Minggu, 19 November 2017

Dicari Diperjuangkan Diikhlaskan (Part 1)




Ribuan dan jutaan manusia di pelataran bumi, mencari, bertemu, lalu berjuang untuk mendapati sepasang tulang rusuk yang telah dijanjikan oleh Nya, menjadikan dia sosok pendamping hidup dan menjadi penuntun hati untuk semakin dekat kepada Nya. Ada sesuatu yang menganjal ketika mendengar cerita dari kawan mengenai keseriusan seorang kekasih, apakah memang sudah cukup hanya berkata “just the name of Allah”, untuk merayu sang kekasihnya, bibrikan, calon istri, calon pacar, dan calon-calon yang lain.
Hidup penuh dengan perjuangan, berjuang menjalani, bertahan, bersabar, mengikhlaskan dan tidak menuntut keadaaan. Hidup akan menjadi benar-benar hidup jika hidup penuh dengan cinta, maka apakah hidup hanya ada cinta, lalu bagaimana dengan keterpurukan, kesedihan sampai berdarah-darah, kegelisahan, kekecewaan. Hidup itu soal rasa bagaimana kita merasakannya, perjalanan bagi setiap manusia memiliki lika-liku masing-masing, cerita yang tak sama, lika-liku kehidupan berbeda dan tentu hasil berbeda pula.
Sore itu, aku melihat seorang laki-laki sedang berjalan ke arah stand baju yang sedang kujaga dengan Mbak Ratih, dari jarak beberapa meter terlihat arah pandangan ingin segera menuju ke stand. Sesampainya di depan stand, tak segan-segan dia berucap mengenai produk baju yang sedang terpanjang bederet di atas dan di pinggir-pinggir pembatas stand, dengan bahasa khasnya dia berbicara ala Bugis lalu di tengah-tengah perbincangan, dia memperkenalkan diri. Namanya Ansyar, pemuda berasal dari Makassar baru saja menyelesaikan Magister sekaligus owner kaos kreatif. Saat itu aku baru saja lulus Sarjana di salah satu kampus swasta di Yogyakarta, karena belum memiliki pekerjaan, ada tawaran dari dosen untuk menjaga stand baju di Islamic Book Fair.
Ansyar terlihat penasaran dengan stand kaos bertemakan design islami, mulailah dia bertanya pada Mbak Ratih. “Mbak apakah ini design sendiri, yang punya stand siapa ya? Apakah produksinya di Yogyakarta atau di kota lain, boleh dong informasinya mengenai proses pembuatan kaos ini?”, pertanyaan panjang kali lebar ditambah kuadrat lalu dikalikan, “cerewet banget ini orang”, gumam ku. Karena raut mukaku sudah tidak ramah lingkungan, temanku menjawab semuanya dengan sumber pertanyaan yang dia sodorkan, temanku menjelaskan bahwa stand ini milik dosen kita, dalam kurun waktu satu minggu kita diamanahi untuk menjaga stand ini, mengenai proses pembuatan kaos, kami kurang mengerti proses pembuatannya dari mana, kami dapat kaos-kaos ini sudah siap untuk dipasarkan.
Setelah dia cukup puas mendapatkan informasi, maka disodorkannya kartu nama yang berakhiran gelar S.E.I, M.E.I. sekaligus owner kaos kreatif, “Beuhhh ni anak sudah Magister penggusaha pula”, sentak Mbak Ratih sambil melototin matanya ke arahku, terlihat Ansyar senyum antara bangga dan senang. “Ansyar Kuliah dimana?”, tanya Mbak Ratih”. Sambil senyum ramah dia menjawab, “saya lulusan dari Universitas Biru, kalau Magister saya lulusan dari Universitas Hijau”. Aku sedikit curiga ketika dia menyebut Universitas Biru dan di tengah-tengah perbincangan kita, ternyata dia adalah temannya Adek Mbak Ratih, lebih sontaknya lagi dia tinggal tidak jauh dengan kontrakan yang kuhuni, “beuh dunia ini sempit sekali ya,” gumamku. Setelah beberapa menit, akhirnya dia meninggalkan stand kami dengan penutupan diskusi, “jangan lupa add facebook saya ya, biar kita bisa sambung silaturahmi dalam bisnis”, ucap dia.
Setelah beberapa menghilang dari peradaban dunia, ketika aku sudah masuk dunia kerja di salah satu LSM Yogyakarta, tidak sengaja kumelihat postingannya di facebook mengenai prestasi dia yaitu “Finalis Usaha Kecil Menengah (UKM) Termuda di Makassar, UKM yang diambil yaitu pembuatan kaos motivasi yang dipasarkan melalui sosial media dan berbagai lingkup jaringan pertemanan di setiap kontak hanphone. Kuberikan komentar, “sukses kawan”. setelah komentar tersebut kulontarkan, tidak lama setelah itu dia chat secara pribadi, “Mbak maaf, Anti yang waktu itu jaga stand di GOR UNY, boleh saya minta nomer kontak Anti untuk menjalin silaturahmi dan bisnis”. Dahiku mengkerut dan mulai bertanya-tanya, kenapa dia menanyakan hal ini, apa urusannya, “hemmm kasih gak ya”, gumamku, setelah berfikir lama dan mempertimbangkan atas permintaanya, aku memberikan kontakku lewat pesan di facebook.
Tidak kurang dari satu minggu pesan pribadi muncul dan tertulis di bawah pesan bertuliskan nama Ansyar, dia menyapa dengan berucap “Assalamu’alaikum, Mbak Nia kesibukannya apa di Jogja?”. Awalnya sedikit curiga atau memang benar firasatku sedikit mengganjal, baru berjumpa dua kali di GOR UNY dan di Warnet dekat kontrakanku, perjumpaan di Warnet saat itu aku bersama sahabatku ke warnet untuk mengurusi Blog dan tepat ketika aku mau masuk membuka warnet tak sengaja berpapasan lansung dengan Ansyar.
Selang beberapa jam aku membalas pesan dari Ansyar. “Wa’alaikumussalam, kesibukan saat ini saya bekerja di LSM Yogyakarta”, pesan singkatku. Perjalanan pesan singkat masih sering berlanjut, terkadang dengan isi pesan motivasi atau informasi mengenai seminar-seminar dan tausyiah bagus untuk dibaca. Ansyar memang seorang keturunan Bugis asli, meskipun demikian dia sudah lama di tanah Jawa, sejak kecil dia sekolah di Madrasah Muallimin Muhammadiyah dan menyelesaikan Magister di Yogyakarta, sudah tentu dia memahami beberapa karakter orang jawa dan bahasa orang jawa kecuali bahasa jawa kromo.

0 komentar:

Posting Komentar