Senin, 09 Oktober 2017

Sepiring nasi putih dan sebungkus kerupuk (Part 3)



Awalnya Joko masih berat hati menerima keputusan yang disarankan oleh Mamasnya, namun gimana lagi, jika tidak kuliah mau jadi apa di rumah, pendidikan itu penting, meski berat hati Joko melangkahkan kaki ke Yoyakarta, namun Joko merasa yakin, pasti nanti ada jalan, meskipun Joko belum tau nanti mau kuliah ambil jurusan apa dan bagaimana proses belajar disana.
Kurang lebih perjalanan kereta memakan waktu 5 jam, akhirnya Joko sampai di Yogyakarta diantarkan oleh Mamasnya. “Nah kita sudah sampai di Yogyakarta, sesampainya di kampus nanti ada tes tertulis dan tes wawancara, Mamas yakin kamu bisa, gampang kok”. Mamas menjelaskan dengan memberikan keyakinan.
Setelah melaksanakan tes tertulis dan wawacara, selang satu jam sudah diumumkan hasilnya, “eh kok cepet sih pengumumannya, biasanya yang namanya pengumuman tes itu selang beberapa hari baru diumumkan”, gumam Joko. Selamat ya dek Joko, anda resmi diterima dikampus ini, selamat berjuang, “ungkap panitia pendaftaran sambil memberikan senyum ramah”. Setelah diumumkan lolos seleksi masuk, entah mengapa raut muka Joko semakin semrawut dan lecek, sementara Mamasnya sangat senang mendegar kabar bahwa adiknya lolos seleksi.
Masa orientasi pun telah dimulai, Joko mulai mengenal beberapa kawannya yang berbeda-beda daerah, dari mulai bahasa dan budaya, semakin beragam teman-teman yang dia miliki, Joko masuk kelas keuangan meskipun dia sangat lemah dalam menghitung, memilih jurusan keuangan karena di kampus swasta ini banyak yang memilih jurusan keuangan dan pastinya banyak kakak kelas mahir bisa mengajarkan dia dalam menyelesaikan tugas-tugas, jika ada tugas-tugas yang tak bisa diselesaikan banyak nara sumber yang bisa ditanya.
Kampus swasta berbasis asrama, jadi wajib bagi mahasiswa baru untuk berasrama, Joko mulai tidak betah lagi dengan kondisi di asrama, bukan manja atau terbiasa dengan hidup enak, keadaan yang semrawut, air sering macet dan mandipun antri dari jam 12 siang baru bisa masuk jam 21.00 malam, “sungguh sangat terlalu menunggu akan sebuah penantian air agar bisa terguyurkan ke tubuh ini”, gumam Joko sambil meledek ke arah teman-temannya”.
Pada satu titik fase kejenuhan, keuangan mulai menipis, Joko tidak bisa mencari sampingan sumber rizqi, karena peraturan di asrama tidak diperkenankan keluar asrama, ada jam-jam tertentu boleh meninggalkan asrama, itupun tidak lama, ingin minta tambahan uang saku, tak kuat hati Joko mengatakannya.
Sepiring nasi putih dan sebungkus kerupuk, jurus jitu untuk mengganjal perut jika keuangan sudah menipis, cacing-cacing perut  sudah mulai membuat gaduh, bunyi keroncongan sudah terdengar, maka jurus andalan dikeluarkan. “yang penting bisa menyambung beberapa hari, meski asupan gizi tidak mencukupi, Joko mulai menghibur diri sendiri.
Kuliah dalam kurun waktu 4 tahun bukanlah waktu yang lama jika dirasa lama dan bukanlah waktu cepat jika dirasa cepat, maka perlu adanya selingan waktu agar tidak terjadi kebosanan, meskipun sungguh sangat membosankan dengan hidup penuh monoton. Ketika semester akhir mahasiswa lama sudah dipersilahkan untuk memilih, boleh melanjutkan asrama maupun keluar dari asrama. Tanpa pikir panjag, Joko memilih untuk keluar dari asrama, memulai kehidupan di luar sembari bekerja untuk menyokong kebutuhan kuliah.
Tepat setelah 4 tahun, Joko Walelo lulus tepat waktu, ibundany dan mamas datang untuk memberikan selamat atas kelulusannya, sang bunda menangis haru, tidak menyangka anak bungsunya bisa selesai kuliah. Ibu Ngatiyem mengelus kepala sambil berkata, “Ibu tidak menyangka yo le, dulu pas cilik sarapanmu sering banget sarapan sepiring nasi putih karo sebungkus kerupuk, sak niki bocahe wes lulus kuliah, selamat ngeh le.., Ibu banga”. Di dalam hatinya Joko, “Joko masih sering bu makan sepiring nasi putih dan sebungkus kerupuk dan tetap disyukuri”.
Perjalanan seorang manusia terkadang berbeda dengan perjalanan-perjalanan pada umumnya manusia lainnya, buka sebera banyak dia banyak uang untuk meraih, namun seberapa esar kesungguhannya dalam mencapai misi yang diperoleh, bukan dari anak siapa dia berhak menyandang sukses, namun dari mana dia memulai proses, mau dan mampu untuk selalu memperjuangkan.

0 komentar:

Posting Komentar