Senin, 13 November 2017

Pelontaran Ucapan Terimakasih




“Terimakasih”, ucapan satu kata sederhana yang sering terdengar ketika dua orang atau lebih atas hasil interaksi, keduanya berucap “terimakasih” atau hanya salah satu yang memberi ucapan. Jika anda bersedia menghitung ucapan terimakasih seberapa banyak ucapan anda peroleh hari ini, apakah hanya satu atau tanpa bisa dihitung kembali sebab banyaknya ucapan terimakasih yang anda terima.
Terimakasih bukan hanya ucapan atas diberikannya pertolongan atau pemberian ucapan sederhana. Ucapan terimakasih juga merupakan sebuah bentuk doa atas apa yang dia terima maka dia melontarkan ucapan terimakasih sebagai maksud untuk mendoakan dan membalas tindak laku seseorang.
***
Hari ini saya berjumpa dengan seorang ibu dengan wajah kepayahan karena sudah berjalan terlalu jauh dari daerah Gunung Sempu ingin menuju Stasiun Lempuyangan, perjumpaan ini memang hanyalah singkat.
Aku berjumpa dengannya ketika hendak melaksanakan Sholat Dzuhur di Masjid Aceh Bugisan, sebelumnya tidak ada niatan utuk sholat di Masjid Aceh, karena perjalananku masih lumayan jauh menuju kota maka aku membelokkan setir motor untuk menuju masjid, sempat terbesit dalam hati, “kali ini aku singgah di Masjid Aceh, suatu saat nanti semoga Allah mengizinkanku untuk menginjakkan kaki di Aceh bertemu dengan saudara-saudara muslim di sana”.
Motor sudah terparkir sesuai dengan motor-motor yang lain, menuju pelataran masjid untuk segera mengambil air wudhu, terlihat seorang ibu kelelahan dengan suara tersedat. “Mbak maaf, apakah di dalam masjid disediakan mukena”, tanya sang ibu. “Iya bu ada”, jawabku singkat.
Sholat rakaat pertama sudah dimulai, dan aku masuk barisan sholat pada rakaat kedua. Setelah sholat berlangsung, ibu menyapa dengan suara lembut, “saya suka melihat mbak berdoa, terlihat khusuk. Sempat sejenak ku terhening atas ucapannya, aku memberikan senyum dan meraih tangan kanannya untuk bersalaman.
“Mbak masih kuliah?, setelah ini mau pergi kemana mbak?, jika berkenan saya mau minta tolong untuk nebeng, saya mau ke Stasiun Lempuyangan, tapi nanti saya turun di lampu merah sejalanya mbak”. Sang ibu berbicara dengan suara lirih dan wajah penuh kepayahan.
“Iya bu bisa, saya juga sekalian mau lewat daerah Stasiun Lempuyangan, ibu sekalian saja saya antar”, ucapku dengan memberikan tawaran.
“Ibu tidak bawa helm mbak, ini nanti selewatnya pas lampu merah saya turun saja mbak,” tangkas sang ibu.
“oh.., kalau semisal gitu, iya tidak masalah bu.., apakah ibu mau lanjut naik angkot setelah turun dari lampu merah?,” tanyaku.
“Ibu sudah tidak ada uang mbak, ini uangnya tinggal Rp 50 ribu, nanti buat beli tiket pramek Solo Rp. 8.000 setelah itu ibu mau naik bis ke Madiun Rp. 42.000, jadi sudah tidak ada uang untuk naik angkot.”
“Ibu ke Madiun mau kemana?, ibu asli orang mana?.” Tanyaku.
“Bukan mbak, ibu orang Madiun, ini ke Jogja ke daerah Gunung Sempu mau minta uang ke saudara saya, namun dia malah lagi di Jakarta, saya butuh uang untuk membayar uang sekolah, tinggal dua hari lagi uangnya sudah harus ada, sementara Bapaknya sudah tidak ada, anak saya tiga, pertama masih SMA, kedua SMP dan ketiga SD. Anak saya yang SD nangis terus, karena sudah nunggak banyak uang sekolahnya, saya dari daerah Gunung Sempu ke masjid ini jalan kaki, karena saya sudah tidak mempunyai uang”.
