Minggu, 26 November 2017

Dicari Diperjuangkan Diikhlaskan (Part 9)



Memang tak bisa dipungkiri, hati juga bisa memilih untuk bersikap baik kepada seseorang. Kebaikan, perhatian bukan hanya diberikan sekedar pembelajaran maupun info untuk mengikuti pelatihan seminar dan semacamnya, hati butuh untuk ditenggok, dijengguk, ditanya “bagaimana aktivitasmu hari ini?, adakah kesulitan yang dirasa, ada yang bisa dibantu?”, pertanyaaan sederhana namun mampu meluluhkan hati seorang sedang dalam perjuangan.
Jenuh dengan rutinitas telah menyita separuh hari untuk duduk tenang, memandangi layar komputer dan sesekali berjumpa dengan calon SDM baru untuk menyaring masuknya karyawan, terkadag hati ini mengeluhkan untuk segera beranjak pada posisi lain.
Semester 3 telah menghampiri, proposal penelitian sudah terbayang-bayang untuk dijadikan sebuah penelitian akurat, manajemen waktuku sudah semakin terkikis oleh pekerjaan kantor, sementara tugas kuliah tak mau kalah untuk segera diselesaikan.
Ansyar yang tak ada tanya mencari kabar, tiba-tiba dia muncul kembali dengan beberapa pertanyaan menyudutkan dalam masa statusku, mahasiswa tingkat akhir. Ansyar datang ke Jogja untuk menghadiri acara pernikahan saudaranya, dia mengajak bertemu untuk mengetahui bagaimana keadaanku sekarang. Pertemuanku dengannya tak lagi bersama ibunya, saudara, atau dengan temanku. Kita bertemu dan berbincang di Islamic Book Fair, tempat pertemuanku dengannya pertama kali.
Perbincangan kita sungguh sangat datar, dia meananyakan bagaimana kuliahku selama ini. “Sudah sampai mana penelitiannya, penelitian yang diteliti apakah datanya sulit untuk diteliti, jika susah lebih baik mencari penelitian yang mudah untuk segera diselesaikan”. Saran Ansyar dengan ambisius.
“Penelitian yang diambil sekarang lebih baik dari pada rancangan penelitian sebelumnya, meskipun ini juga memerlukan banyak waktu”. Tangkasku dengan keyakinan.
“Lalu apakah bisa segera diselesaikan dalam semester ini?”. Desak dia
“Saya masih berusaha menyelesaikan, namun tidak bisa menjanjikan”. Jawabku.
“Kenapa tidak bisa diselesaikan semester sekarang?”. Tanya dia
“Saya di luar kampus memiliki tanggung jawab kerja, urusan kuliah saya fokuskan untuk sabtu dan minggu, selain itu ketika malam saja bisa mengerjakan tugas akhir”.
“Kenapa tidak cuti kerja, atau meminta dispensasi waktu untuk mengerjakan urusan kuliah dan sementara waktu off dari pekerjaan”. Ansyar sedikit mencoba memberikan solusi.
“Sepertinya tidak bisa, karena di kantor memiliki kebijakan untuk bekerja dalam 8 jam kerja kecuali hari libur”. Jawabku dengan menjelaskan adanya peraturan mengikat.
“Baiklah, menurut Mbak Nia sendiri, apakah bisa selesai semester ini tidak”. Desak dia
“Maaf saya tidak bisa janji, dan kemungkinan besar semester depan baru bisa selesai”. Memberikan jawaban dengan sedikit amarah.
Meyudutkan untuk segera menyelesaikan TA membuatku berfikir ulang untuk menerima kehadirannya ke dalam keluarga. Kita memang perlu mendisiplinkan diri sendiri tapi harus dilihat dulu seperti apa posisinya saat ini, desakan dia untuk segera menyelesaikan kuliah membuatku berfikir kembali, “sepertinya bukan dirimu yang kucari dan bisa menemaniku dalam perjalanan kehidupan baru.” Ungkapku dalam hati.

0 komentar:

Posting Komentar