Rabu, 13 Desember 2017

Bapakku tak Berada



Hujan menderas kencang sembari kedua amarah membakar seluruh kekecewaan, Angin mengoyak dedauan kasih dan mengugurkan bunga keindahan keluarga. Gemuruh menghantam bersahutan, menerobos derasnya emosi, melarikan janji yang pernah terucap dalam sebuah kepastian. Keluarga kecil Walningsih hancur berkeping tak berbentuk, tinggallah segelintir cerita untuk menghiasi kenangan.
“Perjalanan hidup seseorang tak semuanya indah anakku”, ucap Walningsih kepada Damar dalam sebuah keheningan malam sembari menikmati derasnya hujan yang terdengar menghantam atap rumah.
 “Lalu bagaimana caranya indah Bu?, Damar takut”. Damar mendekap erat dipelukan sang Ibu, terdengar tangis isaknya.
“Tidak perlu takut Damar, ada Ibu di sini yang selalu menjagamu, meski Bapakmu sudah meniggalkan kita dengan wanita lain, kita harus kuat harus berjuang menjalani kehidupan, Allah mboten sare Mar”. Ibu mencoba tegar dan memberikan kekuatan kepada anaknya, karena kehidupan ini hanyalah milik Allah, manusia hanya sebagai dalang untuk mampu menjalani dan mensyukuri.
Malam sudah menjadi gelap dan menuju keheningan, beberapa kali terdengar hewan-hewan malam bersahutan. “Ayo nak waktunya tidur, malam sudah semakin malam, besok Damar sekolah, subuhnya harus tepat waktu ya”.
“Ngeh Bu”, Damar sembari menata kembali buku-buku yang akan dipelajari besok, dan bergegas menuju kamar tidur.
***
Setiap pagi setelah sholat subuh, Walningsih mengayuh sepeda menuju SD Miftahul Ulum. Satu persatu membuka pintu kelas untuk dibersihkan, menyapu di sudut-sudut bangku dan menggumpulkan plastik sisa jajanan anak sekolah, jika ada sampah berupa botol bekas Walningsih menggumpulkan untuk di jual ke penggepul sampah.
Seringkali orang-orang sekitar memanggilnya Mbak Wal, sang tukang sapu di sekolah anakanya. Pihak sekolah memberikan keringanan pembayaran sekolah untuk Damar, memang tidak bisa sepenuhnya membantu perekonomian keluarga Walningsih, namun itu sudah sangat disyukuri bagi mereka untuk tetap bisa sekolah dan menjalani kehidupan selayaknya keluarga yang lain.
Selesai membersihkan sekolah, dilanjutkan bekerja sebagai buruh petani di beberapa pemilik sawah, pekerja keras membutnya lebih cepat tua dan berwajah kusam, tekatnya untuk membiayai sekolah Damar tidak pernah surut dibuatnya, pasti ada jalan dan pasti ada rizki.
***
Menjelang sore hari, Mbak Wal pulang dari ladang sembari membawa sayuran dari tetangga. Damar menyambutnya dengan gembira sambil menundukkan kepala meraih tangan kanan sang Ibu untuk mencium tangan perjuangan.
“Bagaimana sekolahmu hari ini nak?”
“Alhamdulillah lancar Bu, Damar dapat nilai Bahasa Inggris 100”.
“Wah hebat anak Ibu nih”. Sembari mengusap kepala Damar karena kagum kepintaran anaknya.
“Ibu pasti capek kerja seharian seperti ini, mengurus Damar dan harus bekerja semrabutan”. Tanya Damar sambil memijat pundak Ibu.
“Saat ini Ibu masih mampu mengurusmu nak, kelak jika Ibu sudah tua, maukah dirimu merawatku nak?”. Tanya sang Ibu
“Selagi Damar memiliki umur, pasti Ibu akan selalu kurawat, Ibu tidak perlu khawatir akan hari tua nanti”.
“Nak.., meskipun kita hanya tinggal berdua, jangan pernah membenci Bapakmu, Ibumu ini menyadari kalau Ibu dari keluarga miskin tidak punya kekayaan dan pendidikan. Dulu Ibu menerima tawaran Bapakmu untuk menikah dengan ikhlas, meskipun hanya dengan nikah siri".
“Tapi bapak sudah menyakiti Ibu dengan memilih wanita lain, Bapak meninggalkan kita Bu”.
“Ibu sudah menyetujui Bapakmu menikah lagi, Ibu hanya meminta Bapakmu bahwa kamu adalah anaknya dan itu sudah cukup, biarlah kita seperti ini. Jadilah anak pandai, jadilah anak yang membanggakan, jadilah seorang laki-laki bertanggung jawab. Jadilah kelak seorang pemimpin nak. Jangan jadikan minder karena Ibumu orang biasa, tapi jadikan dirimu menjadi laki-laki mandiri dan tangguh dalam segala hal.”
“Aku akan selalu mengingat pesanmu Bu”.
Sejenak keduanya membersamai dalam lembutnya angin sore di pedesaan, tampak keduanya saling menyayangi dan melindungi. Siapa yang tidak ingin memiliki keluarga utuh ada seorang Bapak dan Ibu di rumah. Damar memang tidak seberuntung anak-anak seusianya, bahkan seringkali dia mendapatkan ejekan teman-temannya karena tidak memiliki figure Bapak, meskipun demikian tidak pernah diceritakan kepada sang Ibu, cukup dia yang menyimpan semua kepahitan yang tidak perlu dibagi.
“Ibu tidak ingin menikah lagi?”, tanya Damar.
“Buat apa nak.., jika Ibu masih kuat mengurusmu dan menjagamu itu sudah cukup. Tetaplah menjadi anak Ibu, apapun yang terjadi nanti.”
“Iya bu, Damar Janji”.
Keduanya menerima keadaan keluarga dan nasib yang sudah ada, menurut Damar dan Walningsih “Terimalah apapun nasibmu dengan ikhlas dan perjuangkan Takdirmu untuk menjadi lebih baik, bukankah Takdir seseorang akan berubah jika manusia itu mau mengubahnya.”

0 komentar:

Posting Komentar