Minggu, 12 November 2017

Dunia Anak Mendunia



Pernahkah terbesit apa yang sedang dibicarakan oleh seorang anak kecil dengan kawannya sepadan dan seumuruan, mereka bercanda ria dengan dunianya seakan-seakan khalayan mendunia tanpa batas dan tanpa beban.
Mereka bersorak ria saling melontarkan tawa ceria, tak lama kemudian saling berebut mainan atau berebut pendapat dan beberapa menit kemudian berujung tangis mewek ala bawang mewah. Ucapan-ucapan mereka sangat sederhana, bahkan kalau didengarkan secara cermat mereka berucap dengan satu sama lainnya berbeda khalayan namun saling memahami.
Ada celotehan anak kecil yang sedikit menggelitik telah terlontarkan kepada mamanya. “Ma kenapa orang-orang sudah besar selalu merasa pusing, itu wajahnya pada binggung”, sambil menunjukkan kepada salah seorang ibu tetangga samping rumah.
Sang Mama tersenyum simpul manis sambil mengelus kepala anaknya, “orang yang sudah besar bukan selalu pusing, tapi mereka memang perlu berfikir untuk menyelesaikan masalah”.
“Masalah itu apa ma.., kenapa masalah itu ada, tinggal dijalani aja jangan pusing terus”. Celoteh si anak
Sang mama menggerut dahinya dan mulai menggumam sendiri, “iya ya dek, pintar kamu ya”.
Tidak lama kemudian ayahnya pulang dari kantor dengan wajah semrawut dan seakan tubuhnya sudah sangat ingin dilebur diatas tempat tidur. Kembali sang anak berkerut penasaran dengan penuh tanya di kepalanya, seakan-akan dia melihat orang dewasa adalah orang yang penuh dengan masalah, berbeda dengannya sangat asik dengan tiap permainan, bahagia dengan segala permainan di rumah dan bahagia dengan teman-temannya.
Sang mama kembali memberikan arahan kepada sang anak, sebab mama melihat ada gejolak mata penuh tanya di dalam bola mata sang anak. “dek, tidak setiap waktu orang tua terlihat gelisah atau pusing, ada beberapa orang tidak bisa menyembunyikan apa yang sedang dilaluinya dan ada beberapa orang juga menerima tiap apa yang didapatkan dengan santai tidak terlalu dipikirkan”.
Sang anak menganguk, bukti bahwa dia memahaminya.
***
Penuh warna dan cerita indah di dalam setiap perjalanan sang anak, tanpa beban, tanpa kegelisahan, tanpa merasa bersalah, tanpa dendam. Mereka tumbuh dengan kemurnian pada diri mereka, tak perlu ada yang ditutupi, tak perlu kebohongan, dan tak perlu berwajah topeng untuk menutupi kesalahan.
Ada banyak hikmah yang mampu kita pelajari dari sang anak kecil, mereka tidak pernah menuntut selayaknya tuntutan yang dilontarkan bagi pihak berwenang, mereka menerima dengan lapang dada dan selalu terseyum indah penuh ketulusan.
Terkadang kita memang perlu belajar kepada anak-anak, belajar kembali mengenai ketulusan, kejujuran dan kemurnian mereka. Kita terlalu sibuk ingin menjadi orang lain sehingga lupa siapa diri ini sebenarnya, kita terlalu sibuk menilai orang lain sehingga lupa menilai diri sendiri dan sering kita melupakan siapa pemilik diri ini.
Sebuah renungan kecil pribadi ini dan untuk kita semua dalam melihat sudut pandang dunia anak mendunia, dengan dunia mereka mampu menduniakan imaginasi dan mampu kita ambil sudut pandang akan sikap dan kejujuran mereka dalam bertindak laku.

0 komentar:

Posting Komentar