Jumat, 15 Desember 2017

Fika



Penghijauan rumput di pedesaan membersamai langkah-langkah kecil bersahutan, mereka berlari dan berbelok sembari menggumandangkan irama kebahagian, bebek-bebek kecil berlarian kesana kemari, menyeru suara bertalian kebahagian akan kebersamaan bersama teman-temannya. Sungguh sangat luar biasa desa ini. Penuh kerimbunan pohon dan beberapa daun berkibas riang mengikuti lambaian angin.
Fika, sang gadis kecil bersandal jepit berwarna putih hijau menggelilingi kandang untuk memeriksa anak-anak bebek, terlihat ada beberapa bercak tikus telah memakan anak bebek, ada beberapa tulang dan sisa-sisa darah tercecer di tembok kandang. Aroma darah masih tercium sengat di hidung, kesedihanpun meliputi perasaan Fika.
“Fika..”, sentak suara memanggilnya dari kejauhan. Terlihat sosok laki-laki berumur belasan tahun mengenakan kaos biru berkerah.
“Siapa dia?, masih terlihat samar-samar, tapi dari suaranya seperti..”, suara Fika terpotong karena bentakan suara tiba-tiba ada di belakang punggungnya.
“Woy…, kupanggil tadi tidak dengar ya?”.
“Oh Fajar, ngagetin aja kamu, ngapain kamu kesini?”. Tanya Fika dengan nada ketus.
“Aku sudah pulang sekolah, makannya aku kesini?”. Jawab Fajar sambil memainkan ranting kecil yang dia ambil dari semak-semak samping kandang.
Fika masih terlihat merenung melihat kondisi kandang yang sudah carut marut. Jika ternak bebeknya berkurang maka berkuranglah pendapatan keluarga. Fika hidup bersama dengan Ibunya, setiap hari dia menggontrol kondisi kandang bebek sekaligus memberikannya makanan.
“kandangmu ini kenapa Fika?, apa yang telah terjadi?,” pertanyaan Fajar menggerutu tertuju pada kandang yang tak beraturan.
“kemungkinan besar bebek-bebek kecilku dimakan tikus semalam, banyak bercak darah di sini”, dengan wajah sendu Fika menjelaskan kondisi kandang bebek.
“Tak perlu khawatir Fika, aku akan membantumu membersihkannya, jangan terlalu lama bersedih.” Fajar mencoba menghibur Fika untuk tidak bersedih, meskipun masih saja terdiam merenung tak beraura.

“Jangan bersedih, pelangi akan selalu datang ketika hujan telah usai turun, maka janganlah kamu terlalu bersedih hati karena keindahan pasti akan datang kepadamu cepat atau lambat. Tetaplah tersenyum Fika, meski himpitan ekonomi menyelimuti keluargamu, masih ada aku disini, anggaplah aku sebagai abangmu.”
“Aku sedih bulan ini tidak bisa membantu Ibuku untuk pemasukan kebutuhan rumah, aku terlalu sering merepotkan Ibu.”
“Tenang saja Fika, Ibumu pasti mewajarinya, karena desa kita tiba-tiba terkena serangan tikus”.
“Lalu aku harus bagaimana sekarang?”.
“Ikhlaskan semuanya Fika, minta digantikan yang lebih baik, bukankah ikhlas itu lebih baik dari pada kamu meratapi terlalu lama?”.
“Iya Fajar, aku akan mencoba mengikhlaskannya, semoga ada rizki lain dari Allah.
“Nah gitu dong.” Gerutu Fajar.
Setelah usai membersihkan kandang, mereka bermain ke sungai untuk mencari ikan, beberapa ikan yang mereka dapatkan bisa dibuat untuk makan malam. Tak terasa sudah memakan waktu lama mereka di sungai. Hujan membersamai mereka dalam kebahagian mencari ikan. Hujan terasa mengkuti irama riang diantara keduanya, sahutan detik hujan menghantam batu-batu kecil membuat mereka semakin betah dalam derasnya hujan.
Hujan akan menghujani bumi dalam ketentuan waktu yang telah di tentukan dan tepat pada waktu yang sudah diberikan.
***
Hujan berhenti dalam pelataran bumi, terlihat pelangi muncul dari bilik bukit diatas sela-sela mata air, terlihat indah dan mempesona. Perpaduan warna yang tampak membuat desa ini semakin indah.
“Bagaimana Fika, sesuai tidak apa yang kubilang tadi, pelangi akan turun ketika hujan telah usai, maka jangan pernah membenci atau menghukumi hujan. Begitu juga dengan kandangmu tadi, jangan pernah membenci, mengeluh atau sedih atas apa yang kamu dapatkan, ikhlaskanlah syukuri dan perbaiki. Pasti akan indah nantinya.”
“Iya.., Aku faham, terimakasih Fajar sudah menghiburku hari ini”.
“Sama-sama Fika adek cantik, jangan bersedih lagi ya”.
“Siap Abang gendut”. ^^

24 komentar:

  1. jangan pernah membenci, mengeluh atau sedih atas apa yang kamu dapatkan, ikhlaskanlah syukuri dan perbaiki. Pasti akan indah nantinya.

    BalasHapus
  2. jangan pernah membenci, mengeluh atau sedih atas apa yang kamu dapatkan, ikhlaskanlah syukuri dan perbaiki. Pasti akan indah nantinya.

    Ini suka, nampol banget

    BalasHapus
  3. pelangi akan turun setelah hujan usai, bener banget nih mba. Allah ga pernah ngasih ujian diluar batas kemampuan Umatnya 😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga segala ujian yang ada segera terlewati.

      Hapus
  4. Ikhlas lebih baik daripada meratap terlalu lama

    Keren euy😍

    BalasHapus
  5. 😱 serem tikus bisa makan bebek

    BalasHapus
    Balasan
    1. tenang-tenang, sekarang tikusnya sudah dibasmi. :0

      Hapus
  6. Kalimat langsungnya masih perlu diedit mbak. Hihi. Contoh:
    “Siapa dia?, masih terlihat samar-samar, tapi dari suaranya seperti..”, suara Fika terpotong karena bentakan suara tiba-tiba ada di belakang punggungnya.
    Harusnya:
    “Siapa dia? Masih terlihat samar-samar, tapi dari suaranya seperti...,” suara Fika terpotong karena bentakan suara tiba-tiba ada di belakang punggungnya.

    Semangat!

    BalasHapus
  7. Analogi yg keren..
    Suka suka suka 😌😊😍

    BalasHapus
  8. Penggunaan kata "gerutu" kira-kira udah tepat belum?
    Cek KBBI arti kata gerutu :)

    BalasHapus
  9. Ikhlas dan sabar, jangan terjebak dalam kesedihan.
    Keren....

    BalasHapus
  10. Pelangi adalah tanda hikmah dari tiap kejadian. Asal tiap kita mau membaca. Keren deskripsi nya.. berasa ada di desa lagi liburan hihi

    BalasHapus