Kamis, 23 November 2017

Dicari Diperjuangkan Diikhlaskan (Part 7)



Manajemen waktu untuk membagi kuliah dan pekerjaan membuatku lupa apa yang seharusnya aku pikirkan, tugas begitu banyak berdatangan, menggalihkan keingginanku untuk menikah. Ansyar sudah jarang terbesit dipikiranku, beralih memikirkan tugas silih berganti dan tanggung jawab kantor, ketika memasuki akhir bulan harus selesai, sesuai dengan deadline yang sudah terpampang dalam hitungan hari.
Terkadang melelahkan dan membosankan rutinitas seperti ini dan pada akhirnya perlu ada suasana baru untuk sejenak menghilangkan kejenuhan dunia kantor dan kesibukan kuliah.
Ada selembaran info dari group WhatsApp, hari sabtu, minggu depan, dari pagi sampai sore di kampus Biru akan diadakan acara seminar, membuka undangan bagi semua mahasiswa berbagai jurusan untuk bisa hadir dalam seminar “Perubahan Ekonomi Indonesia Berada di Tangan Generasi Muda”, dengan pembicara dari Kementrian Keuangan.
Bertepatan hari sabtu baru ada kuliah sore hari dan merupakan keberuntungan bisa ikut hadir seminar. “Semoga dalam seminar nanti aku memiliki banyak pencerahan ilmu dan pengetahuan”.
Pukul 08.00 acara seminar dimulai dengan diawali pembacaan Kalam Illahi dan dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Panitia, inti acara seminar dimulai pukul 09.00 diisi oleh perwakilan dari Kementrian Keuangan Yogyakarta. Banyak beberapa mahasiswa dari luar kota, mereka antusias mengikuti seminar tersebut, beberapa peserta seminar dari delegasi kampus dan beberapa peserta lainnya umum.
***
Acara inti sudah tersampaikan dengan baik dan mampu dipahami oleh semua peserta seminar, sang Moderator memberikan izin untuk memberikan pertanyaan dengan membatasi tiga pertanyaan saja. Penanya satu diantara tiga penanya, ”siapakah dia, seorang pemuda penuh semangat dengan berdialeg Sunda”, aku sedikit terkesima dan keinggintahuanku untuk mengetahui siapa dia.
Ketika sang Moderator menanyakan, “maaf Mas, anda tadi belum menyebutkan nama, nama anda siapa?”.
“Nama saya Alam dari Bandung”. Jawab dia.
“Oh.. namanya Alam…, pasti dia delegasi kampus dari Bandung”. Gerutuku.
Feedback dari pertanyaan Alam memberikan diskusi hebat, terlihat banyak peserta lainnya antusias mengikuti alur gagasan yang dia cetuskan. Aku tepat duduk di deretan bangku kedua dari depan, tepat satu jalur dia berdiri dengan pengeras suara, entah aku yang terlalu memperhatikan atau karena jalur kita searah satu mata.
Empat jam telah berlalu, seminar sudah selesai ditutup dengan pembacaan doa oleh salah satu panitia acara, semua peserta terlihat puas pada pemateri dan penanya, akupun demikian.
Berkisar jarak lima langkah seorang pemuda sedang melangkah menuju tepat di depanku berdiri, “Asslamu’alaikum, Mbak mahasiswa di kampus ini?”, tanya dia.
“Saya bukan mahasiswa sini, saya mahasiswa Universitas Hijau”. Jawabku.
“Oh.., Universitas Hijau, beruntung ya bisa jadi salah satu mahasiswa di Yogyakarta, perkenalkan saya Alam dari Universitas Jaya di Bandung, saya senang sekali bisa berkunjung ke sini”. Alam mencoba mengakrabi dengan memperkenalkan diri.
“Saya Nia, senang bisa berkenalan dengan Mas Alam”. Responku.
“Menurut Mbak Nia, bagaimana dengan ide yang saya gagaskan tadi, apakah Mbak Nia setuju?”.
“Kalau menurut saya ide yang mas Alam sampaikan bagus dan sangat kontibutif terhadapa masyarakat, namun perlu adanya capur tangan pemerintah untuk mendukungnya, karena pemegang kebijakan ada di tangan Pemerintah, masyarakat maupun mahasiswa hanya memiliki gagasan namun untuk kekuatan masih lemah”.
“Betul Mbak, bahkan sebelum mereka mendengar gagasan kita, mereka sebenarnya sudah memahami apa yang seharusnya dilakukan, namun karena banyak pertimbangan dan ada maksud politik, mereka mencetuskan gagasan dan solusi lain.”
Diskusi berlanjut lama dengan Alam, sang waktu berlalu satu jam, kuberbincang denganya di depan pelataran Gedung A, karena dirasa waktu begitu singkat dan dia juga harus mempersiapkan diri untuk segera pulang ke Bandung.
“Maaf Mbak Nia, saya harus pamit sekarang, sangat mengesankan bisa berbincang dengan Mbak Nia, boleh saya minta nomer handphonenya?”. Pinta dia.
“Waduhffff, kok minta nomer ya, ehmmm tapi tak apalah, bisa buat relasi juga di Bandung, nanti kalau ada keperluan di sana bisa kontak dia, “gumamku dalam hati.
“Iya bisa, 08……….”. Jawabku
“Ok sudah saya save, saya pamit dulu”. Ucap dia
“Iya silahkan, hati-hati diperjalanan”. Pesanku singkat.
Sembari kumelihat sisi kebelakang, dia beranjak melangkah segera untuk bersiap menuju pintu keluar, tanpa kusadari dia juga menoleh kebelakang seperti memastikan apakah aku masih berdiri pada posisi sebelumnya, dan terakhir kalinya sebelum dia memasuki pintu keluar terlihat senyum ramah beserta gigi gingsulnya, seperti memberikan isyarat bahwa dia akan datang kembali.

1 komentar: