Minggu, 26 November 2017

Dicari Diperjuangkan Diikhlaskan (Part 10)



Setelah pertemuanku dengan Ansyar berlalu, sedikit memberikan kekecewaan dengan desakan untuk segera menyelesaikan masa belajarku, meskipun itu merupakan dorongan baik agar aku segera selesai tanpa harus menunggu ketika masa akhir periode. Hati semakin tak searah dengan pemikiran, sementara emosional memimpin keputusan dalam memberikan sebuah arahan untuk selalu berkata “tidak, bukan dia”.
Sosok Alam yang entah dari mana dia mencuri perasaan untuk bisa memberikan pengaruh banyak hal, tidak membutuhkan waktu lama untuk mampu beradaptasi dengan pola pikirnya, meski dia tak ada hadir di sini, penyemagatnya sudah cukup menguatkan langkahku maju segera untuk menyelesaikan yang seharusnya harus segera kuselesaikan.
Beberapa kali Ansyar memberikan pesan untuk menanyakan kembali bagaimana keberlanjutan penelitian yang sedang aku teliti, perhatiannya bukan memberikan ketenangan hati namun menjadikanku semakin terusik, aku memahami perhatian dia untuk bisa mendorongku segera menyelesaikan, tapi bukan seperti itu, selayaknya aku dikejar oleh pemburu untuk segera berlari kencang tanpa jeda waktu menghela nafas.
Sampai pada titik kekesalan terasa, setiap pesan singkat darinya tak pernah kujawab, meski hanya sekedar sebuah jawaban “iya, atau sekedar terimakasih”.
“Mbak Nia, mohon maaf kenapa sangat susah untuk dihubungi, apa yang sedang terjadi di sana?, apakah Mbak Nia baik-baik saja?”. Pesan singkatnya memburu pertanyaan.
“Kabarku baik-baik saja, namun perasaanku kepadamu semakin tidak membaik”, kujawab dalam hati tanpa kumengirim pesan balik.
***
Tiga bulan berlalu setelah pertanyaan-pertanyaan Ansyar menghantui untuk mengetahui keadaanku sebenarnya, pikiranku terforsir dan sudah habis penuh untuk segera menyelesaikan tugas akhir, pegerjaan tinggal sedikit lagi, keyakinanku untuk bisa segera mengikuti siding sudah semakin matang, dan pastinya aku akan lebih ringan melangkah jika semuanya sudah bisa kulalui.
Pesan singkat dari Ansyar masuk dengan memberikan gambar undangan dan bertuliskan nama dia dengan seorang wanita berasal dari Makassar, sama-sama ras Bugis. Awal pesan bertuliskan permintaan maaf atas selama ini karena tidak bisa menunggu terlalu lama.
“Mohon maaf Mbak Nia, saya sudah melakukan yang saya bisa “Dicari Diperjuangkan Diikhlaskan”, saya sudah berusaha mencari seseorang untuk bisa saya jadikan ibu bagi anak-anak, saya sudah memperjuangkan agar Mbak Nia bisa masuk dalam keluarga saya dan berusaha meyakinkan keluarga untuk bisa menerima Mbak Nia, namun apalah daya jika Allah berkehendak lain, saya mengikhlaskan Mbak Nia untuk orang lain, saya mengikhlaskan Mbak Nia untuk seseorang yang lebih baik, dan saya minta tolong ikhlaskan saya. Semoga Allah meridhoi setiap langkah kita. Wassalam”.
Pesan singkat dari Anyar sungguh tiba-tiba membuatku tercenggang, tinggal satu minggu lagu persetujuan untuk melakukan siding akan kudapat, bertepatan dengan kabar pernikahannya sudah di depan mata, waktu dan tempat sudah tercantum dengan jelas bahwa dia benar-benar akan menikah, yang pernah dia ungkapkan bahwa ingin membersamai denganku kandas tak tersisa, entah aku harus bahagia atau sedih, hanyalah sebuah ucapan syukur mampu terucap untuknya.
“Alhamdulillah.., Barakallah”. Pesan singkatku tertulis untuknya.
“Tak mampu ku berucap banyak kata, aku harus kuat, aku harus mampu melewati, bukankah memang seharusnya seperti ini keadaanya”, gumamku.
“Akupun masih belum yakin apakah bisa bersanding dengannya, dan memang inilah jawaban dari Allah untukku dan untuk Ansyar, memang lebih baik seperti ini, cukuplah aku mengenal dia sebagai sosok pekerja keras dan seseorang yang memiliki kepribadian baik, tak perlu aku mengotorinya dengan kekesalanku sendiri, cukup doa untuk dia dan keluarganya, semoga dia bahagia dan Allah senantiasa memberkahinya. Aamiin”. Ungkapan doaku dalam lamunan kesendiran dalam sudut kamar terdiam membisu.

0 komentar:

Posting Komentar