Minggu, 19 November 2017

Dicari Diperjuangkan Diikhlaskan (Part 2)

Tak lagi berjumpa dan bersuara secara kasat mata, jarak membentang jauh di antara pulau yang berbeda, memposisikan tubuhku ini sangat jauh dengannya, adat dan budaya berbeda. Masih terniang akan tawaran yang sempat kau tanyakan, bisik hati ingin menerima namun akalku selalu berulang berfikir untuk pertimbangan jarak jauh membentang. Tawaran akan keseriusan yang telah kau berikan masih belum bisa terjawab dengan pasti.
Perjumpaanku denganmu memang sungguh sangat singkat, kau berucap “semoga perjumpaan kita yang singkat ini mampu menjadikan tali ikatan keberlanjutan yang diridhoi.” Aku sangat faham maksud tulisan ini, setelah beberapa kalimat keseriusan kau berikan, menjadikan hati dan pikiranpun tak tenang, sementara jeda waktu untuk jawaban hanya satu bulan. Pesan singkat terakhirmu, “semoga segera menemukan pencerahan, saya tunggu sampai akhir februari”. tulisan ini membuatku tak bisa berhenti memikirkan dan mempertimbangkan.
Sudah mendekati satu bulan penuh yaitu sudah masuk akhir februari, masih juga belum memiliki keyakinan jawaban, tak kuasa membawa beban sendiri, ku putuskan untuk bercerita melalui telephone genggam kepada kedua orang tua mengenai keseriusan seorang pemuda asli Bugis. Awal mula Ibu tersontak kaget karena seseorang yang sangat jauh di beda pulau mengiginkan anak gadisnya, terlihat raut muka Ibu kurang menyetujui, sementara Ayah memberikan hak sepenuhnya kepada ku untuk mengambil keputusan. Ibu mempertimbangkan jika aku menerima, pasti akan tinggal disana dan meninggalkan rumah, Ibu hanya bersama Ayah.
“Neng, jauh banget dia berasal, apakah dia ada saudara di Jawa atau di Yogyakarta?”, tanya Ibu penasaran.
“Dia ada saudara di Yogyakarta, saudara dari Bapaknya”. Jawabku singkat.
“Kalau memang dia sudah jodoh, Ibu tidak bisa menghalangi, hanya saja coba difikirkan kembali, karena watak dan karakter kita jelas berbeda”, penjelasan Ibu masih mengisyaratkan berat hati untuk melepas anak gadisnya.
“Neng juga masih bimbang Bu, belum menggenal betul karakter, watak dan sikap dia, namun Neng terenyuh dengan keseriusannya untuk melangkah ke depan, salut dengan kerja kerasnya membangun usaha”. Aku menjelaskan dengan sedikit memihak.
“Kalau Ibu tidak mempermasalahkan mau menikah dengan siapa, Ibu berharap Neng mau menemani ibu di masa-masa tua, merawat dan menjaga Ibu. Sudah terlalu lama kamu merantau nak, sudah terlalu lama meninggalkan Ibu”. Tangkas Ibu.
Tersentak hati ini untuk diam sejenak mencoba berfikir dan berfikir kembali, secara garis besar kedua orangtua tidak mempermasalahkan asal seseorang untuk dijadikan sebagai menantu, hanya saja Ibu berharap sang menantu bisa diajak tinggal dengan Ibu dan Ayah atau jarak tempat tinggal tidak sampai keluar pulau, masih berada di jalur Jawa.
“Nanti Neng coba tanyakan ke Ansyar Bu, kalau dari cerita tentang usahanya, dia sangat berat hati meinggalkan kota kelahiran dan akan sangat disayangkan jika dia ke Jawa meninggalkan usaha yang sudah dirintis.” Jawabku.
Setelah satu bulan berlalu, akhir Februari telah tiba. Pesan singkat masuk dan bertulisan sang pengirim Ansyar.“Assalamu’alaikum, Mbak Nia bagaimana kabarnya?, Alhamdulillah sekarang sudah masuk akhir februari, apakah sudah menemukan pencerahan?”.
Perasaanku campur aduk, apa yang mesti ku jawab, apa yang harus ku jelaskan, untuk sampai saat ini masih saja aku masih belum bisa menjawabnya, hatiku mash bimbang, namun hal ini harus segera di pastikan tapi kedua fungsional otak dan hati masih saja tidak searah untuk satu jawaban, “ah…, sudahlah aku binggung, dijawab apa ya..?, hemm apa iya saja, atau ku diamkan saja”. Dengan alibi ala melarikan diri dari rasa kebinggungan aku membalas pesan Ansyar. “Wa’alaikumussalam, Alhamdulillah kabar saya baik, saya masih kerja, InsyaAllah nanti malam baru kita diskusikan”. Jawabku singkat.
