Selasa, 12 Desember 2017

Kota Kelahiranku



Mojokerto kota kelahiranku, telah memberikan sejarah tertera dalam sebuah akta kelahiran. Kota dengan sebutan kota onde-onde. Ada sejarah yang melatarbelakangi kenapa Mojokerto disebut kota onde-onde. Konon sudah dikenal sejak zaman Kerajaan Majapahit (1300-1500M). Asal muasal onde-onde dibawa oleh orang Tiongkok yang berkunjung ke Majapahit. Salah satunya adalah Laksamana Zheng He atau Cheng Ho dari masa kekaisaran Dinasti Ming.
 Pada awalnya onde-onde dihidangkan untuk para pekerja yang sedang membangun istana kekaisaran, kemudian menjadi kue istana. Dalam perkembanganya onde-onde juga dikenal sebagai salah satu kue yang disajikan dalam perayaan Tahun Baru China.
            Onde-onde memiliki makna khusus. Bentuk onde-onde yang bulat, permukaanya berwana kekuningan dengan dilaburi wijen melambangkan suatu keberuntungan. Sementara bentuk onde-onde yag mekar saat digoreng melambangkan perkembangan usaha yang dilakukan.
            Onde-onde Mojokerto saat ini sudah memiliki lirik lagu dan seringkali dinyanyikan ketika ada acara lomba daerah antar Provinsi. Lagu daerah ini sempat menjadi lagu wajib dalam porseni siswa/i di Kota Mojokerto.
Onde onde mojokerto
Duh aduh aduh aduh
Manisnya, gurihnya
tak kan terlupakan
Onde onde mojokerto
Onde onde mojokerto
Sekali dicoba bakal
Ketagihan
            Teringat cerita dari Mbah putri, mengenai cerita dari onde-onde. Dahulu kala ketika zaman penjajahan Belanda, masyarakat desa hampir keseluruhan dijadikan budak untuk melayani pemerintahan Belanda, mulai dari memasak, berkebun, bertani dan menjadi tukang bangunan. Ketika mendekati waktu pagi, orang-orang Belanda paling suka disuguhkan onde-onde hangat dan teh hangat.
            Hingga pada suatu ketika orang Belanda terheran-heran dengan keuletan orang Indonesia, yaitu kesabarannya dalam menempelken wijen satu persatu diatas onde-onde. “Butuh berapa lama menempelkan wijen-wijen ini?. Dan penataan wijen yang ada di onde-onde sungguh sangat rapi”, gumam salah satu orang Belanda.
                Orang Indonesia memberikan senyuman kecil dan berkata, “itu sudah menjadi keahlian kami dalam membuat onde-onde”.

4 komentar:

  1. Wahh serius itu di tempelin satu-satu wijenx?

    BalasHapus
    Balasan
    1. wahhh kalu satu-satu, gak kebayang butuh berapa lama untuk menyelesaikan satu onde-onde.

      Hapus
  2. Informatif. Masukan sedikit buat editing:

    “butuh berapa lama menempelkan wijen-wijen ini?, dan penataan wijen yang ada di onde-onde sungguh sangat rapi”. Gumam salah satu orang Belanda.

    Benerin ya:

    “Butuh berapa lama menempelkan wijen-wijen ini? Dan penataan wijen yang ada di onde-onde sungguh sangat rapi,” gumam salah satu orang Belanda.

    BalasHapus