Minggu, 08 Oktober 2017

Sepiring nasi putih dan sebungkus kerupuk (Part 2)



Sesampainya dirumah Joko memandangi pensil dari Pak Marno, dengan penuh perhatian tanpa ada selingan mata joko terus saja memandangi dalam-dalam pena yang telah didapatkannya. “Kenapa Pak Marno bisa memberikan ini kepadaku, padahal itu bukan hasil murni dari pengerjaanku dan teman-teman juga tidak mempermasalahkan pensil ini diberikan kepadaku”, gumam joko dalam lamunannya.
Tiba-tiba joko langsung tersentak berdiri tegap. “Baiklah ini adalah awal aku memulai bahwa aku harus belajar lebih giat lagi, anggap saja ini sebuah pemberian doa yang diwujudkan melalui pensil ini”. Ungkapnya dengan serius dan semangat.
Setelah beberapa perjalanan waktu, joko mengalami perubahan akademik secara drastis, awalnya tidak pernah masuk 5 besar sekarang masuk 5 besar, tepat di angka rangking 5, tidak disangka-sangka si Joko anak Ibu Natiyem, si anak dengan seringnya sarapan Sepiring nasi putih dan sebungkus kerupuk mampu masuk 5 besar dan bisa mengejar kawan-kawannya yang lain.
Setelah berlangsungnya pelajaran pagi,tibalah waktunya semua siswa untuk istirahat 30 menit di tengah-tengah jalannya siang, Joko dan Herman duduk di area pelataran sekolahan sebelah timur sambil makan jajanan anak SD. “Joko kamu besok kalau sudah besar mau kuliah?”, herman tiba-tiba menanyakan masa depan yang masih sangat panjang. “Pasti, harus, aku harus kuliah, karena dengan pendidikan tinggi aku bisa merubah keluargaku menjadi lebih baik, aku tidak tau bagaimana caranya nanti, tapi aku harus kuliah”, joko menjawab penuh keyakinan, tanpa sedikitpun keraguan. “Kalau kamu mau kemana Herman ketika sudah besar nanti”, Joko membalikkan pertanyaan kepada Herman. “Aku mau masuk Pondok pesantren, mempelajari agama secara mendalam dan mau meneruskan perjuangan kakeku, kuliah juga penting tapi untuk posisi dikeluarga, aku perlu memperdalam ilmu agama agar Pondok pesantren kakek mampu mengeluarkan santri-santri berprestasi”, jawab Herman dengan suara sedang tanpa ada tersendak ucapanya. “Mulia sekali kau Herman.., semoga Allah meridhoimu kawan”. Respon Joko dengan memberikan antusias semangat.
Setelah berjalannya waktu Herman dan Joko lulus dari SD Miftahul Ilmi, setelah lulus SD herman langsung melanjutkan pendidikan di pondok pensantren, Joko melanjutkan sekolah di SMP dan SMA, mereka melanjutkan kehidupannya sesuai dengan misi masing-masing, percakapan mereka ketika masa-masa SD masing sangat tergiang di ingatan keduanya, sama-sama ingin melanjutkan pendidikan pada jalur berbeda, percakapan mereka sangat memberikan pengaruh pada apa yang diimimpikan di masa depannya, rancangan masa depan dirancang ketika masa-masa anak umbelen, yaitu masa masih terlihat polos.
Setelah 3 tahun di SMP dan 3 tahun di SMA, Joko mulai memikirkan untuk mengambil keputusan kemanakah dia akan melanjutkan pendidikan, waktu itu ada dua kota yang hendak dia pilih antara Surabaya dan Malang, sebelum dia memutuskan melanjutkan kuliah, Joko mulai mencari informasi mengenai berapa kira-kira biaya yang harus dikeluarkan jika kuliah di Universita A, B dan C, atau di kampus swasta. Ketika masa-masa mendekati akhir kelulusan, Sekolah SMA bekerja sama dengan beberapa link kampus-kampus ternama maupun swasta, bahkan sempat ada beberapa mahasiswa yang memperkenalkan kampusnya melalui kunjungan ke SMA, memberikan brosur dan memberikan info-info menarik terkait keunggulan universitas yang dipromosikan.
Setibanya dirumah setelah pulang sekolah, Joko memberikan brosur-brosur hasil dari penawaran-penawaran yang diterima. Ibu Natiyem terbelalak kaget dengan nominal biaya awal harus dikeluarkan ketika memasuki perkuliahan. “Ibu ndak sanggup le mbayar semene akehe, bayare kuliah mahal tenan le…”, Ibu Natiyem memucat dalam berbicara sembari membuka-buka tumpukan brosur. “Semua kampus rata-rata segitu bu, belum juga nanti butuh biaya hidup ten mriko”, Joko mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya. “atau gini aja bu, saya tak kerja mergawe dulu, nanti kalau sudah ada uang Joko baru kuliah”, joko mencoba untuk meminya izin. “Sesok yo le diomongke maleh, ibu tak rundingan karo mamasmu”, Ibu Natiyem mencoba metegarkan diri untuk menerima biaya-biaya yang harus di keluarkan.
Ke esokan harinya, kakak pertamanya datang ke rumah, Ibu Ngatiyem membicarakan kepada Mamas Nur, “Piye iki mas, adikmu ki mau kuliah, ibu rung ono dana, apa ditunda wae kuliah adikmu iki”, dengan suara pelan Ibu Ngatiyem menjelaskan. “Kalau bisa jangan bu, mangke mamas pados informasi mengenai kuliah ke teman-teman, bek menowo wonten kampus seng saget terjangkau”, Mamas mencoba memberikan solusi sementara.
Setelah satu minggu kedatangannya, Mamas datang ke rumah lagi dengan membawa brosur bertuliskan salah satu kampus di Yogyakarta dan hanya dua jurusan Keuangan dan Manajeme, sistem kampus wajib berasrama, “ini bu ada kampus yang bisa kita jangkau mengenai biaya, memang agak jauh namun ini lebih baik dari pada Joko menunda kuliah apalagi tidak kuliah”, Mamas menjelaskan sambil memberikan brosur dengan memberikan arahan. “Lha adikmu mana mau ambil ekonomi, SMAnya ja dia ambil jurusan bahasa, karena dia tidak memahami akuntansi”, Ibu Natiyem mencoba memberikan penjelasan. “Semuanya itu butuh proses pembelajaran bu, lama-lama nanti pasti bisa, memang awalnya susah, tapi pasti bisa kok dipelajari”, Mamas mencoba memberikan arahan kembali.
Sepulang dari sekolah, Joko tiba-tiba diberikan brosur dari Mamasnya, “ini dari mamas mu le”, Ibu Natiyem sembari mengasih dengan melihat raut muka Joko, “Nopo niki bu, kok ten Jogja, kok jurusannya ekonomi, Joko kan tidak suka ekonomi bu”, Joko mengelakkan isi brosur yang sedang dibacanya. “Ibu cuma bisa bilang le, ngapunten ibu belum bisa nyekolahke ing sampean karepake, menawi Joko purun ten Jogja, amergi Ibu mboten pengen Joko nunda kuliah, dipikirke ngeh le”. Ibu Ngatiyem meninggalkan Joko sendirian di ruang tengah keluarga.

0 komentar:

Posting Komentar