“Baiklah nanti malam saya tunggu pesan dari Mbak Nia”.
Perasaan ini masih berkecambuk, entah kenapa susah sekali untuk memutuskan, jika sebelumnya ada seseorang datang namun dari segi kepribadian aku tidak bisa menerima aku masih bisa tegas dan sopan untuk tidak mengiyakan, namun kenapa orang ini berbeda, bahkan untuk berfikir menyakitinya aku pun tak tega.
Sementara Hati ini selalu ku tanya “apakah kamu mencintainya?”.
Dengan tegas Hati menjawab “tidak, aku tidak mencintainya, namun dia adalah seseorang yang memiliki kepribadian baik, sopan, beragama, mandiri dan cerdas”.
“Lalu kenapa kamu tidak mencintainya Hati?”.
“Karena dia tidak pernah membersamai denganku, ketika tubuh ini butuh seseorang untuk menopangku dia tidak pernah ada, lalu bagaimana aku bisa memberikan perasaan kepadanya”.
“Wahai Hati, aku tau kamu menuntut akan kehadirannya, namun harus kamu sadari, dia masih belum menjadi milikmu”.
“Iya aku sangat menyadari, namun aku juga perlu diperhatikan bukan hanya sekedar mengirim pesan untuk memberikan informasi”.
“Baiklah Hati, aku memahamimu, lalu apa yang harus ku jawab nanti malam, sekarang sudah siang hari, kita masih belum searah”.
“Aku mempersilahkan dirimu untuk menjawab, aku akan mengikutimu Akal”.
“Jika pilihanku tidak sama denganmu, apakah kamu akan menyesalinya?”.
“Tidak, aku memahami penilaianmu, karena dia adalah seorang pemuda hebat dan berkualitas dari segi dunia akhirat, untuk perasaan cinta abaikan saja, kita akan bekerjasama untuk menumbuhkan cinta setelah hubungan ini disahkan dalam Agama”.
Tak lagi berjumpa dan bersuara secara kasat mata, jarak membentang jauh di antara pulau yang berbeda, memposisikan tubuhku ini sangat jauh dengannya, adat dan budaya berbeda. Masih terniang akan tawaran yang sempat kau tanyakan, bisik hati ingin menerima namun akalku selalu berulang berfikir untuk pertimbangan jarak jauh membentang. Tawaran akan keseriusan yang telah kau berikan masih belum bisa terjawab dengan pasti.
Perjumpaanku denganmu memang sungguh sangat singkat, kau berucap “semoga perjumpaan kita yang singkat ini mampu menjadikan tali ikatan keberlanjutan yang diridhoi.” Aku sangat faham maksud tulisan ini, setelah beberapa kalimat keseriusan kau berikan, menjadikan hati dan pikiranpun tak tenang, sementara jeda waktu untuk jawaban hanya satu bulan. Pesan singkat terakhirmu, “semoga segera menemukan pencerahan, saya tunggu sampai akhir februari”. tulisan ini membuatku tak bisa berhenti memikirkan dan mempertimbangkan.
Sudah mendekati satu bulan penuh yaitu sudah masuk akhir februari, masih juga belum memiliki keyakinan jawaban, tak kuasa membawa beban sendiri, ku putuskan untuk bercerita melalui telephone genggam kepada kedua orang tua mengenai keseriusan seorang pemuda asli Bugis. Awal mula Ibu tersontak kaget karena seseorang yang sangat jauh di beda pulau mengiginkan anak gadisnya, terlihat raut muka Ibu kurang menyetujui, sementara Ayah memberikan hak sepenuhnya kepada ku untuk mengambil keputusan. Ibu mempertimbangkan jika aku menerima, pasti akan tinggal disana dan meninggalkan rumah, Ibu hanya bersama Ayah.
“Neng, jauh banget dia berasal, apakah dia ada saudara di Jawa atau di Yogyakarta?”, tanya Ibu penasaran.
“Dia ada saudara di Yogyakarta, saudara dari Bapaknya”. Jawabku singkat.
“Kalau memang dia sudah jodoh, Ibu tidak bisa menghalangi, hanya saja coba difikirkan kembali, karena watak dan karakter kita jelas berbeda”, penjelasan Ibu masih mengisyaratkan berat hati untuk melepas anak gadisnya.
“Neng juga masih bimbang Bu, belum menggenal betul karakter, watak dan sikap dia, namun Neng terenyuh dengan keseriusannya untuk melangkah ke depan, salut dengan kerja kerasnya membangun usaha”. Aku menjelaskan dengan sedikit memihak.
“Kalau Ibu tidak mempermasalahkan mau menikah dengan siapa, Ibu berharap Neng mau menemani ibu di masa-masa tua, merawat dan menjaga Ibu. Sudah terlalu lama kamu merantau nak, sudah terlalu lama meninggalkan Ibu”. Tangkas Ibu.
Tersentak hati ini untuk diam sejenak mencoba berfikir dan berfikir kembali, secara garis besar kedua orangtua tidak mempermasalahkan asal seseorang untuk dijadikan sebagai menantu, hanya saja Ibu berharap sang menantu bisa diajak tinggal dengan Ibu dan Ayah atau jarak tempat tinggal tidak sampai keluar pulau, masih berada di jalur Jawa.
“Nanti Neng coba tanyakan ke Ansyar Bu, kalau dari cerita tentang usahanya, dia sangat berat hati meinggalkan kota kelahiran dan akan sangat disayangkan jika dia ke Jawa meninggalkan usaha yang sudah dirintis.” Jawabku.
Setelah satu bulan berlalu, akhir Februari telah tiba. Pesan singkat masuk dan bertulisan sang pengirim Ansyar.“Assalamu’alaikum, Mbak Nia bagaimana kabarnya?, Alhamdulillah sekarang sudah masuk akhir februari, apakah sudah menemukan pencerahan?”.
Perasaanku campur aduk, apa yang mesti ku jawab, apa yang harus ku jelaskan, untuk sampai saat ini masih saja aku masih belum bisa menjawabnya, hatiku mash bimbang, namun hal ini harus segera di pastikan tapi kedua fungsional otak dan hati masih saja tidak searah untuk satu jawaban, “ah…, sudahlah aku binggung, dijawab apa ya..?, hemm apa iya saja, atau ku diamkan saja”. Dengan alibi ala melarikan diri dari rasa kebinggungan aku membalas pesan Ansyar. “Wa’alaikumussalam, Alhamdulillah kabar saya baik, saya masih kerja, InsyaAllah nanti malam baru kita diskusikan”. Jawabku singkat.
“Baiklah nanti malam saya tunggu pesan dari Mbak Nia”.
Perasaan ini masih berkecambuk, entah kenapa susah sekali untuk memutuskan, jika sebelumnya ada seseorang datang namun dari segi kepribadian aku tidak bisa menerima aku masih bisa tegas dan sopan untuk tidak mengiyakan, namun kenapa orang ini berbeda, bahkan untuk berfikir menyakitinya aku pun tak tega.
Sementara Hati ini selalu ku tanya “apakah kamu mencintainya?”.
Dengan tegas Hati menjawab “tidak, aku tidak mencintainya, namun dia adalah seseorang yang memiliki kepribadian baik, sopan, beragama, mandiri dan cerdas”.
“Lalu kenapa kamu tidak mencintainya Hati?”.
“Karena dia tidak pernah membersamai denganku, ketika tubuh ini butuh seseorang untuk menopangku dia tidak pernah ada, lalu bagaimana aku bisa memberikan perasaan kepadanya”.
“Wahai Hati, aku tau kamu menuntut akan kehadirannya, namun harus kamu sadari, dia masih belum menjadi milikmu”.
“Iya aku sangat menyadari, namun aku juga perlu diperhatikan bukan hanya sekedar mengirim pesan untuk memberikan informasi”.
“Baiklah Hati, aku memahamimu, lalu apa yang harus ku jawab nanti malam, sekarang sudah siang hari, kita masih belum searah”.
“Aku mempersilahkan dirimu untuk menjawab, aku akan mengikutimu Akal”.
“Jika pilihanku tidak sama denganmu, apakah kamu akan menyesalinya?”.
“Tidak, aku memahami penilaianmu, karena dia adalah seorang pemuda hebat dan berkualitas dari segi dunia akhirat, untuk perasaan cinta abaikan saja, kita akan bekerjasama untuk menumbuhkan cinta setelah hubungan ini disahkan dalam Agama”.

0 komentar:

Posting Komentar