Minggu, 05 November 2017

Polemik Adat




Kehidupan mengajarkan banyak hal tentang sebuah perjuangan untuk diri sendiri, untuk keluarga dan untuk orang lain. Perkenalan dengan pemuda berdarah Sunda memberikan buah kesabaran dan keikhlasan. Namaku Nia seorang anak desa hidup dalam ras keturunan asli Jawa, belum pernah tercampur dengan ras lain, orang tua mengajarkan bahwasanya ras, budaya, suku jangan dijadikan pembatas untuk bersosialisasi. Pandanglah seseorang itu dari agamanya, ilmunya, dan akhlaknya.
Setelah lepas SMA, beranjak kuliah di salah satu kampus swasta Yogyakarta dengan mengambil jurusan Ekonomi, memiliki banyak rupawan teman dari berbagai asal daerah, mulai mengenal seperti apa bergaul dengan orang luar Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Sumatra, Sunda dan beberapa orang pribumi asli Yogyakarta. Tidak seperti apa yang diperkirakan sebelumnya, orang baik itu bukan dinilai dari ras atau budaya daerah, namun kebaikan seseorang tercermin dari individu masing-masing.
Pada pertengahan kuliah ku berjumpa dengan seorang pemuda berasal dari Garut Jawa Barat, pemuda tampan, pintar, paras wajahnya putih bersih, tata bicaranya sopan dan santun, namanya Alam semester 6 dari jurusan Manajemen Bisnis, Alam salah satu mahasiswa yang menyandang Duta Kampus, segudang prestasi telah diraih, sudah tentu banyak yang tertarik dengannya.
Pertemuan dengan Alam pertama kali di dalam sebuah acara seminar di Universitas Biru. Aku mengikuti seminar atas delegasi kampus, begitu juga Alam dan beberapa temannya yang merupakan delegasi dari sebuah kampus di Bandung, seminar diadakan dengan mengundang beberapa narasumber Pakar Ekonomi. Aku mengambil jurusan Ekonomi sedangkan Alam mengambil jurusan Manajemen Bisnis.
Pada acara seminar beberapa peserta memberikan ide dan solusi menurunnya perekonomian di Indonesia. Alam mengutarakan ide dan gagasan tentang “Peluang Perekonomian dalam Mengelola Ekspor Impor.” Aku pun tak mau kalah dengan Alam, dia mengutarakan tentang “Potensi Pengembangan Usaha Kecil Menengah (UKM) di Indonesia”. Kita saling memberikan pendapat untuk memberikan solusi.
Presentasi Alam secara tegas memberika solusi atas permasalahan yang ada, tak ada satu bahasa atau satu kalimat terucap salah dalam penyampaian, sesekali aku memandangnya penuh makna, dan beberapa kali Alam mencuri pandangan, Karena kita sedang di acara formal, tidak mungkin kita bisa langsung saling menyapa.
Usai dari acara seminar, Mahasiswa dikumpulkan jadi satu untuk penjamuan penutup acara dan makan malam bersama, disitulah mulai berhamburan dan saling bercakap dengan Mahasiwa lain sambil menikmati jamuan, terlihat dari sudut kanan, seseorang memakai baju biru tua sambil membawa beberapa selembaran brosur, ku mencoba menghampiri dan menyapanya, “permisi…, Anda dari kampus Bandung?,” tanya ku.
“Iya Teh, manga atu brosurnya, ini mah program yang sedang kami gerakkan di Bandung, penyantunan anak yatim dengan memberikan bantuan berupa dana maupun barang.” Alam menjelaskan dengan nada sunda.
 “Jika Teteh berkenan, boleh mengisi data dibuku ini untuk kami jadikan kontak person di organisasi”.
“Aku hanya bisa bergumam mendengar Alam memanggilku Teteh.  Panggilan  yang belum pernah kuterima sebelumnya selain Mbak, Nduk”.
“Iya boleh, nanti jika ada acara bagus, saya bisa dikontak untuk bisa ikut bergabung atau mensupport,” jawab ku dengan mendukung.
Setelah acara selesai, selang waktu satu bulan ada pesan singkat masuk ke handphone.
“Asslamu’alaikum Teh Nia, saya Alam dari mahasiwa Bandung yang ikut seminar di Universitas Biru.” Langsung tersentak hati Nia membaca pesan dari Alam, setelah satu bulan pertemuan dia memberikan pesan singkat, sungguh hati ini berguncang kuat tak henti, jantung tidak normal dalam berdetak, mencoba menormalkan emosi dan tetap tenang.
Setelah beberapa saat memandangi handphone, ku teringat perkataan Alam ketika memberikan brosur bahwa dia memiliki program penyatunan anak yatim. “aduh…, Aku kepedean nih, tidak seharusnya dag-dig-dug seperti ini, dia menghubungiku bukan maksud lain namun ingin memberikan info penyatunan”, Duduk di pelataran sambil menggumam sendiri.
