Minggu, 17 Desember 2017

Sepatu Sebelah




Masa belajarku di Universitas tak terasa sudah dipenghujung akhir. Ijasah sudah kudapatkan, sementara penrtanyaa-pertanyaan itu tak juga kenal jeda waktu. Pertanyaan pernikahan dan pekerjaan selalu menjadi momok bagiku, bukan sesuatu yang tidak boleh dipertanyakan memang, tapi janganlah bertanya demikian, sebab masih tak mampu kumenjawab seperti apa-apa yang diinginkan.
Lina, orang-orang memanggilku demikian, Sarjana muda kelahiran Jawa berstatus masih sendiri. Hari ini aku harus mengikuti permintan Ibuku tersayang untuk bisa menghadiri pernikahan sepupu Firoh, bukan maksud tak suka menghadiri pernikahan, tapi aku sedang tidak ingin bertemu banyak orang.
Berkumpulnya manusia-masnusia di sini,mulai dari saudara pengantin perempuan dan laki-laki. Aku hanya bisa tertegun memandangi mereka dan terbesit pertanyaan “Aku kapan?”.
“Alhamdulillah nak Lina sudah Sarjana sekarang, sudah bekerja dimana sekarang?”. Pertanyaan itu muncul dari seorang Ibu di tengah-tengah keramaian acara.
“Saya baru Wisuda satu minggu yang lalu Bu, untuk saat ini saya belum bekerja”. Sambil senyum kumenjawab, meski sedikit meluapkan mata emosi terlintas di hadapannya.
“Tak apa, yang penting tetap berjuang ya”.
Ngeh Bu, Nuwun. Pendungane”.
Entah mengapa acara syukuran ini membuatku tidak nyaman dengan begitu banyak orang menatapku, apa yang sebenarnya mereka pikirkan, apakah karena aku masih berstatus pengangguran, atau karena ada hal lain.
Dari bilik ruang penjamuan untuk setiap tamu terlihat berderet aneka macam makanan, aku lebih asik berbolak-balik mencicipi berbagai hidangan, karena di otakku dari pada au mendengarkan Ibu-ibu menggosip karena menceritakan anak atau status pekerjaan anak-anak mereka, mending aku di sini menikmati waktuku dengan makan.
“Woy, Lina. Sini.. ngapain aja di situ?”.
Siapa itu, sepertinya aku tak kenal. Aku mencoba untuk mengkuti tawarannya menuju ke bangku dia yang sedang duduk, terlihat dari kejauhan ada kursi kosong di sebelah dia.
“Masih ingat aku gak Lin”, sapa Dia.
“Ehm, siapa ya?”. Jawabku ketus dan singkat, karena memang tidak menggenalinya.
“Aku Fino, anaknya Pak Bahrul juragan pete”.
“Oalah kamu Inok, pangling tenan aku”.
“Aku tambah ganteng kan, makanya kamu lupa sama aku”, dia sedikit meledek karena kegantengannya yang terlalu menebar pesona.
“Ehm, gimana ya”. Krik-krik-krik sedikit tenggorokanku tertahan karena lihat kepedeannya luar biasa.
“Eyh jangan panggil Inok lha, Fino gitu lho”. Sambil mengibaskan poni dia berucap.
“Iya Fino”.
Orang-orang semakin melihatnya aneh, apa yang salah denganku. Tidak mungkin karena aku bersebelahan dengan Fino. Lalu mereka melihat apa.
“Lin, ayo kita bersalaman ke Pengantin, sekalian aku mau pulang nih, sudah lama juga di sini”. Ajak Fino.
Ajakan Fino membuatku semangat beranjak dari tempat duduk, sudah kutunggu dari tadi.
Sesampainya di atas panggung kita bersalaman ke Pengantin sekaligus memberikan ucapan selamat. Budaya setelah bersalaman yaitu foto bersama di atas panggung. Sang Fotografer terlihat aneh memandang kearah kakiku, dahi dia berkerut serasa memikirkn sesuatu. Lalu aku mengikuti arahan mata dia memandang.
Aku kaget dan tercengang. “Sepatu yang kupakai bersebelahan tidak sama, kanan warna biru kiri warna merah”. Gumamku sambil mengkerutkan wajah.
Baru tersadar kenapa orang-orang dari tadi melihatku aneh, dan jawabannya karena sepatuku bersebelah tak sewarna, sungguh memalukan.

1 komentar: