Rabu, 22 November 2017

Dicari Diperjuangkan Diikhlaskan (Part 6)



Sudah memasuki waktu Ashar dan aku harus segera menuju Fakultas, Ibunda Ansyar menyalamiku dan kukecup tangan kanannya, “sukses buat nak Nia, selamat belajar dan semoga S2nya lancar, segera selesai dengan baik”. Ucap Ibu.
“Terimakasih Bu.., Aamiin. Hati-hati di perjalanan”. Tangkasku.
“Kalau masih ada yang mengganjal nanti bisa kita koordinasi dulu, sebelum Mbak Nia menyampaikan ke keluarga Surabaya”. Ansyar memberikan arahan.
“Nanti saya kabari”. Jawabku.
Kita berpisah di Parkiran Masjid, dengan menaiki motor, kuarahkan tujuan ke tempat parkir motor khusus Mahasiswa, sudah ada beberapa deretan terpenuhi, “teman-teman sudah datang sesuai dengan jadwal mata kuliah”, ucapku.
Sudah 15.20 Prof. Meydi belum juga hadir, meskipun ini baru hari kedua masuk perkuliahan, hatiku sudah merasa nyaman dengan teman-teman baru, kita dari berbgai daerah, dan tentu saja karakter dan watak kita berbeda pula.
Salah satu teman baruku yaitu Fumi menanyakan, “apakah kamu sudah menikah Nia?”.
“ehmmmm (krik-krik), belum..”, aku menjawabnya sambil senyum nyinyir.
Tak apa, yang pnting kamu harus positif thinking, jangan megambil keputusan nikah secara gegabah, banyak hal yang perlu dipertimbangkan, menikah bukan hanya pada seseorang namun sekaligus dengan keluarganya, adat dan budaya mereka, sekaligus kamu harus bisa memahami karakter mereka seperti apa, lalu tanya pada dirimu apakah kamu bisa menyesuiakan dengan mereka. Aduh.., maaf ni malah terkesan menggurui”
“Hehe tak apa Fumi.., aku malah senang kamu mau memberikanku arahan, hemmm sebenarya aku baru saja bertemu dengan seseorang dan orang tuanya”, curhatku ke Fumi.
“Lha…, memang baru ketemuan dengan siapa?, kok wajahmu sedikit aneh.
“Baru saja aku bertemu dengan seseorang, namanya Ansyar pemuda dari Makassar, dia bersama Ibunya, baru saja tadi di Masjid kampus.
“Sendirian..??”, sontak Fumi
“Iyalah sendirian, emang sama siapa?, mau menggajakmu takut lagi ada acara”, jawabku.
“Kalau menghubungiku jauh-jauh hari, bisalah agenda lain kugeser lain waktu”, tangkas Fumi.
“Iya…, lain waktu temenin aku ya”, jawabku merayu Fumi.
Fumi adalah salah satu temanku yang ketche, dia berstatus pengantin baru, menggenal Fumi ketika masuk S2 di Universitas Hijau. Kita seumuran dan sama-sama punya kesukaan makan ice cream rasa coklat, bedanya dia sudah menikah dan aku masih saja dengan dunia menjomblo.
“Sudah jam 16.00, sudah bisa dipastikan Prof Meidy lupa kalau hari ini ada jam mata kuliahnya,” ucap Fumi.
***
Salah satu petugas TU (Tata Usaha) menginformasikan bahwa Prof Meydi tidak bisa hadir, “maaf teman-teman Prof Meidy sedang keluar kota, jadi perkuliahan hari ini kosong”.
“Lha.., baru masuk kuliah sudah kosong”. Ucapku.
“Ya sudahlah kita pulang, ketemu lagi minggu depan ya, jangan lupa nanti kabar-kabar kalau sudah ada perkembangan”, tangkas Fumi sambil mengajak menuju parkiran motor.
“Sip…, nanti kukabari”. Jawabku

0 komentar:

Posting Komentar