Melewati beberapa menit Aku menjawab pesan singkatnya. “Wa’alikumussalam, iy Mas Alam, ada yang bisa saya bantu?”. Pesan singkat ku kirim untuk mencoba mendatarkan suasana.
***
Alam tiba-tiba datang dalam kehidupan, memberikan informasi mengenai kegiatan-kegiatannya di Bandung, begitu juga dengan kegiatan-kegiatanku di Yogyakarta, berkomunikasi menjadi suatu keseharian diantara keduanya, bahkan mengenai tugas kuliah seringkali mereka bertukar pikiran.
Setelah beberapa waktu kemudian, Alam mengutarakan maksud perasaanya. Tepat ketika hari ulang tahun Alam, Aku memberikan ucapan selamat atas hari lahirnya melalui pesan singkat di handphone, tanpa diduga-duga Alam mengutarakan keseriusan.
“Teh, ada keingginan terbesar saya tepat di hari lahir ini, saya bermaksud ingin mengutarakan keseriuasan dengan Teh Nia yaitu meminangmu”.
Aku tersentak, mata ini terbelalak membaca pesan singkat dari Alam, “ini orang beneran bilang seperti ini, apa jangan-jangan hanya sekedar bercandaan semata.”  Polemik mitos jawa dan sunda masih dijadikan masalah besar pada beberapa masyarakat yang masih mempercayainya, jika keluarga Alam masih termasuk dari salah satunya, apakah aku bisa diterima di keluarganya.
“untuk saat ini saya belum bisa mengambil keputusan, namun secepatnya saya akan memberikan informasi”, pesan singkat terkirim kepada Alam.
***
Libur semester telah datang disaat yang tepat, waktu yang tepat untuk pulang ke kampung halaman, “Aku ingin meminta pertimbangan ke Ibu, jika Ibu mengizinkan maka aku akan pertimbangkan tawaran dari Alam”, gumam ku.
Sesampainya dirumah, ketika waktu pagi sudah menghampiri, dapur mulai terlihat asap mengepul dari sudut panci, ku mencoba mengawali pembicaraan dengan Ibu, namun masih saja kegelisahan di pikiran dan di dalam hatinya terus saja menganggu.
Kenapa perempuan Sunda bukan untuk lelaki Sunda. Kenapa larangan ini hanya untuk Jawa dan Sunda, kenapa tidak dengan suku-suku lain di tanah air. Aku menyadari bahwa konon katanya perkawinan antara Jawa dan Sunda akan mengakibatkan hal buruk menimpa pada pasangan ini selama hidupnya.
But who knows only God knows..!!!”. Sentak hati dalam lamunan panjangnya, ku mencoba menenangkan diri, teringat akan Hadis: “Perempuan itu dinikahi karena empat hal: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, atau karena agamanya. Pilihlah berdasarkan agamanya agar engkau beruntung”. (HR. Bukhari dan Muslim).
***
“Nduk…”, terdengar suara Ibu dari dapur memanggil, “dalem buk..”, sahutku dan langsung menuju dapur.
“Bu…, Saya mau cerita, hemmmm sekarang lagi dekat dengan seseorang, namanya Alam dia pemuda asal Garut, sekarang sedang menyelesaikan kuliahnya di Bandung, jika Nia menerima dia apakah Ibu tidak mempermasalahkan karena dia orang Sunda?.”
“Ibu tidak mempermasalahkan kamu menikah dengan siapa, yang penting agamanya bagus, itu sudah cukup untuk menjagamu, namun Ibu hanya khawatir apakah keluarganya bisa menerima keluarga kita, menerimamu dari keluarga Jawa,” Ibu menjelaskan sambil meracik bumbu di dapur.
“Lalu kenapa orang-orang mempermasalahkan perempuan Jawa tidak boleh menikah dengan laki-laki Sunda,” gumam Nia penasaran dengan mitos yang ada.
“Tidak semua orang masih mempermasalahkan Nduk, saat ini memang bukan zamannya lagi mempermasalahkan ras dan budaya.”
Aku terdiam sunyi, memahami atas petuah yang diberikan oleh ibu, raut muka ini masih penuh dengan tanya, namun hati ini menyadari bahwa perlu adanya komunikasi lebih serius untuk menjawab kegelisahan ini.
“Hanya saja perlu kamu bicarakan dengannya, apakah keluarganya sama dengan keluarga kita yang tidak mempermasalahkan Jawa dan Sunda,” Ibu dengan tenang menjelaskan, seakan memahami raut muka ini.
“Kenapa orang-orang dulu mempermasalahkan pernikahan Jawa dan Sunda, Sunda juga masuk Jawa lho, Jawa Barat,” Aku masih bersikeras ingin mengetahui.
