Sabtu, 25 November 2017

Dicari Diperjuangkan Diikhlaskan (Part 8)



Dua bulan berlalu setelah perkenalanku dengan Alam, sempat beberapa kali Alam memberikan info mengenai kesibukannya di Bandung, sementara Ansyar sangat rajin mengirimkan artikel maupun informasi-informasi menarik terkait acara seminar atau acara-acara lain.
Keduanya memang tidak berwujud di sini, padahal perwujudan juga perlu untuk diperjuangkan, menimbang dua hati yang sama-sama memiliki kepribadian baik, sehingga perasaan mampu terbolak balik, sebab hari ini belum tentu dengan hari esok.
Terkadang firasat memberikan pesan terselubung untuk terungkap di kemudian hari, ketika penutupan seminar terlihat ada yang sangat ingin disampaikan, hingga pada suatu diskusi ringan dia menyampaikan maksud kedatangannya kembali, sesuatu yang ingin disampaikan pada waktu yang tepat dan dengan orang yang tepat.
“Saya ingin menyampaikan sesuatu alasan menghubungi Mbak Nia lagi, meskipun kita sangat sebentar untuk  awal mengenal”, pesan singkat dia melalui smartphone.
“Apa yang ingin Mas Alam sampaikan, silahkan dituangkan saja apa yang seharusnya disampaikan?”. Ucapku.
“Jika diperkenankan saya ingin mengenal lebih jauh Mbak Nia dan keluarga”. Pinta dia.
“Mas Alam serius?, perlu Mas ketahui sebelumnya saya bukan asli orang Jogja, saya asli Surabaya yang orang lain memandang bahwa Surabaya adalah kota keras begitu juga orang-orangya namun tidak semua penilaian demikian”. Tangkasku.
“Saya sudah memahaminya, itu bukan menjadi masalah, namun yang saya pikirkan apakah saya bisa diterima di keluarga Mbak Nia”. Ungkap dia.
“Memang masih banyak mitos beredar dengan sangat membetengi bahwasanya gadis Jawa tidak boleh menikah dengan Pria Sunda, namun itu hanyalah mitos nenek moyang kita dahulu, perubahan zaman sudah menjadi lebih baik, jangan membetengi diri karena sejarah mencetak kekecewaan orang Sunda terhadap Jawa”. Ulasanku sedikit memaparkan sejarah.
“Lalu bagaimana Mbak Nia, apakah saya diizinkan untuk lebih mengenal Mbak Nia dan Keluarga?”. Tanya dia.
Jemariku mulai kebingungan arah untuk mengetik huruf, dalam benak masih sedikit terbesit Ansyar, meskipun Ansyar entah kemana tak ada kabar kejelasan untuk kepastian.
Bismillah kujawab, “Iya silahkan, namun saya harap jika memang Mas Alam serius segera temui Ayah saya”.
“InsyaAllah Mbak nanti saya agendakan”.
Intensitas percakapan dan diskusi dengan Alam memberikan pengaruh pada simpati hati untuk mulai menimbang dan memikirkan, Ansyar sudah entah kemana tak ada kejelasan untuk memastikan, hati pun masih saja tak mau menerimanya, sementara Alam datang untuk mengajak hati mau memberikan ruang untuknnya. Terkadang ketika tugasku sudah bertumpuk tak tau menahu ingin diapakan, sementara deadline tugas sudah esok pagi harus terkumpul di meja Pak Dosen. Alih-alih meminta bantuan sang penerjemah dan sang penolong Mas Alam, memang perlu adanya koreksi kembali atas apa yang sudah dia kerjakan, namun itu sudah sngat cukup membantu untuk menyegerakan dalam pembuatan review jurnal

0 komentar:

Posting Komentar