Senin, 20 November 2017

Dicari Diperjuangkan Diikhlaskan (Part 3)



Tepat jam 21.00 malam handphoneku berbunyi, Ansyar menelpon, tanganku mulai kehilangan kendali, angkat atau matikan. Bismillah angkat. Awal suara terdengar salam yang diucapkan, aku menjawabnya dengan ucapan salam. Sudah sangat lama aku tidak pernah mendengar suaranya dan bisa dibilang sudah tidak mengenalinya. Ansyar bertanya untuk meyakinkan apakah yang sedang dia hubungi adalah aku Nia.
“Maaf apakah ini dengan Mbak Nia”, tanya dia.
“Iya benar, ini dengan saya Nia”, jawabku.
“Bagaimana Mbak Nia, apakah sudah mendapat pencerahan?, terkait perbincangan kita sebelumnya, saya rasa Mbak Nia cukup bisa memahami maksud dan tujuan saya menghubungi Mbak Nia”.
“Saya sudah memahaminya dan sudah saya bicarakan dengan keluarga saya”.
“Alhamdulillah, bagaimana respon keluarga, apakah mengizinkan?”.
“Awalnya keluarga saya kaget dengan maksud Mas Ansyar datang ke kehidupan saya dan mengutarakan maksud keseriusannya, karena jarak yang terlalu jauh dan ras kita sangat berbeda. Keluarga tidak mempermasalahkan kita dari ras dan keluarga berbeda, namun ada sedikit mengganjal pada keluarga saya”
“Kalau boleh tau apa itu Mbak?”.
“Ibu masih berat hati melepas untuk tinggal di Makassar, karena saya sudah terlalu lama merantau, dan harapan Ibu apakah bisa tempat tinggalnya nanti masih di lingkup Jawa atau tidak terlalu jauh dengan tempat kelahiran saya”.
“Saya juga tidak bisa meninggalkan Makassar, karena saya memiliki Ibu yang sudah rentan usia, sementara saya anak bungsu laki-laki, dan sudah menajdi kewajiban saya untuk menjaga dan merawat Ibu”.
“Iya saya memahami betul kondisi Mas Ansyar disana, berhubung karena ada orang tua yang harus dijaga dan usaha yang anda rintis juga tidak mungkin ditinggalkan ke Jawa”.
“Nah.., iya Mbak itulah alasan terbesar saya kenapa tidak bisa meninggalkan Makassar, selain itu di Jawa sudah banyak orang hebat dan orang sukses, untuk persaingan pasti sudah sangat padat dan ketat dalam urusan bisnis”
Aku memahami betul bahwa dia memang benar-benar tidak bisa meninggalkan kota Makassar, dia harus tinggal disana dan jika aku menerima dia menjadi pendamping hidup maka harus siap tinggal disana dan membersamainya dalam menjalankan bisnis yang sudah dirintis.
Pada pertengahan pembiacaraan dia kembali melontarkan pertanyaan itu lagi, “bagaimana Mbak Nia, apakah sudah mendapatkan pencerahan?”.
“Bismillah, insyaAllah sudah”.
“Alhamdulillah.., baiklah kalau begitu saya akan mencari waktu yang tepat untuk bersilaturahmi ke Surabaya menemui keluarga Mbak Nia, saya rasa cukup kita berbincang hari ini, semoga ini menjadi awal yang baik, Assalamu’alaikum”.
“Wa’alaikumussalam”.
Sejenak hening, terdiam dan binggung, mataku hanya bisa berkedib dengan wajah tak mengarah. Kenapa aku bisa jawab “sudah’, secara tidak langsung aku menerimanya, memang tidak ada masalah yang memberatkan, tapi apakah aku bisa menjalaninya, hati dan pikiranku semakin semrawut. Sudahlah nanti pasti ada jalan keluarnya untuk sampai pada titik peantian yang sebenar-benarnya.

2 komentar: