Senin, 20 November 2017

Dicari Diperjuangkan Diikhlaskan (Part 4)



Kata “pencerahan” masih terniang jelas di kepala, sebuah jawaban sudahku lontarkan membuat semakin gundah, entah kenapa ucapan dan hati masih saja berbeda arah berbedah pendapat dan masih belum yakin. Namun harus ada alasan kuat kenapa tidak yakin, jika itu hanyalah sebuah nafsu hati ingin keberadaaanya, maka itu bukanlah hal yang bisa dijadikan alasan untuk menolak.
Sudah tiga tahun aku berkarya di dunia karir, sudah waktunya untuk melanjutkan masa belajarku ke jenjang Magister, bukan menjadi alasan mengambil Magister untuk mengalihkan bahwa belum ada pendamping atau belum siap menikah dan bukan menjadi alasan bahwa menjadi Mahasiswa lagi menjadikan posisi aman untuk tidak menerima pertanyaan mematikan “Kapan menikah?”.
Melalui banyak pertimbangan orang tua, baiklah aku putuskan untuk melanjutkan masa belajarku di Universitas Hijau Yogyakarta, berbekal tabungan yang sudah terkumpul dan dirasa sudah bisa untuk mencukupi pembayaran awal dan semester pertama.
Niatan untuk bersilaturahmi ke rumah Surabaya masih belum dia penuhi, sementara aku sudah menunggunya sudah satu tahun, sehingga kuputuskan untuk melanjutkan ke jenjang Magister, niatanku untuk melanjutkan pasti didukung, namun untuk tempat aku mengambil masa belajar mungkin kurang disetujui.
Pesan singkat terkirim ke Ansyar, “Saya berencana melanjutkan ke jenjang Magister di Yogyakarta, jika memang Mas Ansyar memiliki keseriusan untuk datang ke rumah, saya persilahkan, mohon maaf saya harus mengambil keputusan, tahun ini harus bisa melanjutkan Magister”.
Tidak lama kemudian pesan dari Ansyar masuk, “saya tidak mempermasalahkan jika Mbak Nia mau melanjutkan ke Magister, namun apakah memang harus di Yogyakarta, kenapa tidak di Makassar saja, nanti bisa melnjutkan masa belajarnya setelah menikah, saya yang akan mencarikannya”.
Sudah ku tebak sebelumnya, pasti jawabannya memberatkan. “saya belum bisa meninggalkan Yogyakarta, karena masih ada tanggung jawab pekerjaan belum bisa saya tinggalkan dan saya juga berkeingginan utuk melanjutkan di Yogyakarta”.
“Keingginan dan kebutuhan itu berbeda, melanjutkan ke Magister di Yogyakarta bukanlah kebutuhan itu masih dalam lingkup keingginan. Baiklah kalau begitu, kurang lebih Mbak Nia butuh waktu kurang lebih 2 tahun untuk menyelesaikan, dan apakah dipercepat menjadi 1,5 tahun?”.
Belum juga masuk kuliah sudah ditanyain apakah bisa selesai 1,5 tahun, “Saya belum bisa menjanjikan, namun saya usahakan lulus secepatnya dan maksimal 2 tahun selesai, tidak lebih”.
Semua persyaratan administrasi sudah terpenuhi semua, dan masa seleksi sudah terlampaui, penggumuman hasil tes seleksi sudah tercantum di web Universitas Hijau. “Alhamdulilah, Allah mengizinkanku untuk melanjutkan sekolah lagi, perjuangan ke tahap berikutnya baru di mulai lagi, semoga segala usaha yang diusahakan berkah dan bermanfaat”. Masih menunggu jeda waktu masuk perkuliahan selama 2 minggu, menyandang status Mahasiswa baru, kesibukan baru dan manajemen waktu harus lebih terkontrol.
***
Ansyar memberikan kabar bahwa minggu depan akan berkunjung ke Yogyakarta bersama Ibunya untuk menghadiri acara di Muallimin, sekaligus bermaksud menemuiku untuk memperkenalkan ke Ibunya.“Mbak Nia, jumat minggu depan saya ke Yogyakarta, hari sabtu masuk kuliah jam berapa, apakah bisa bertemu dengan saya dan Ibu?”.
“InsyaAllah bisa, saya kuliah jam 15.00 sore, pagi saya kosong, belum ada agenda, untuk tempat ketemuan saya mempersilahkan Mas Ansyar untuk menentukan”.
“Berhubug Mbak Nia besok ada kuliah, kalau besok jam 10.00 pagi kita bertemu di Masjid Kampus Hijau bagaimana Mbak, biar nanti pas jam 15.00 sore Mbak Nia bisa langsung masuk kelas kuliah”.
“Iya saya bisa, besok saya jam 10 sudah di tempat”.
“Oke, sampai jumpa besok”.

2 komentar: