Minggu, 24 Desember 2017

Anak Zaman Old




Masa jambu monyet, bau kencur dan perumpamaan tangan kanan disalingkan ke atas untuk meraih telinga kiri, mungkin ini yang sangat pas untuk di posisikan pada anak  zaman old. Mereka masih menikmati masa-masa berlari kesana kemari dengan teman-teman, menikmati permainan gobak sodor, sonda, lompat tali dengan karet gelang, petak umpet, masak-masakan (bukan masak beneran), buat boneka pakai pelepah pisang dengan rambut boneka dari daun pisang disuir-suir, mengajak segerombolan teman untuk menunggu manga jatuh ketika siang hari, membuat tenda di belakang rumah dengan mengumpulkan bekas-bekas sarung untuk didirikan tenda, mencari ikan-ikan kecil di sungai.
Masa anak zaman old yaitu 90-an memiliki kreativitas tersendiri dalam bermain, sudah tidak dipungkiri lagi, selesai pulang sekolah ganti baju, makan, langsung cus mencari teman untuk diajak bermain bersama. Tidak ada rasa khawatir bagi setiap orang tua jika ada anaknya bermain bersama teman yang lawan jenis, karena tidak ada sedikitpun terbesit pikiran untuk melakukan hal tidak diinginkan. paling-paling nangis karena kalah permainan.
Asma, begitulah orang-orang memanggil, tinggal di Desa Kepeksan bersama kedua orang tua dan ketiga saudara. Banyak yang mengatakan Asma adalah si bungsu imut dan cantik, memiliki daya tarik tersendiri meskipun hidungnya tak akan terlihat jika sudah berjarak 10 meter.
Setiap hari Asma berangkat ke sekolah berjalan kaki dengan teman-teman dan terkadang berangkat sendiri, jarak antara rumah dan sekolah tidak terlalu jauh, hanya berkisar beberapa langkah dari rumah.
Menjelang kelas 5 SD, mualilah zaman-zamannya seorang anak ingin mengetahui apa itu “Cinta”, sebuah ungkapan satu kata yang masih terlalu dini untuk mereka, seonggok ilmu yang mereka pahami tidak mampu memecahkan permasalahan apa itu sebenarnya perasaan yang dituangkan kepada lawan jenis dengan hanya senyuman atau hanya sebatas salam manis dari si “ehem”, atau hanya sekedar penulisan nama di papan tulis yang bertuliskan “Asma dan Heru”. Sebuah keunikan yang terniang dan menggelitik jika diingat zaman now.
Heru, terpaut dua tahun diatasnya Asma, mereka memang bukan satu sekolah, melainkan satu TPQ (Taman Pendidikan Qur’an), setiap hari mereka dikumpulkan menjadi satu grup untuk mengaji sesuai dengan tingkatan kemampuan. Heru memiliki suara indah dan merdu, makharijul hurufnya bagus dan selalu mendapatkan nilai baik dari Ustadzah.
Asma diam-diam menyukainya, entah dari mana perasaan itu tiba-tiba muncul, dengan anak seumuran SD mampu merasakan hati berbunga-bunga, merasakan kagum dan ingin mengetahui lebih dalam. “Siapakah Heru?”.
Hingga pada suatu waktu obrolan anak ingusan mulai saling menceritakan antara perasaan kepada teman sebaya. Ana, yaitu teman akrab Asma di sekolah dan TPQ, keduanya sering berdua bercengkrama dalam banyak hal, hingga pada suatu perbincangan dimulai.
“Eh An, teman kita yang keren-keren siapa saja ya”. Tanya Asma.
“Kalau menurutku ya Aan dong, dia kalem lembut dan gak banyak tingkah, sopan lagi”. Ana menceritakan Aan dengan raut muka berbunga-bunga, dan sudah jelas tertangkap bahwa dia sebenarnya mengagumi Aan.
“Kalau menutmu”, dia balik tanya.
“Kalau menurutku,..” jawab Asma masih tersendat oleh lidah kaku, masih ragu akan mencetuskan nama Heru.
“Hayo siapa?”.
“Heru”.
Respon Asma menjawab Heru membuat Ana tercengang dan mulai melihat wajah Asma secara mendalam, ada seseuatu yang dia tangkap dari raut wajah sesungguhnya, entah dalam benak pikirnya apa, Asma semakin terusik dengan tatapannya.
“Kenapa Heru, dia kan bukan teman sekelas kita, dia dari sekolah lain, meskipun kita satu kelas di TPQ.
“Memang dia bukan teman sekelas kita, menurutku dia pintar dan sholeh, ngajinya bagus, hanya itu saja menurutku”. Asma mencoba menyembunyikan dari Ana apa yang sebenarnya dia pendam, karena menyadari bahwa sekarang belum saatnya, masih ada waktu panjang yang harus dilalui untuk meraih cita-cita untuk masa depan lebih baik.
“Kamu suka Heru”. Sontak Ana.
Wajah Asma memerah, mata terlihat kebingunggan dan suara terbata-bata untuk menjawab,”ehmmm gk kok, hanya megagumi sebatas teman sekelas di TPA dan dia memiliki penilaian bagus dari Ustadzah”.
***
Sore hari setelah semua orang dan anak-anak TPQ sudah melangkahkan kaki untuk kembali ke rumah masing-masing. Asma masih asyik bermain di halaman TPQ yaitu membuat rumah-rumahan dari pasir dengan membentuknya beberapa kotak untuk dijadikan ruangan-ruangan. Terlihat dari jarak kejauhan anak laki-laki memakai peci hitam dan berbaju koko, dia melewati Asma sembari senyum, dia kembali ke kelas TPQ untuk mengambil buku ngajinya yang tertinggal, entah bagaimana mengkiaskannya seorang anak kecil SD mampu tersenyum bahagia melihat dia tanpa ada orang sama sekali. “Ah.. sungguh beruntung kamu Asma bisa melihatnya tersenyum, meskipun dia tidak tahu kalau selama ini kamu menggaguminya”, gerutu Asma sambil menahan rasa malu.
Asma menyadari bahwa ini belum saatnya, maka biarlah ini menjad sebuah cerita zaman anak 90an dengan segala macam kreativitas berkarya, sudah saatnya untuk melangkahkan kaki lebih jauh dan lebih terdepan, masa depan sudah menanti utuk diraih, Heru hanyalah seonggok cerita, masih ada hal yang harus diperjuangkan.

17 komentar:

  1. Balasan
    1. kalo cinta monyet, brrti yg saling suka siapa donk? wkwkwkwk

      Hapus
  2. Mas heru mampu mengambil hati asma ciye๐Ÿ™ˆ

    BalasHapus
  3. Cie cie... kenangan tak terlupakan. Saat dewasa pernah ketemu lagi nggak ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. sudah tidak pernah ketemu, kabarnya juga sudah tahu. ^^

      Hapus
  4. Jadi flash back ke mainan jaman dulu, boneka dari pelepah pisang. Mainan tanpa resiko radiasi kaya jaman sekarang ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜…

    BalasHapus
  5. wahhh jadi kids jaman old gitu ya... (sok muda)

    BalasHapus
  6. Ah...senyumannya saja bisa membuat rasa itu hadir....zaman dulu, saat rasa begitu sederhana...

    BalasHapus
  7. First love-nya anak jaman old hehehhe

    BalasHapus
  8. jangankan senyum, lewat di depan aja dulu rasanya seperti ada genderang perang dalam dada saya, hehhe cieeeh.. #anakzamanold

    BalasHapus