelar yang diperoleh, semakin tinggi pula tanggung jawab yang diemban, semakin tinggi tuntutan yang harus dia kerjakan, semakin tinggi tuntutan keadaan yang secara tidak langsung menuntutnya meski itu hanyalah satu apalagi dua gelar.
Sebut saja Mahasiswa, sang calon penyandang gelar belakang nama, dari nama pengucapannya mahasiwa yaitu siswa yang dimahakan oleh segudang ilmu dia pahami, terbesit ungkapan salah satu Mahasiswa yaitu bangga dengan statusnya sehingga terlena akan waktu untuk segera mencopot status mahasiswa di kepalanya, dengan berdalih masih belum sanggup mengemban tanggung jawab sebagai mantan siswa maha dengan gelar pendidikan yang diraihnya.
Melihat dari kacamata masyarakat pada umumnya, mahasiswa itu adalah pemuda pemudi memiliki banyak ilmu banyak informasi dan mampu membantu memecahkan permasalahan masyarakat, bahkan pernah ada suatu cerita seorang pemudi dengan gelar S.E.I diminta seorang ibu-ibu untuk membenahi komputernya karena tidak bisa di fungsikan, sang pemudi tidak bisa menolak secara langsung. Solusi pertama yang diambil adalah langsung tanya mbah google “cara menormalkan LCD agar menyala”, mbah google menjawab bahwa ada beberapa kabel yang menempel pada LCD dan CPU longgar, maka perlu dilepas terlebih dahulu lalu dikaitkan kembali.
Respon dari ibu tersebut, seorang pemudi dengan gelar S.E.I tidak lah susah untuk menyelesaikan permasalhan tersebut, dianggapnya seorang mahasiswa pasti punya solusi. Nah…, bagi yang berstatus mahasiswa atau mantan mahasiwa harus lebih bisa berbaur dengan masyarakat dan cerdik dalam menyelesaikan masalah.
Setelah beberapa minggu komputer ibu tersebut tidak bisa difungsikan kembali, dipanggillah si pemudi S.E.I. Alhasil komputer bukannya bisa nyala tapi lebih kacau kondisinya, respon dari si ibu tersebut membuat orang tersentak jika diperlakukan seperti itu, “hemmm masa mantan mahasiswa tidak bisa benerin komputer, kan anda pernah kuliah, seharusnya bisa dong?”. Nah lho…, kalau di posisi tersudut seperti itu apa gak krik-krik-krik.
Sebut Namaku bukan Gelarku, jika masuk lini masyarakat paling nyaman memakai nama sendiri, bukan nama gelar, nama jabatan, apalagi nama bapak. Sebab sebuah gelar yang didapat oleh mahasiwa itu hanyalah sebuah bonus atas usahanya dalam mempelajari ilmu, sementara gelar sebenarny adalah sebera besar dia mampu berkontribusi dengan masyarakat, memberikan pengaruh positif dan mampu memberikan edukasi terhadap setiap lini manusia.
Gelar…, huruf berderet sebelah nama akhir, meminta hak untuk dipertanggung jawabkan.  jangan panggil gelar belakang nama, cukup panggil nama atas pemberian kedua orang tua. Maka sebut namaku bukan gelarku, biar namaku bisa mengharumkan gelarku bukan gelarku mengharumkan namaku, karena keduanya memiliki arti berbeda dalam kehidupan.

4 komentar:

  1. Balasan
    1. hehe Mas Wijaya ikutan Upin-Ipin, gelar dibelakang nama sering kali menuntut tanggung jawab lebih. ^^

      Hapus
  2. Keren mba ilmi ...
    Memberi pemahaman baru,

    BalasHapus