Rabu, 20 Desember 2017

Seribu Malam untuk Muhammad



            Buku ini merupakan buku fiksi yang menceritakan sebuah cerita dengan diawali penulisan surat kepada kekasihnya yang sudah lama dia tinggalkan. Dalam surat tersebut diceritakan perjalanan mimpinya bertemu dengan Rasulullah yaitu Nabi Muhammad:
“Apakah yang lebih besar dan lebih utama dari iman?” Aku masih mengingat kata-kata itu, Azalea. Aku masih mengingat wajahnya Muhammad, dengan senyum tulus. “Kebaikan” katanya tiba-tiba, “Melebihi apapun, adalah yang paling utama dari semuanya. Aku menyebutnya ihsan.”
            Kisah yang bermula dari tokoh “aku” yang didatangi lelaki agung dan bercahaya, Rasulullah, di dalam mimpinya. “aku” adalah seorang non-muslim. Bagi kita (umat Muslim) bertemu dengan Rasulullah merupakan impian umat muslim seluruh dunia, bahkan karena sangat inggin bertemu dilakukannya ritual-ritual tertentu untuk bertemu dengan Rasulullah. Lalu apa yang anda pikirkan jika ada seorang non muslim didatangi oleh Rasulullah, bukankah itu sesuatu sangat istimewa.
            Buku yang di tulis oleh Fahd Djibran sangat kental dengan nuansa spiritual. Banyak hal mampu kita petik dan kita renungkan. Kita akan mengetahui bagaimana seorang muslim itu sebenarnya dan bagaimana menjadi muslim yang lebih baik. Orang-orang disekitarmu sangat berpengaruh dalam membangun Ihsan yang ada pada diri manusia sekaligus mampu merubah diri seseorang.
            Fahd Djibran menuturkan bahawa kebaikan adalah pembuktian yang mampu melampaui keimanan itu sendiri, mampu melampaui batas-batas agama. Bisa jadi saat ini kita beriman akan memiliki identitas sesuai dengan keimanan. Kita hidup di tengah-tengah masyarakat yang memiliki keimanan berbeda. Perlu kita sadari dan tekankan bahwa ketika kita berniat dan berkeingginan baik, maka tidak perlu melihat identitas keimanan orang lain, sebab kebaikan selalu melampaui keimanan.
            Lakukan kebaikan setiap saat, meskipun itu hanyalah sebuah hal-hal kecil, tidak seberapa kuat dan seberapa besar seseorang mampu berbuat baik, namun dalam sela maupun sisi waktu hidup manusia apakah selalu terbesit didalam hatinya untuk kebaikan. Seperti halnya ketika ada duri kecil atau kayu yang menghalangi jalan maka dianjurkannya untuk menyingkirkan, itu sudah termasuk pembuktian keimanan yang dianjurkan oleh Muhammad. Sehingga bisa diartikan bahwa kebaikan mampu melampaui keimanan.
            Fahd Djibran mengungkapkan bahwa iman akan berdampak pada diri sendiri, sementara kebaikan berdampak bagi seluruh alam semesta. Agama yang baik sebagaimana juga iman yang baik, yaitu mampu menjadi rahmat bagi semesta alam. Muhammad menyebutnya rahmatan lil ‘alamin. Muhammad diutus untuk menjadi rahmat bagi semesta dengan melakukan kebaikan kepada orang lain lebih dari seperti melakukan kebaikan kepada diri sendiri. 
"Teruslah memberikan kebahagiaan kepada orang lain lebih dari apa yang membahagiakanmu"


Judul          :    Seribu Malam Untuk Muhammad
Penulis        :    Fahd Djibran
Penerbit      :    Kuriniaesa Publishing

0 komentar:

Posting Komentar