Rabu, 22 November 2017

Dicari Diperjuangkan Diikhlaskan (Part 5)



Sabtu pagi, tepat pukul 09.30 motorku melaju membersamai perasaanku yang sedang gundah gulana, mengikuti setiap gerak tubuh dalam mengemudikan motor, melesat di tengah-tengah keramaian jalan raya. Jam 10.00 pagi tepat kuberada di Parkiran Masjid, langkahku semakin dekat menuju Masjid. “Apa yang harus kubicarakan nanti?, huff nafas mulai tak terkendali, harus tenang dan percaya diri”.
Kakiku sudah menapaki serambi masjid, sebelah barat serambi putra, sebelah timur serambi putri, aku mencoba mencuri pandangan ke serambi putra untuk meraih sosok wujud dia tapi belum tampak, kuputuskan untuk menuju serambi timur sambil menunggu kabar darinya.
Kurang lebih 10 menit berlalu, pesan masuk di hanphone bertuliskan, “saya ada di serambi masjid sebelah barat”, kujawab pesan singkatnya bertuliskan, “iya saya kesana”.
Sembari kaki melangkah dalam benak pikirku, “seperti apa dia sekarang aku hanya bertemu dengannya 2 kali, 2012 ketika pameran dan ketika tidak sengaja bertemu di warnet, sementara saat ini sudah 2015, apa yang seharusnya dibicarakan nanti dengan ibunya,” dalam benakku berucap, “Bismillah…, semua akan baik-baik saja”.
Memandangi serambi barat kumelihat sosok laki-laki sedang menenggadahkan tangganya berdoa. “Apakah itu Ansyar yang sedang berdoa, benarkah itu dia?, doa apa yang sedang dia panjatkan?”. Setelah kumelihat dari kejauhan dan sempat terhenti dari beberapa langkah, tiba-tiba  lambaian tangannya tertuju ke arahku, “di sini”, teriaknya ke arahku.
Di serambi masjid barat kubertemu dengan Ansyar dan Ibunya, kuberbincang bersama mereka mengenai banyak hal, ibunya bercerita tetang keluarga di Makassar, di tengah-tengah perbincangan, Ibu memberikan arahan dan sedikit wejangan,”nak Nia selamat atas S2nya, semoga ilmunya berkah, dan saya mewakili kluarga Makassar mengenai nak Nia dan Ansyar tolong dijaga komunikasinya, kalian sudah besar sudah memahami batasan-batasan dalam berkomunikasi, dan selama berlangsungnya S2, nak Nia dan Ansyar masing-masing memiliki kebebasan untuk memilih, karena kalian belum ada ikatan apapun, jika nanti di pertengahan jalan Ansyar menemukan orang lain yang sekiranya itu memang jodohnya maka Ansyar berhak memilih wanita tersebut, begitu juga sebaliknya bagi nak Nia.
”Iya Bu saya memahami, saya juga tidak membatasi maupun mengekang mas Ansyar untuk menunggu, saya memberikan kebebasan untuk memilih”, sejenak setelah kuberucap hatiku terbolak-balik ada rasa gundah mengguncang dan kekhawatiran, seperti ada firasat bahwa aku tidak berjodoh dengan Ansyar.
“Ibu tidak melarang hubungan kalian, jarak Surabaya dan Makassar memang lumayan jauh, tapi itu tidak kami jadikan masalah, meskipun adat dan budaya kita pasti berbeda”. Ucap Ibu
“Iya Bu, mengenai adat dan budaya pasti berbeda saya Jawa sementara mas Ansyar Bugis”.
“Maka dari itu Ibu tidak bisa mengekang atau membatasi nak Nia dan Ansyar, kalian sudah sama-sama dewasa, keputusan ada di tangan kalian dan pasti sudah bisa memikirkan bagaimana nanti kedepannya”.
Selepas kita berbicang-bincang di serambi masjid barat, adzan Dzuhur berkumandang, kita sholat berjamaah di masjid kampus. Selepas sholat Ibu dan Ansyar mengajakku untuk makan siang yang tidak jauh jaraknya dengan kampus. Ketika sudah tepat pukul 15.00 aku berpamitan dengan mereka untuk menuju Fakultas karena ada kelas Manajemen Dana dengan Prof. Meydi.

0 komentar:

Posting Komentar