This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Minggu, 26 November 2017

Dicari Diperjuangkan Diikhlaskan (Part 12)



Yudisium telah dilaksanakan oleh pihak Administrasi kampus, maka telah resmi bagi mahasiswa yang telah melaksanakan sidang, ada waktu jeda untuk sampai menuju wisuda. Keluarga sudah tak ada henti menanyakan siapa yang hendak akan aku kenalkan kepada keluarga. Menanggapi Alam masih mengatur agendanya di Bandung.
“Maaf Mas Alam, jika sudah ada waktu longgar, kapan bisa bersilaturahmi ke Surabaya?”. Tanyaku.
“Wah.., saya mau diajak ke rumahnya Mbak Nia ya”.  Balas dia.
“Jika Mas Alam sudah siap untuk ke rumah, dipercepat lebih baik”. Saranku.
“Saya bisa dua minggu lagi, bertepatan dengan tanggal merah”. Tangkas dia.
“Ok.., nanti saya yang menyesuaikan dengan agendanya Mas Alam saja”.
Selang setengah bulan, tiket sudah terbeli, persiapan untuk ke Surabaya sudah dipersiapkan dengan matang oleh kelaurga. Bandung Surabaya terlampaui dalam hitungan waktu 14 jam, entah seperti apa rasa capeknya Alam ketika di dalam kereta.
Ketika sampai di rumah, ponakan-ponakan kecilku menyambutnya dengan gembira dan ceria. Entah dia memiliki aura apa sampai membuat kedua ponakanku langsung nempel dan senang jika dekat dengan Alam. Keluarga memberikan respon positif kedatangannya. Aku merasa bahagia dan bersyukur, keluarg mau menerima Alam dengan segala keadaanya.
Hingga pada sebuah perbincangan antara orangtua dan Alam. “Mas Alam ini asli Bandung kah?, tanya ibu.
“Iya bu saya asli bandung, mohon maaf saya sama sekali tidak memahami bahasa jawa.” Ucap Alam.
“Tidak masalah nak, yang penting saling memahami satu sama lain, menggunakan bahasa Indonesia juga bisa”, saran ibu.
“iya bu”
Sampai pada diskusi hangat dan sedikit tersontak, ibu melontarkan beberapa pertanyaan mengenai seperti apa keluarga di Bandung. Alam menceritakan dengan dialegnya santun sopan dan bersahaja. Ibu terlihat menerima dengan baik apa yang disampaikan oleh Alam, hingga pada suatu pertanyaan yang membuat Alam tak bisa berkutik apa-apa.
“Nak Alam, Mbak Nia ini sudah selesai masa S2nya, dan segera wisuda buan depan, menurut Mas Alam baiknya kapan keluarga dari Bandung bisa kesini?” tanya ibu.
“ehmmm, saya belum bisa memastikan kapan bu, karena saya belum bisa memutuskan sendiri untuk mengambil keputusan, saya perlu mempertimbangkan dari keluarga, kalau dari saya insyaAllah sudah cocok dengan Mbak Nia, namun semua keputusan saya juga perlu meminta pertimbangan keluarga, sekiranya diperbolehkan saya ingin memperkenalkan Mbak Nia ke kluarga Bandung”.
Sempat hening sesaat, dan kami pun memahami apa maksud dari Alam menjelaskan demikian. Hingga diputuskan bahwa aku harus menemui keluarganya untuk berkenalan dan bersilaturahmi dengan keluarga Alam di Bandung.

Dicari Diperjuangkan Diikhlaskan (Part 11)



Hari hariku sudah mulai penyesuaian dalam segala kesibukan yang ada, lamunanku sudah teralihkan dengan aktivitas-aktivitas yang harus segera kukerjakan dan kuselesaikan. Terkadang masih teringat dengan apa yang pernah diungkapkan oleh Ansyar, tapi tak ada guna jika memikirkan hal tersebut, aku perlu memikirkan kembali jalan kehidupanku sendiri, kemanakah seharusnya kuberlabuh, sementara waktu tak pernah berhenti mempertanyakan “Kapan?”.
Tinggal satu minggu lagu siding akan berlangsung, fikiranku harus fokus, tak boleh beralih pada hal-hal yang membuatku berkurang semangat, doa terkasih dari kedua orantua mendukungku untuk maju, dukungan Alam mensupport untuk bisa melampauinya dengan semangat dan kerja keras.
Tepat hari Jumat pagi, tanda tangan ACC untuk maju siding sudah kudapatkan, ku berjalan melewati koridor untuk menju parkiran bawah gedung, sembari hatiku berdegup kencang karena merasa teramat bahagia mendapatkan persetujuan untuk siding, kuberikan kabar pada kedua orangtua, meraka ikut merasakan bahagia atas usaha kerasku sudah akan kudapatkan di depan mata, dan penyemangat untuk terus maju Alam, aku mengabarinya lewat pesan singkat tertuju kepadanya.
“Alhamdulillah..”, ucap syukurku
“Barakallah Mbak Nia, semoga ujiannya lancar dan diberkahi oleh Allah”. Pesan singkat Alam diiringi doa.
“Aamiin, terimakasih Mas Alam”.
Tinggal selangkah lagi, tinggal sedikit lagi masa belajarmu di Universitas Hijau akan selesai, keberhasilan ini tak luput dari berbagai dukungan, orang tua, keluarga besar, Alam dan tidak bisa kupungkiri Ansyar juga memiliki beberapa pengaruh ketika aku awal melangkah untuk melanjutkan Magister, sudah kuikhlaskan semua, semoga menjadikan semuanya indah pada waktunya nanti.
***
Sidang telah terlampaui degan hasil Memuaskan, ada beberapa revisi yang harus di selesaikan, karena tak afdhol jika mahasiwa tanpa adanya revisi, siding telah terlampaui dengan siding terbuka. Ada beberapa teman mengikuti sidang untuk memberikan support dan menjadikannya pelajaran untuk kedepannya sebelum mereka melangkahkan kaki menuju sidang.
“Ayah.., Ibu.., Alhamdulillah anakmu bisa menyelesaikan Magister atas doamu, terimakasih atas doa yang tak pernah habis kalian kucurkan kepadaku, hasil kerja kerasku ini untukmu, untuk kasih sucimu kepadaku, terimalah kebanggaanku hari ini, aku mampu aku tegap aku sigap hanya karena doa sucimu telah terlantunkan dalam balutan kasih tulus tak terhenti. Terimakasih Ayah Ibu”. Ungkapku dalam hati setelah penguji mengumumkan atas keberhasilan sidang yang telah berlangsung.
“Selamat Mbak Nia, saya ikut bangga dan bahagia, semoga berkah ilmunya”. Pesan singkat Alam serasa membuatku dikeliingi oleh bunga-bunga mawar indah.

Dicari Diperjuangkan Diikhlaskan (Part 10)



Setelah pertemuanku dengan Ansyar berlalu, sedikit memberikan kekecewaan dengan desakan untuk segera menyelesaikan masa belajarku, meskipun itu merupakan dorongan baik agar aku segera selesai tanpa harus menunggu ketika masa akhir periode. Hati semakin tak searah dengan pemikiran, sementara emosional memimpin keputusan dalam memberikan sebuah arahan untuk selalu berkata “tidak, bukan dia”.
Sosok Alam yang entah dari mana dia mencuri perasaan untuk bisa memberikan pengaruh banyak hal, tidak membutuhkan waktu lama untuk mampu beradaptasi dengan pola pikirnya, meski dia tak ada hadir di sini, penyemagatnya sudah cukup menguatkan langkahku maju segera untuk menyelesaikan yang seharusnya harus segera kuselesaikan.
Beberapa kali Ansyar memberikan pesan untuk menanyakan kembali bagaimana keberlanjutan penelitian yang sedang aku teliti, perhatiannya bukan memberikan ketenangan hati namun menjadikanku semakin terusik, aku memahami perhatian dia untuk bisa mendorongku segera menyelesaikan, tapi bukan seperti itu, selayaknya aku dikejar oleh pemburu untuk segera berlari kencang tanpa jeda waktu menghela nafas.
Sampai pada titik kekesalan terasa, setiap pesan singkat darinya tak pernah kujawab, meski hanya sekedar sebuah jawaban “iya, atau sekedar terimakasih”.
“Mbak Nia, mohon maaf kenapa sangat susah untuk dihubungi, apa yang sedang terjadi di sana?, apakah Mbak Nia baik-baik saja?”. Pesan singkatnya memburu pertanyaan.
“Kabarku baik-baik saja, namun perasaanku kepadamu semakin tidak membaik”, kujawab dalam hati tanpa kumengirim pesan balik.
***
Tiga bulan berlalu setelah pertanyaan-pertanyaan Ansyar menghantui untuk mengetahui keadaanku sebenarnya, pikiranku terforsir dan sudah habis penuh untuk segera menyelesaikan tugas akhir, pegerjaan tinggal sedikit lagi, keyakinanku untuk bisa segera mengikuti siding sudah semakin matang, dan pastinya aku akan lebih ringan melangkah jika semuanya sudah bisa kulalui.
Pesan singkat dari Ansyar masuk dengan memberikan gambar undangan dan bertuliskan nama dia dengan seorang wanita berasal dari Makassar, sama-sama ras Bugis. Awal pesan bertuliskan permintaan maaf atas selama ini karena tidak bisa menunggu terlalu lama.
“Mohon maaf Mbak Nia, saya sudah melakukan yang saya bisa “Dicari Diperjuangkan Diikhlaskan”, saya sudah berusaha mencari seseorang untuk bisa saya jadikan ibu bagi anak-anak, saya sudah memperjuangkan agar Mbak Nia bisa masuk dalam keluarga saya dan berusaha meyakinkan keluarga untuk bisa menerima Mbak Nia, namun apalah daya jika Allah berkehendak lain, saya mengikhlaskan Mbak Nia untuk orang lain, saya mengikhlaskan Mbak Nia untuk seseorang yang lebih baik, dan saya minta tolong ikhlaskan saya. Semoga Allah meridhoi setiap langkah kita. Wassalam”.
Pesan singkat dari Anyar sungguh tiba-tiba membuatku tercenggang, tinggal satu minggu lagu persetujuan untuk melakukan siding akan kudapat, bertepatan dengan kabar pernikahannya sudah di depan mata, waktu dan tempat sudah tercantum dengan jelas bahwa dia benar-benar akan menikah, yang pernah dia ungkapkan bahwa ingin membersamai denganku kandas tak tersisa, entah aku harus bahagia atau sedih, hanyalah sebuah ucapan syukur mampu terucap untuknya.
“Alhamdulillah.., Barakallah”. Pesan singkatku tertulis untuknya.
“Tak mampu ku berucap banyak kata, aku harus kuat, aku harus mampu melewati, bukankah memang seharusnya seperti ini keadaanya”, gumamku.
“Akupun masih belum yakin apakah bisa bersanding dengannya, dan memang inilah jawaban dari Allah untukku dan untuk Ansyar, memang lebih baik seperti ini, cukuplah aku mengenal dia sebagai sosok pekerja keras dan seseorang yang memiliki kepribadian baik, tak perlu aku mengotorinya dengan kekesalanku sendiri, cukup doa untuk dia dan keluarganya, semoga dia bahagia dan Allah senantiasa memberkahinya. Aamiin”. Ungkapan doaku dalam lamunan kesendiran dalam sudut kamar terdiam membisu.

