Sabtu, 04 November 2017

Ingin Menjadi Apa



Seorang anak kecil akan sangat sigap ketika ditanya, “ingin menjadi apa nanti?”, jawaban yang seringkali berubah menyesuaikan dengan figur yang mereka dambakan ketika pada masanya, tak heran jika pertanyaan diulang dalam beberapa waktu, jawabannya pun berubah. Seorang anak mengiginkan mejadi sosok profesi atas dambaan imaginasi dan atas informasi yang mereka dapatkan.
Latar belakang setiap jawaban terucap bermacam-macam, berawal dari tontonan keseharian, berawal dari sebuah cerita maupun donggeng, berawal dari sosok ayahnya, atau bisa jadi karena melihat televisi yang memeberikan mereka pegaruh sehingga mengiginkan apa yang sudah dilihatnya.
“Mengenai ingin menjadi apa atau apa cita-cita kalian ketika sudah besar?,” masihkah cita-cita yang didambakan ketika masa bocah masih diperjuangkan, ditinggalkan atau sudah tergantikan dengan profesi lain.
Tidak ada yang pernah menyalahkan dengan cita-cita yang keluar dari mulut anak kecil, secara tidak langsung cita-cita maupun keingginan anak akan secara tidak langsung memberikan pengaruh pada daya otak dan daya pola pikirnya, secara bertahap mereka akan memikirkan, memilah dan mencari cara agar cita-cita dan pengharapannya mampu diwujudkan esok pada masanya.
Ketika menginjak masa SD, seorang anak masih pada posisi raja, hanya bisa meminta dan berfikir terkait dunia mereka. Menginjak SMP mulai masa-masa mencoba hal-hal baru, namun pola pikir mereka masih belum matang betul untuk diarahkan ke masa serius, namun sudah bisa mulai diajak apa yang seharusnya dia lakukan yaitu belajar dengan bersungguh-sungguh. Melewati masa SMA mulai masa-masa puberitas, masa mulai menonjolkan diri mereka masing-masing, sudah punya geng kalau jalan harus rame-rame, pakai baju kembaran dan uniknya lagi susah ditegur meskipun sudah jelas-jelas melakukan kesalahan (ego tinggi).
Dari mulai perkembangan seorang anak masih belum sekolah, SD, SMP, SMA akan banyak perubahan dalam pola pikir dan keingginan yang ingin dicapainya. Perubahan dialami tentu akan mempengaruhi pada cita-cita, namun sangat disayangkan jika perubahan hanya sebatas “ingin menjadi apa saja, sesuai nanti keadaanya”, atau dengan jawaban untuk menggelak “ingin menjadi orang berguna dan bermanfaat’, dengan jawaban biar tidak terlihat mengenaskan “ingin menjadi orang sukses”. So… itu boleh boleh saja, tidak ada yang melarang, perlu diketahui dan diingat betul-betul dalam sebuah pencapaian harus jelas langkah-langkahnya. Jika berkeingginan ingin menjadi orang berguna dan bermanfaat, namun kenyataanya tidak ada usaha untuk menjadikan dirinya berguna atau hanya sebatas mampu mencukupi kebutuhan sendiri lalu dimanakah letak berguna dan bermanfaat, apakah berguna hanya difungsikan untuk tubuh semata. Maka perlu adanya spesifikasi jelas menjadi sosok seperti apa dikemudian nanti tentu dengan upaya-upaya dalam proses pembentukan untuk menjadikan seseorang berkarakter mampu bersosialisai baik dan mampu berkompetensi.
Boleh jadi pengharapan maupun cita-cita di waktu masih anak-anak tidak sesuai dengan kenyataan saat ini, profesi yang diinginkan masa dulu sudah kandas sirna, tak diupayakan lagi, tinggallah sebuah cerita masa anak-anak. Tidak perlu disesali dengan cita-cita masa kecil yang tak bisa terlaksana ketika sudah dewasa, tidak perlu menjadi seseorang yang sebetulnya itu bukan pribadimu, tak perlu memaksakan kehendak orang lain jika kamu tak mampu, tak perlu menuntut dunia akan takdirmu saat ini tapi tuntutlah jalanmu, pilihanmu, dan pikiranmu untuk selalu bergerak menjadi manusia yang mengerti akan tanggug jawab, mengerti welas asih, dan mengerti akan norma maupun aturan yang seharusnya dilalui atau ditinggalkan. Hiduplah sesuai dengan jalur ketetapan tuhan, sudah kita ketahui semuanya sudah ada sang ahli pengatur kehidupan dan tidaklah menjadi suatu ketidakmungkinan jika manusia mau merubah nasibnya maka tuhan akan merubah nasib kaum tersebut. Tidak berpangku tangan, tidak hanya memasrakan diri. “Berdirilah tegak, ubah duniamu, kejar akhiratmu”.

0 komentar:

Posting Komentar