Minggu, 01 Oktober 2017

Selamat sore…




Jemari menyapa sore dengan mu hitamku (laptop), alangkah indahnya sore ini jika ditemani dengan keluarga, rindu ku dengan mereka, ibu sang mata sayu.., ayah sang pelupa, kedua ponakan penuh keusilan si opal ndut dan neng ifti, suasana sore yang ku rindukan di rumah, bersama mereka mampu merefresh kerja otakku yang sering ter forsir dalam bertindak, tapi tak apalah namanya juga masih dalam proses berjuang, saat ini keluarga masih ku tinggalkan untuk beberapa waktu.
Di kota ini kota Yogyakarta, tempat dimana aku dididik karakter dan pola pikir, mampu survive ditengah-tengah kerumunan ras dan budaya, mencoba untuk selalu berjuang, menghargai antar sesama, sekaligus menjadi pribadi lebih baik dan mampu bermanfaat terhadap orang lain.
Aku dibesarkan dari keluarga sederhana, ayahku seorang guru dan ibuku murni seorang ibu rumah tangga, penghasilan sampingan keluarga adalah hasil padi di sawah, tinggal di desa dengan ritme waktu setelah waktu isya’ berlalu, maka sunyi sepi di desaku, tiap keluarga sudah masuk ke rumah masing-masing ditemani sang televisi, satu keluarga kumpul sambil menikmati tontonan televisi dan sambil berbincang-bincang mengenai aktivitas selama sehari, bertukar cerita, saling mendengarkan, dan memberikan arahan serta support pada masing-masing cerita.
Untk saat ini, semua hal yang telah terlewati sudah atas kehendakNya, merangkai yang sudah dirangkaikan mejadikan sebuah karya untuk bekal  menyambut hari esok, hari berikutnya, hari tantangan di kemudian hari.
Teringat pesan salah satu guru ketika masa SMA, usaha kamu lakukan hari ini akan berimbas pada hasil yang akan kamu dapatkan, jadilah sebagai sosok  terus berproses, jangan menuntut hasil tapi optimakan proses kamu jalani dan hasil tidak akan menghianati proses.
Sudah banyak langkah ini melangkah, berjalan, dan berlari…, hanya saja masih belum juga menemukan yang sudah dinanti lama, atau memang sudah hadir namun belum juga diraih, atau bisa jadi karena belum waktunya untuk diraih.
Persiapan, perbekalan, penambahan materi, pelatihan sudah banyak dilalui, mentalitas yang masih kurang memadahi telah menghambat jalurnya pijakan, sementara tubuh ini butuh pjakan untuk berdiri tegap dan mampu melakukan pengembangan potensi, aku pun  terus mengevaluasi apa yang salah dengan semua ini, kemanakah harus memperbaiki, dari mana harus dimulai, kemana harus bertanya, dan dimana harus menyesuaikan semuanya agar semuanya menjadi pantas dan layak untuk dipergunakan maupun difugsikan.
Kepada hati itu, ku terus mencoba, dimanakah seharusnya aku bertinggal, berproses, dengan siapa dan oleh siapa, sebab tak mungkin jika stagnan sendiri sembari menunggu, harus ada perubahan yang diraih, bukan hanya sekedar menerima, bukan sekedar mengikhlaskan, ada beberapa step yang harus terlewati, butuh kesabaran untuk meraihnya, butuh perjuangan untuk mendapatkannya, tak mudah memang mengkondisikan semangat agar selalu pada koridornya, koridor untuk selalu semangat mengubah perubahan menjadi lebih baik, apapun itu dan dari sudut manapun untuk menjadi lebih baik atas ridhomu.


Salam Lintas Pena

0 komentar:

Posting Komentar