Dicari Diperjuangkan Diikhlaskan (Part 9)



Memang tak bisa dipungkiri, hati juga bisa memilih untuk bersikap baik kepada seseorang. Kebaikan, perhatian bukan hanya diberikan sekedar pembelajaran maupun info untuk mengikuti pelatihan seminar dan semacamnya, hati butuh untuk ditenggok, dijengguk, ditanya “bagaimana aktivitasmu hari ini?, adakah kesulitan yang dirasa, ada yang bisa dibantu?”, pertanyaaan sederhana namun mampu meluluhkan hati seorang sedang dalam perjuangan.
Jenuh dengan rutinitas telah menyita separuh hari untuk duduk tenang, memandangi layar komputer dan sesekali berjumpa dengan calon SDM baru untuk menyaring masuknya karyawan, terkadag hati ini mengeluhkan untuk segera beranjak pada posisi lain.
Semester 3 telah menghampiri, proposal penelitian sudah terbayang-bayang untuk dijadikan sebuah penelitian akurat, manajemen waktuku sudah semakin terkikis oleh pekerjaan kantor, sementara tugas kuliah tak mau kalah untuk segera diselesaikan.
Ansyar yang tak ada tanya mencari kabar, tiba-tiba dia muncul kembali dengan beberapa pertanyaan menyudutkan dalam masa statusku, mahasiswa tingkat akhir. Ansyar datang ke Jogja untuk menghadiri acara pernikahan saudaranya, dia mengajak bertemu untuk mengetahui bagaimana keadaanku sekarang. Pertemuanku dengannya tak lagi bersama ibunya, saudara, atau dengan temanku. Kita bertemu dan berbincang di Islamic Book Fair, tempat pertemuanku dengannya pertama kali.
Perbincangan kita sungguh sangat datar, dia meananyakan bagaimana kuliahku selama ini. “Sudah sampai mana penelitiannya, penelitian yang diteliti apakah datanya sulit untuk diteliti, jika susah lebih baik mencari penelitian yang mudah untuk segera diselesaikan”. Saran Ansyar dengan ambisius.
“Penelitian yang diambil sekarang lebih baik dari pada rancangan penelitian sebelumnya, meskipun ini juga memerlukan banyak waktu”. Tangkasku dengan keyakinan.
“Lalu apakah bisa segera diselesaikan dalam semester ini?”. Desak dia
“Saya masih berusaha menyelesaikan, namun tidak bisa menjanjikan”. Jawabku.
“Kenapa tidak bisa diselesaikan semester sekarang?”. Tanya dia
“Saya di luar kampus memiliki tanggung jawab kerja, urusan kuliah saya fokuskan untuk sabtu dan minggu, selain itu ketika malam saja bisa mengerjakan tugas akhir”.
“Kenapa tidak cuti kerja, atau meminta dispensasi waktu untuk mengerjakan urusan kuliah dan sementara waktu off dari pekerjaan”. Ansyar sedikit mencoba memberikan solusi.
“Sepertinya tidak bisa, karena di kantor memiliki kebijakan untuk bekerja dalam 8 jam kerja kecuali hari libur”. Jawabku dengan menjelaskan adanya peraturan mengikat.
“Baiklah, menurut Mbak Nia sendiri, apakah bisa selesai semester ini tidak”. Desak dia
“Maaf saya tidak bisa janji, dan kemungkinan besar semester depan baru bisa selesai”. Memberikan jawaban dengan sedikit amarah.
Meyudutkan untuk segera menyelesaikan TA membuatku berfikir ulang untuk menerima kehadirannya ke dalam keluarga. Kita memang perlu mendisiplinkan diri sendiri tapi harus dilihat dulu seperti apa posisinya saat ini, desakan dia untuk segera menyelesaikan kuliah membuatku berfikir kembali, “sepertinya bukan dirimu yang kucari dan bisa menemaniku dalam perjalanan kehidupan baru.” Ungkapku dalam hati.

