Jumat, 29 Desember 2017

28 Desember 2017



“Masih ingatkah dengan doa yang kamu panjatkan ketika dua tahun lalu tepat 28 Desember 2015, masihkah sama dengan tahun ini, masihkah terniang dalam harapanmu untuk segera mewujudkan, sebelum waktu menarikmu untuk kembali”. Gumamku setelah mengucapkan selamat ulang tahun.
Tepat perjalananmu memasuki 27, langkah-langkah penentu menentuan pilihan dalam hidup. Tanganku hanya mampu menengadah berdoa dan berucap melalu pesan singkat “Alhamdulillah Desember penuh berkah dan ceria”. Ungkapanku dengan memberikan emotion senyum selayaknya ikut berbahagia, namun berkebalikan.
Kesedihan ini bukan karena hari ulang tahunmu, namun sebab lain menggusikku, aku memahami kamu menyadarinya dan merasa terusik apa yang sedang kualami. Ada satu pertanyaan sebenarnya ingin kulontarkan kepadamu. “Apa harapan yang paling kamu ingginkan bertepatan dengan hari lahirmu, apakah harapanmu masih sama seperti dua tahun yang lalu. Doa-doa apa saja yang kamu panjatkan bertepatan dengan langkah 27mu”.
Berangggggg…..!
“Kifa…, bantu Ibu nak”, suara Ibu terdengar dari dapur, seperti ada suara berjatuhan di atas rak piring.
“Iya Bu, sebentar”. Segera kuberanjak menuju dapur, terlihat beberapa piring berceceran tak beraturan, gelas-gelas melompat berjauhan dan beberapa perabot lain retak, pecah.
“Ini kenapa semuanya berantakan Bu”, aku membereskan dan menata kembali, namun kenapa ibu terlihat sedih dan murung”.
“Ibu tadi tidak sengaja nabrak rak piring ini, jadi terlempar semua barang-barang yag ada di rak”, sambil menata terdengar nafas ibu masih tak beraturan, mengambil satu persatu perabotan untuk diletakkan kembali di posisi semula.
“Aku menyadari Ibu seperti ini karena kegundahannya dalam penantian akan hadirnya seorang laki-laki untuk menjagaku, aku memahamimu Bu, tapi apalah daya Mas Wijaya belum juga segera ke sini dengan keluarganya, ingin sekali sebenarnya kudesak pertanyaan, namun hakku apa”. Gumamku.
“Ibu kemarin malu Kif setelah ditegur sama tetangga”.
“Ibu malu kenapa, mereka menegurnya seperti apa?”.
Walah Bu Wid, anak bungsumu itu lho nungguin apa lagi, katanya sudah punya calon, kenapa tidak segera diresmikan saja, emangnya Bu Wid sama Mbak Kifa nunggu apa lagi, “Ibu ditegur seperti itu binggung jawabnya, mau bilang masih nunggu selesai kuliah, lha nyatanya udah selesai.”
Nafasku semakin sesak saja dengan keluh kesal Ibu, sekaligus setiap hari dipenuhi pertanyaan-pertanyaan tetangga tak kunjung selesai, seperti ada sesuatu dan mereka harus segera mendapatkan jawaban, lalau apa yang harus kuperbuat untuk saat ini.
“Ibu sabar ya, Kifa masih mencoba mencari waktu yang tepat untuk membicarakan hal ini dengan Masa Wijaya, karena Kifa juga perempuan Bu, tidak enak juga jika teralu memaksa kehendak kepada seorang laki-laki”. Jawabku sembari menenagkan kegundahan Ibu yang masih terlihat di garis keriput wajahnya.
***
Selang perbincangan dengan Neng Rene, yaitu satu-satunya saudara perempuan yang kumiliki, kita membicarakan banyak hal dan termasuk kegundahan yang Ibu tumpahkan ditengah-tengah perbincangan kita. Keringat dingin kembali bercucuran tak henti di sela-sela kulit, mataku memerah dan suaraku sedikit tersedak.
“Ibu sudah capek Kifa, jika keadaanya terus seperti ini dan Mas Wijaya tidak memberikan kepastian, maka Ibu tidak segan-segan akan meminta bantuan ke Mas Basev untuk segera mencarikanmu jodoh, butuh berapa lama lagi buat menunggu, umurmu sudah berapa sekarang?, tak bagus menunda-nunda itu”.
“Iya Bu, Kifa faham apa yang Ibu rasakan, tapi Kifa harus berbuat apa, sudah beberapa kali kubicarakan ke Mas Wijaya, namun…”.
“Namun apa?, tu kan Ibu dah firasat, kayaknya dia tidak serius untuk mensegerakan, kalau kayak gini, sudahlah Ibu suruh carikan kenalanya Masmu si Basev, biar dia yang mencarikan”.
“Gak baik juga lho Bu memaksa, Kifa juga butuh waktu Bu, jodoh itu tidak bisa kita paksakan dan kita tentukan waktunya, semua ada masanya. Neng Rene mencoba menenangkan Ibu.
“Tapi Kifa, kamu juga perlu membicarakan hal ini serius dengan Wijaya, kamu cari waktu yang tepat dan hati-hati ketika berbicara, karena tidak baik juga seorang perempuan memaksakan kehendaknya dengan sangat terburu-buru”. Saran Neng Rene memberikanku seonggok ketenangan, meskipun hatiku masih gelisah tak menentu.
“Tolong segera dipastikan Kifa, Ibu tidak bisa menunggu terlalu lama, Ibu dan Ayah sudah tua, tinggal kamu anak bungsu Ibu yang belum menikah, jangan sampai Ibu tidak punya waktu lagi menyaksikan kamu menikah”.
“Ibu jangan bilang gitu, itu gak baik Bu”. Sanggahku.
“Kita tidak tahu, kapan waktu menjemput untuk kembali, maka dari itu sebelum waktu Ibu habis, ingin rasanya melihat anaknya menikah”.
“Iya bu, Kifa mengerti”.
Aku masih terdiam duduk termanggu sambil menata nafasku yang semakin terdesak oleh waktu, tetes air mata kubendung secara kuat agak tak terjatuh di tengah-tengah kegundahan Ibu, tanganku menahan dingginya keringat yang masih saja bercucuran. Lalu apa yang harus kuperbuat saat ini, apakah hanya diam menunggu kepastian atau meminta kepastian.
***

6 komentar:

  1. Semoga cepat dipertemukan jodohnya ya mbak Kifa

    BalasHapus
  2. masya Allah... aku lagi. wkwkwkwkwk
    aamiin....
    ehmmm

    BalasHapus
  3. Aku jadi tukang php wkwkwk.. Owh iyya Basayev namanya yg bener wkwkwk

    BalasHapus
  4. Semoga segera disahkan hihihi,

    BalasHapus
  5. Semoga segera ya mba kifa😆

    BalasHapus
  6. Kifa-Kifa......dimana jodohmu

    BalasHapus