Sabtu, 04 November 2017

Sarapan Pagi



Pembuka hari untuk mengawali aktivitas, sang Ibu menyiapkan untuk segera memasak dengan sigap dan cepat, waktu memburuinya untuk menyelesaikan kudapan sarapan. Empat anaknya bersiap diri untuk sekolah, terlihat mereka bergantian dalam menggunakan kamar mandi, dari kejauhan terdengar suara memburui satu sama lain. Suatu aktivitas pagi yang sangat dirindukan suatu hari nanti.
Sekarang empat anaknya sudah tak berada dirumah lagi, mereka sudah memiliki kesibukan masing-masing, anak pertama kedua dan ketiga sudah berkeluarga, tentu diikuti dengan bonus yang didapatkan yaitu cucu-cucu menggemaskan.
Berjalannya waktu berlalu membuat kesepian sang Ibu dan Ayah, mereka hidup hanya berdua, anak bungsunya masih kuliah di luar kota. Sangat jarang pulang ke kampung halaman. Terkadang ibu merindukan masa-masa keriuhan pagi, saling berebut kamar mandi dan sangat rindu suara anak-anak memanggil untuk menanyakan sarapan dengan wajah terburu-buru, “ibu apakah nasinya sudah matang, sarapan pagi ini lauk apa?”. Dan tak jarang jika sudah mendekati hari tua, lauk krupukpun jadi untuk menemani sepiring nasi putih sebagai sarapan pagi.
Pernah suatu ketika anak bungsunya bertanya kepada sang Ibu, “bu adik ingin makan ayam goreng atau ayam dibumbu merah pasti enak”, sang ibu hanya bisa menghela nafas panjang sembari mengalihkan wajah karena tak mau terlihat sedih di depan anaknya.
“besok kalau Ayah sudah dapat uang kita masak ayam goreng ya,” ibu berucap sambil mengelus kepala anak si bungsu.
Perekonomian memang sebuah permasalahan roda kehidupan bagi keluarga, orang memandang tak sama seperti wujud sebenarnya, penilaian sepihak sering kali tak sengaja menindas keluarga kecil ini. Terlihat seperti ada namun tak sesuai dengan kenyataan, dinilai tak ada tapi ada meski seringkali kekurangan. Hanyalah ucap syukur yang mampu menenangkan gumamnya kegelisahan hati duniawi.
***
Tak kunjung juga kebutuhan tercukupi, sang Ayah sudah berusaha dengan mencari pekerjaan tambahan, namun tetap saja tidak mampu mencukupi semuanya, himpitan ekonomi memberikan banyak dilematik keluarga, kebutuhan gizi yang seharusnya terpenui malah terkurangi, gizi tak lagi dipiirkan, yang terpenting berat karbohidrat mampu mengisi perut kosong.
Hingga suatu masa desakan ekonomi semakin mencekam, medesak dan menusuk disela-sela nafas kehidupan keluarga. Ayah mendapatkan info bahwa salah satu temannya mempuyai penyalur tenaga kerja untuk TKW (Tenaga Kerja Wanita), akan sangat mudah jika melalui teman ayah. Gejolak hati mulai menggerogoti pikiran untuk menerima tawaran TKW, dengan iming-iming gaji sekian juta dalam waktu sebulan.
***
Dalam dekapan malam panjang sang Ayah memberikan wejangan pada Ibu mengenai penawaran TKW dari temannya, “bu, tadi ayah bertemu sama teman waktu masa sekolah dulu namanya Pak Suwarno, sekarang kerja di Biro Penyaluran TKW (Tenaga Kerja Wanita), dia menawarkan jika ada tetangga atau keluarga yang sedang membutuhkan pekerjaan bisa melalui Pak Suwarno, gaji yang ditawarkan lumayan besar bu”.
Ibu terdiam dalam desakan hening malam, wajahnya sendu tak beraura, hanya hela nafas terdengar.
Tak menunggu waktu untuk Ibu memberikan jawaban, Ayah sontak memberikan penjelasan untuk meyakinkan, “kalau semisal ayah boleh berangkat, tidak masalah bu, tapi masalahnya itu khusus wanita.”
Secara tidak langsung sang ibu menyadari, ayah mengiginkan ibu berangkat kerja menjadi TKW, memang gaji yang ditawarkan bisa membantu menopang ekonomi, namun sang ibu masih kepikiran dengan anak bungsunya yang masih kelas 3 SD, tak tega ibu meninggalkanya sendiri.
“Kalau ibu berangkat jadi TKW, si bungsu gimana yah?”,tanya Ibu.
“Jangan khawatir bu, dirumah masih ada kakak-kakaknya ada ayah juga, dia tidak sendirian di rumah, toh masih banyak saudara juga disini”, sang Ayah mencoba menenangkan Ibu.
***
Keesokan harinya sang ibu mulai berbicara dengan si bungsu, berat rasanya untuk mencoba memberikan arahan bahwa sang ibu sebentar lagi akan pergi jauh untuk beberapa waktu, meninggalkan suami dan anak-anaknya, tak kuasa hati menahan rasa sakit menyesakkan dada, namun harus ada tindakan untuk menggapai perubahan. “Dek ibu mau menyampaikan sesuatu, tapi tidak boleh sedih ya, adik ingin boneka baru tidak atau gelang cantik, baju baru”, sang Ibu merayu dengan mata berkaca-kaca.
“Mau banget bu, adik pingin baju baru, bisa makan makanan enak, punya boneka, punya gelang, tapi…., apakah ibu mau membelikannya?”. Tangkas Adik.
“Pasti nanti ibu belikan kalau uangnya sudah ada, nah biar ibu ada uang buat beliin keingginan adik, ibu mau kerja di tempat jauh disana”. Sang ibu mencoba memberikan iming-iming.
“Nanti adik sama siapa bu, yang masakin nanti siapa”?
Sebenarnya sang ibu tak kuat hati untuk berbicara lama-lama, mencoba mengotrol nafas dan mencoba menenagkan si bungsu, “tidak perlu khawatir, di rumah ada ayah dan kakak-kakak, mereka akan menjagamu, adik yang pintar ya.., tidak boleh nakal.”
***
Setelah persiapan sudah dirasa cukup, administrasi terlengkapi, keluarga sudah dikondisikan dengan baik, maka keberangkatan hanya tinggal menunggu hari. Terasa berat diantara semua anggota keluarga, namun langkah sudah diambil keputusan.
Hari pertama setelah keberangkatan sang Ibu, rumah terasa sepi, hening angina menyusuri korden merah dalam rumah tamu hanya membisu bersama lambaian angin, sang ayah semakin tak menentu, mengurus keempat anaknya sendiri, si bungsu hanya bisa meratapi di depan foto sang ibu, sambul menengadah ketasa melihat foto ibu dengan mata memerah, sang kakak pertama tak tega melihatnya.
Keputusan sang ibu untuk berangkat menjadi TKW bukan mengurangi beban keluarga, namun sebaliknya. Tak lama setelah keberangkatan berlangsung, ada kabar dari biro jasa penyalur TKW bahwasannya minimal pekerja TKW harus satu tahun bekerja, jika kurang dari satu tahun menggudurkan diri akan terkena pinalti.
Sang ayah menyadari ibu tak sanggup lagi bekerja di luar sana, goncangan iman sangat terasa, untuk melaksanakan sholat sangat diperslit, ibu tak mau bertoleransi jika bekerja pada seseorang namun sungguh dipersulitkan dalam ibadah.
Ibu memberikan surat kepada ayah untuk segera membayar pinalti ibu agar bisa pulang segera, ayah merasa bersalah atas apa yang diperbuat. Tak lama kemudian sang ayah mencari pinajamn sejumlah uang untuk membayar kepada biro TKW atas pinalti pekerjaan.
Awal dari niatan bekerja menjadi TKW untuk membantu menopang ekonomi keluarga, namun kenyataanya justru sebaliknya. Praduga tak selalu sejalan apa yang dipikirkan sebelumnya, tidak ada yang perlu disalahkan, karena apa yang menurut kita baik belum tentu baik bagi diri kita.

0 komentar:

Posting Komentar