Rabu, 13 Desember 2017

Hitamku



Jari jemariku menari di atas keyboard bertuliskan huruf dan angka. Jemari mengikuti jalannya pikiran dan hati untuk merangkaikan kata bertuliskan kalimat dan menjadikan satu kesatuan utuh dalam menuliskan sebuah karya.
Hitamku.., setia menemani di manapun untuk berkarya, terkadang kau lelah, demam tinggi karena ke egoisanku memaksa untuk selalu kuajak berkarya, bukan maksud tak sayang atau tak peduli, tapi hanyalah dirimu hitamku, mampu kuajak berkarya kapanpun.
Sesekali terdengar aungan kencang di belakang tubuhmu, seperti layaknya isyarat bahwa kamu sudah menuntut hak untuk diistirahatkan. Kudiamkan dan kurelakan dirimu untuk memejamkan mata, meski dalam hitungan menit kau sudah kupaksa untuk menemani kembali.
Hitamku.., kau sungguh hebat, sangat sabar menemani dalam berbagai fase perjuangan, bahkan pernah sesekali aku tak memberikan hakmu untuk istirahat, sementara diriku terlelap dalam mimpi untuk menikmati dingginya malam. Kamu tetap setia menungguku untuk mempersilahkan dirimu memejamkan mata. Kejam sekali diriku ini, maafkanlah karena kelalaianku sering meninggalkanmu untuk tidur.
Jika saja kamu bisa menuntutku pasti berjuta angka akan kau lontarkan untuk menebus sebuah kesetiaan, dan beruntungnya aku, dirimu tidak bisa melakukannya. Meski demikian aku menyadari bahwa semuanya juga memiliki batas waktu umur dan prduktif akan segala sesuatu, jangan lelah menemaniku karena jemariku tak bisa lepas dari tombol-tombol yang kau miliki.
Di saat TA (Tugas Akhir) menghampiriku, waktu menuntut untuk segera dikerjakan dan diselesaikan. Manajemen waktu sudah kupasang baik-baik dan terperinci, bahkan beberapa tembok sudah ikut andil untuk memperingatkan batas waktu yang sudah ditentukan. Hitamku terlihat lelah dan tak berdaya, aku pun demikian karena tuntutan waktu dan tanggung jawab, sesekali aku melepas untuk tak menyentuhmu namun pikiranku selalu terforsir untuk tak meninggalkan dalam waktu perjuangan kita menyelesaikan TA.
Karena perjuangan kita. TA selesai dengan sangat tepat, tidak kurang tidak lebih dan tidak ada sisa kembalian (layaknya transaksi jual beli). Waktu yang sudah diberikan mampu terlampaui dengan sempurna. Kerjasama kita sungguh sangat bermakna Hitamku.
Kegigihanmu menemaniku sungguh sangat luar biasa. Saat ini kita sedang berjuang kembali dalam melangkahkan kaki untuk serius menata masa depan. Hitamku sembari kita berjuang aku mengajakmu menuliskan sebuah sejarah dalam lintas pena bersama saudara kita Batch ODOP 4, mereka saudara baru kita, saudara seperjuangan untuk mewujudkan mimpi-mimpi indah bertuliskan harapan dan perjuangan.
Hitamku.., kita punya sejarah, punya cerita dan punya pilihan. Aku memilihmu menemaniku bukan semerta-merta hanya membutuhkan fungsionalmu dalam berkarya, namun aku butuh menuangkan rasa, menuangkan pemikiran dan membentuk suatu karya tulisan bersama saudara Batch ODOP 4.
Tidak jarang badai berdatangan untuk menghalangi kita berkarya, seringkali terkendala oleh waktu, entah kita yang memainkan waktu atau waktu yang mempermainkan.
Hitamku… Aku membutuhkanmu untuk berkarya, jangan pernah lelah dan tetaplah di sampingku selalu.
Hitamku… Laptopku…

4 komentar:

  1. Banyak penggunaan elipsis (...) ya. Hee
    Mungkin kalau dibiarkan saja pembaca yg nebak si Hitamku itu apa, mungkin lebih nice ya tulisannya. 😊

    Nice 👍
    Jadi ngiri deh, kapan ya saya punya laptop trus dikasih nama? Hiks malah curhat 😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah perlu ngedit penggunaan elipis nih. Hitamku nama kesayangan untuk sang teman bekarya. ^^

      Hapus
  2. Menurut selera saya, sebaiknya yang kalimat terakhir nggak usah di perjelas mbak.

    Laptop itu sendiri udah tersirat di antara kalimat-kalimat sebelumnya

    BalasHapus
  3. bagus (y)
    bikin pembacanya mikir, hehe

    BalasHapus