Sabtu, 25 November 2017

Dicari Diperjuangkan Diikhlaskan (Part 8)



Dua bulan berlalu setelah perkenalanku dengan Alam, sempat beberapa kali Alam memberikan info mengenai kesibukannya di Bandung, sementara Ansyar sangat rajin mengirimkan artikel maupun informasi-informasi menarik terkait acara seminar atau acara-acara lain.
Keduanya memang tidak berwujud di sini, padahal perwujudan juga perlu untuk diperjuangkan, menimbang dua hati yang sama-sama memiliki kepribadian baik, sehingga perasaan mampu terbolak balik, sebab hari ini belum tentu dengan hari esok.
Terkadang firasat memberikan pesan terselubung untuk terungkap di kemudian hari, ketika penutupan seminar terlihat ada yang sangat ingin disampaikan, hingga pada suatu diskusi ringan dia menyampaikan maksud kedatangannya kembali, sesuatu yang ingin disampaikan pada waktu yang tepat dan dengan orang yang tepat.
“Saya ingin menyampaikan sesuatu alasan menghubungi Mbak Nia lagi, meskipun kita sangat sebentar untuk  awal mengenal”, pesan singkat dia melalui smartphone.
“Apa yang ingin Mas Alam sampaikan, silahkan dituangkan saja apa yang seharusnya disampaikan?”. Ucapku.
“Jika diperkenankan saya ingin mengenal lebih jauh Mbak Nia dan keluarga”. Pinta dia.
“Mas Alam serius?, perlu Mas ketahui sebelumnya saya bukan asli orang Jogja, saya asli Surabaya yang orang lain memandang bahwa Surabaya adalah kota keras begitu juga orang-orangya namun tidak semua penilaian demikian”. Tangkasku.
“Saya sudah memahaminya, itu bukan menjadi masalah, namun yang saya pikirkan apakah saya bisa diterima di keluarga Mbak Nia”. Ungkap dia.
“Memang masih banyak mitos beredar dengan sangat membetengi bahwasanya gadis Jawa tidak boleh menikah dengan Pria Sunda, namun itu hanyalah mitos nenek moyang kita dahulu, perubahan zaman sudah menjadi lebih baik, jangan membetengi diri karena sejarah mencetak kekecewaan orang Sunda terhadap Jawa”. Ulasanku sedikit memaparkan sejarah.
“Lalu bagaimana Mbak Nia, apakah saya diizinkan untuk lebih mengenal Mbak Nia dan Keluarga?”. Tanya dia.
Jemariku mulai kebingungan arah untuk mengetik huruf, dalam benak masih sedikit terbesit Ansyar, meskipun Ansyar entah kemana tak ada kabar kejelasan untuk kepastian.
Bismillah kujawab, “Iya silahkan, namun saya harap jika memang Mas Alam serius segera temui Ayah saya”.
“InsyaAllah Mbak nanti saya agendakan”.
Intensitas percakapan dan diskusi dengan Alam memberikan pengaruh pada simpati hati untuk mulai menimbang dan memikirkan, Ansyar sudah entah kemana tak ada kejelasan untuk memastikan, hati pun masih saja tak mau menerimanya, sementara Alam datang untuk mengajak hati mau memberikan ruang untuknnya. Terkadang ketika tugasku sudah bertumpuk tak tau menahu ingin diapakan, sementara deadline tugas sudah esok pagi harus terkumpul di meja Pak Dosen. Alih-alih meminta bantuan sang penerjemah dan sang penolong Mas Alam, memang perlu adanya koreksi kembali atas apa yang sudah dia kerjakan, namun itu sudah sngat cukup membantu untuk menyegerakan dalam pembuatan review jurnal