Ibu mengambil nafas panjang lalu menjelaskan kepada Nia kenapa mitos itu bisa lahir di tanah air ini, “Dahulu kala, Prabu Hayam Wuruk ingin memperistri putri Dyah Pitaloka dari Negeri Sunda, awal niat pernikahan itu adalah untuk mempererat tali persaudaraan yang telah lama putus antara Majapahit dan Sunda, namun didalamnya ada unsur politik yaitu untuk mengikat persekutuan dengan Negeri Sunda. Hayam Wuruk mengirimkan surat kehormatan untuk melamar Dyah Pitaloka dan upacara pernikahan dilangsungkan di Majapahit. Raja Sunda datang beserta permaisuri dan putri Dyah Pitaloka Citraresmi diantar hampir seluruh pembesar Galuh, sesampainya Raja Sunda, Mahapatih Gajah Mada terbesit ingin menguasai Kerajaan Sunda. Gajah Mada ingin memenuhi Sumpah Palapa, sebab dari berbagai kerajaan di Nusantara yang sudah ditaklukkan Majapahit, hanya kerajaan Sunda lah yang belum dikuasai. Gajah Mada membuat alasan bahwa kedatangan rombongan Sunda adalah bentuk penyerahan diri Kerajaan Sunda kepada Majapahit. Hayam Wuruk menerima Dyah Pitaloka bukan sebagai pengantin, tetapi sebagai tanda takluk Negeri Sunda pada Majapahit.”
***
“Aku menyadari Bu.., kita berasal dari keluarga Jawa, lalu apakah permasalahan Nenek Moyang terdahulu dikaitkan dengan masa sekarang, tidak kah kita berfikir sejarah memang mencatatkan demikian, tapi perubahan pastilah ada.” Nia mencoba memberikan penjelasan apa yang sudah diketahui olehnya.
“Ibu tidak mempermasalahkan Jawa dan Sunda Nia, Ibu hanya khawatir apakah keluarga Alam mau menerima keluarga kita, coba Nduk tanyakan, apakah keluarganya tidak keberatan dengan masuknya Nduk ke keluarganya.”
“Baik Bu,” jawab Nia.
“Jika dia serius, Ibu titip pesan untuk segera datang ke rumah menemui Ayahmu, sebelum dia datang kerumah, minta pertimbangan dulu ke orang tuanya, jika orangtuanya mengizinkan, maka mudahlah dia meminangmu nak,” petuah Ibu kepada Nia.
“nanti Nia sampaikan ke Alam bu,” jawab Nia dengan senyum lesung pipitnya di sebelah kiri.
***
Dua adat istiadat yang sudah sangat umum pembahasan di masyarakat, Jawa dengan karakter pekerja keras dan Sunda dengan kelembutannya, keduanya memiliki adat istiadat berbeda dan punya cerita dalam sejarah nenek moyang. Para orang tua memberikan petuah kepada anak keturunan mereka dengan berdalih bahwa orang Jawa tidak boleh menikah dengan orang Sunda. Orang Jawa memberikan penilaian kepada orang Sunda, begitu juga dengan orang Sunda, keduanya sama sama memiliki penilaian postif dan negatif.
Setelah perbincangan dengan ibu, tak pikir panjang aku mencoba menuliskan beberapa kalimat pada pesan pendek tertuju kepada Alam, “Assalamu’alaikum Alam, saya sudah membicaraka terkait keseriusan Alam, Ibu membuka izin untuk Alam, namun saya perlu ketegasan apakah anda benar-benar serius, dan apakah keluarga besar Alam mau menerima keadaan keluarga saya dengan asli ras Jawa”.
Selang beberapa menit Alam memberikan balasan singkat, “Wa’alaikumsalam, iy Teh saya akan bicarakan kepada keluarga besar di Garut, setelah sayamendapatkan semua kelputusan dari keluarga saya akan menghubungi segera”.
***
Tak ada kabar bersua, informasi tak kunjung datang, dia hilang tanpa kabar berita. “sudahlah mungkin dia sudah lupa atau keluarganya tidak menyetujui”, gumam ku.
Entah apa yang ada dibenak ini, kekhawtiran terus menghantui, terbesit akan keingginan mengetahui apa yang terjadi sebenarya. Pesan singkat tiba-tiba masuk dalam hanphone ini, salah satu temanya Fahri memberitahu bahwa dia sedang dalam kesulitan besar, keluarganya sangat marah karena diam-diam keluarganya selama ini sudah menjodohkan dengan sosok wanita cantik di daerahnya, dia pun tidak memahami sebelumnya. Aku hanya terdiam membisu di pojok kursi depan rumah memandangi pesan singkat.
Perlahan air mata menetes mengaris pada sela sela kulit wajah, mataku memerah, badanku gemetar tak kuat menahan emosi, tak kuasa jika hal ini terdengar oleh ibu, setelah sekian lama ku menunggu informasi tak kunjung pada jawaban keingginan hati.
Mencoba menghibur diri dan memasrahkan atas kehendaknya, semoga Allah memberikan yang terbaik.

2 komentar:

  1. 😭😭😭 sakit... Tp keren ya. Suka saya kalau ttg adat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih Laila.., untuk penulisannya masih perlu diperbaiki lg,
      cup...cup..cup jgn sedih ya, adat ada bukan dijadikan sebagai pembatas, perbedaan adat akan menjadi indah jika saling menghormati dan menghargai.

      Hapus