Aku tercenggang mendengar ceritanya, entah mengapa hatiku merasa miris atas perjuangannya untuk mencari uang, berusaha menemui saudaranya namun tak juga berjumpa. Seringkali ku mengeluhkan atas kehidupan, lupa untuk menoleh pada orang lain, bahwa kesusahanmu kepayahanmu jauh lebih berat orang lain. Keluh kesal memang tidak akan menjadikan lebih ringan justru menjadi semakin menjadi beban berat dan memberatkan langkah.
“ehm…, ibu saya antar langsung ke stasiun, kasihan kalau harus jalan kaki menuju stasiun lempuyangan, karena saya tidak bawa helm, kita ke kos dulu mengambil helm biar kita aman di perjalanan”. Ku mencoba memberikan tawaran dan arahan.
“Apakah ibu tidak merepotkan mbak, saya jalan kaki bisa mbak, nanti setelah lampu merah”.
“Jangan bu, lempuyangan masih terlalu jauh dari sini jika jalan kaki, monggo bu silahkan naik”. Aku mempersilahkan untuk duduk di belakang motor.
Dalam perjalanan, sesekali kita berbincang kembali, menceritakan perjalanan yang sudah ditempuh berjalan kaki dari jam 9 pagi, kalau dilihat dari rentetan waktu, ibu sudah berjalan selama 3 jam untuk menuju Masjid Aceh. Di dalam perjalanan tak henti-hentinya berucap terimakasih dan selalu mendoakan atas segala kebaikan yang akan diperoleh, berulang kali bahkan bisa tak terhitung ucapan terimakasih keluar dari sang ibu.
Setelah mengambil helm di kos yang tidak terlalu jauh dengan Masjid Aceh, kita melanjutkan perjalanan menuju stasiun Lempuyangan, dan kembali ibu berucap terimakasih tak henti-hentinya, “terimakasih ya mbak, semoga mbak segera mendapatkan pekerjaan yang baik, segera mendapatkan jodoh, hidupnya enak dan garis kehidupannya selalu baik.”
“Ibu lihat nasibnya mbak ini bagus dan baik, nantinya akan berlanjut sampai nanti”.
Aku sedikit terdiam mendengar ucap ibu, “ehmmm, gimana bu?”.
Iya, ibu lihat dan merasakan kelak kehidupanmu akan selalu baik mbak, Nash mu bagus”.
Aku meng-Aamiinkan atas doa-doa yang beliau panjatkan, bisa jadi Allah menggerakkanku untuk menghampiri masjid atas doa sang ibu ini, Allah sudah mengaturnya, di dalam hati ku berdoa semoga ini menjadi wasilahku untuk memperlancar segala urusan yang sedang kuhadapi dan kuperjuangkan.
Selang 20 menit perjalnan sampai di stasiun Lempuyangan. “Alhamdulillah sudah sampai, terimakasih ya mbak, maaf ibu merepotkan, semoga Allah yang membalas semuanya”.
“sama-sama bu, hati-hati diperjalanan, terimakasih atas semua doa ibu”.
Kita berpisah di depan stasiun Lempuyangan, ketika membelokkan motor, sekali ku menengok ke belakang dan memastikan ibu baik-baik saya, terlihat wajahnya penuh kepayahan, seorang ibu berjuang sendiri untuk anaknya. “Semoga Allah meridhoi setiap langkahmu bu,” ucapku dalam hati.
***
Hikmah yang kuperoleh hari ini yaitu, “Seberapa banyak orang berterimakasih kepadamu hari ini?”. Sebuah ucapan sederhana namun memiliki kekuatan besar yang mampu menembus langit untuk pencapaian sebuah doa. “Terimakasih”.

2 komentar:

  1. Balasan
    1. cerita di atas bisa kita jadikan pelajaran, bahwa kita harus bisa menjaga orang tua dan jangan menyusahkan orang tua. ^^

      Hapus