Kamis, 05 Oktober 2017

Sepiring nasi putih dan sebungkus kerupuk



Part 1
Pagi ini seperti pagi hari sebelum-sebelumnya, ibu memasak di dapur dengan menggunakan perapian kayu untuk menanak nasi, merebus air, memasak lauk dan sayur-sayuran. Tidak ada kompor gas maupun gas elpigi, bagi masyarakat desa Binahong tidak lah suatu permasalahan yang dijadikan masalah. Masyarakat Binahong terbiasa hidup dengan kesederhanaan, bersahaja, dan saling membantu sesama tetangga.
Di awal bulan Oktober, pagi ini ada yang beda dengan raut muka Ibu Natiyem, sang ibunda Joko Walelo, “wonten nopo bu menawi ketinggal murung”, Tanya si Joko, “ora ono opo-opo le, ibu lho rung ono duwet kagem bayar sekolah, sarapane nganggo lawoh kerupuk yo le…”. Si Joko mengangguk tanpa bersuara sambil sedikit menetekan air mata, mengambil sepiring nasi putih dan sebungkus kerupuk. Dalam hati Joko ingin sarapan pagi dengan menu sarapan lengkap ada sayuran dan ikan, apalah daya krupuk pun jadi dibuat lauk untuk menemani sepiring nasi putih.
“Sesok dadi wong sukses yo le, pendungane ibu terus kagem awakmu le”, Ibu Natiyem sembari menghibur anaknya yang ikut larut dalam kemurungan. Joko menyadari Ibunya tidak berkerja sementara Ayahnya sudah pensiun dini, gaji dari pensiun tidak mencukupi segala kebutuhan keluarga, Joko anak terakhir dari ke-4 beraudara, penghasilan keluarga selain dari dana pensiun berasal dari hasil padi di sawah, itu pun kalau panennya bagus, jika hasilnya pas-pasan atau kurang bagus, hasil panen tidak bisa untuk dijual karena hanya cukup untuk kebutuhan keseharian.
Joko saat ini berusia 9 tahun, kelas 4 di SD Miftahul Ilmi, setiap hari dia berangkat menggunakan sepeda dengan jarak tempuh kurang lebih memakan waktu 25 menit dari rumah, bersama kawan-kawannya dia berangkat dari rumah jam 06.10, perjalanan yang dilewati sebelum masuk ke desa sebelah selalu melewati persawahan luas, banyak kabut menyelimuti ketika pagi dan tak heran jika tiba-tiba ditengah jalan ada ular lewat.
Joko adalah salah satu siswa yang tidak memiliki prestasi, namun karena keberuntungan atau karena kegigihan dia mampu masuk kelas favourite di kelas A, banyak teman-teman sekelasnya memiliki kecerdasan dan kepintaran dibandingkan dengan teman-temanya di kelas sebelah.
Suatu ketika, ketika pelajaran Matematika berlangsung, sang guru super kiler menakutkan, sang guru memberikan soal di papan tulis berjumlah 2 soal, 1 soal ditunjuk ke Herman, soal kedua, “Joko maju kedepan, selesaikan soal nomer 2”, dengan muka menciut dan rasa ketakutan pun muncul dari ekspresi yang dia berikan kepada teman-temannya, setelah Herman menyelesaikan, Joko maju ke depan dengan langkah sedikit terseret.
“Bapak mau ke ruang guru sebentar, Joko kamu selesaikan soal 2”, ungkap Pak Marno dengan suara ngebas, keras. Setelah Pak Marno keluar dari kelas, langsung heboh satu kelas memberikan arahan kepada Joko untuk membantu penyelesaian nomer 2, memang ada 2 soal pada papan tulis, tapi bagi mereka soal nomer 2 adalah soal jurang, soal yang sangat sulit dipecahkan, sifat dari Pak Marno akan melempar soal ke siswa yang lain jika jawaban yang diberikan tidak sesuai, jelas teman-teman tidak mau dapat soal tersebut. Akhirnya untuk mengamankan situasi  kondisi mendesak, semua kelas bekerjasama untuk memberikan komando dalam pengerjaan, ada beberapa siswa yang ikut maju membantu menyelesaikan, “woy… cepetan Pak Marno sudah diujung kelas XI”, teriak Firman sang rambut 5 inci. Joko langsung sigap, mata terbelalak, entah dapat kekuatan dari mana, seketika itu langsung ditulis jawaban soal nomer 2 setelah mendapatkan beberapa arahan dari teman-temannya, dan ketika Pak Marno masuk ke kelas, “Sudah selesai belum”, Tanya Pak Marno dengan suara keras, “Sudah pak”, jawab Joko dengan rasa ketakutan. Setelah beberapa menit di koreksi oleh Pak Marno, “Hemmm bagus-bagus, jawabanmu benar, nah ini saya beri pensil untuk Herman dan Joko”. Setelah pensil tersebut diberikan, terlihat mata teman-teman di kelas merasa terselamatkan, dan bahkan ada yang bergumam, “kapan pelajaran ini berlalu, jam istirahat kenapa tak kunjung juga berbunyi, sudah panas nih hawanya”.

0 komentar:

Posting Komentar