This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 27 Januari 2018

Surabaya Punya Cerita





Menapaki jejak manusia bertuliskan “Semangat Tangguh.” Raut-raut wajah bergariskan waktu sebagai bukti keberadaan di Bumi. Trotoar, suara laju kendaraan dan hujan menggerimis seakan menjadi saksi atas sebuah perjuangan.

Tiap langkah mengempa, menyibak gumamnya gaungan suara tak berarah. Pijakan kokoh bergantian menapaki sebuah kota bersuara keras. Bergantian gemuruh bersahut klakson menderu. Seperti halnya manusia-manusia berderu dekap batin. Bertepi-tepi pencari nafkah menawari jualan mereka untuk dipertukarkan rupiah. Melambai tangan mengajukan jasa meminta digantikan nafkah.

Surabaya punya cerita. Senja dan hujan ikut serta menyaksikan gemuruh suara. Tak ada rona merah atau jingga menghiasi, karena mendung telah menghampiri. Sesekali melihat lampu-lampu terhias dalam cahaya mesin-mesin.berkilauan, tapi kenapa mataku memanas. Sekejap memejamkan, ada rasa hangat dalam pelupuk mata.

Surabaya punya cerita. Aku menapaki jejak langkah untuk sebuah pengharapan bukan sebuah tanya “Mengapa demikian?.” Tanya suara, “Akupun tak tahu.” Ketika aku harus melangkah, akan kulangkahkan kakiku.


Semesta akan menyambut apa yang dipikirkan. Tidak hanya terdiam menunggu manisnya waktu. Itu memang pengharapan, namun jika tak berupaya dalam kualitas waktu, maka waktu seakan membunuh terhempas tak terdengar.

Meneropong asa.. mungkin bisa disebut demikian jika masih mencari, melanggitkan doa itu sudah pasti. Menderas rindu itu sebuah kewajaran. Jika hanya bertalian suara tanpa ada tindak kepastian, itu masih dalam kerahasiaan yang belum terpecahkan.

Surabaya punya makna. Bersinyalir orang-orang berupaya dalam setiap batas waktu dan batas kemampuan. Tiada orang mampu mengucap kesempurnaan. Sembari melangkah, sejenak terfikirkan. “Adakah sesuatu tanpa adanya proses, bahkan instant saja masih meminta waktu untuk disajikan”.

Suara klakson semakin menderu kencang di ujung jalan. Menyerbu menderu dan berebut jalan melaju. Suara itu mengusik telingga, bahkan kecoa tak berani mengintip di sudut selokan jalan. Adakah peredam suara?, agar tak ada bising mengejar waktu untuk segera.

Senja semakin pekat. Kendaraan semakin rekat. Mata semakin mendekat untuk mencari titik kiblat.

#Day9 #30DWC #ODOP

Senin, 22 Januari 2018

Hujan Menderas Rindu



Image result for Hujan Menderas Rindu
Dempaan gaunggan menggaung dari sekelumit suara-suara beralaskan ingin tahu makna sebenarnya, ketika rindu menjadi merindu, maka tak ada sebab kenapa harus dipertanyakan, karena tanya saja tak mampu memberikan guncangan gemuruh untuk menerobos langit-lngit mendung.

Detik suara waktu masih saja terdengar dipenghujung ufuk barat, mengisyaratkan akan sebuah keunikan tersendiri dalam menentukan sebuah keinggin tahuan. Berkaca-kaca sang bola mata itu sudah biasa, bahkan tak terbiasa jika tak demikian karena kehampaan terlalu lama memendam entah kapan terpecahkan sang celengan rindu yang masih terdekap dalam sebuah harap.

Aunggan terdengar seperti halnya singa memangil kekasih untuk segera datang membawa seonggok kepastian, lalu membenamkan kebimbangan, tapi kenapa masih saja tak kunjung terlihat ujung pangkal wajahnya. Menyobek waktu hanya sekelumit sementara tak menjadi solusi.

Hujan semakin deras menderas rindu dalam lorong waktu menjembatani buih-buih pelabuhan, kapal-kapal berderet menyibakkan kail-kail untuk segera berlabuh. Beberapa terlihat berhasil mengkaitkan dengan daratan agar dia mampu berhenti di pinggiran laut. Ada beberapa lainnya masih termanggu dan terdiam karena tak mampu menyibakkan kail, sebab bukan karena tak bisa, kapal yang dia miliki masih berada di tenggah-tenggah lautan, jika dia memaksa untuk mengkaitkan akan sangat tidak mungkin kail sampai pada pinggir laut. “Hanya menuggu ombak menggantarkan kapal ini ke pinggir”, gumamnya menghibur diri.

Terpaan angin dan ombak mengitari kapal untuk mendorong dari segala sisi yang mereka inginkan, jika harus ke utara dia mengikuti, jika harus ke selatan tak memungkiri juga membersamai sesuai dengan mereka tujukan.

Beberapa hal masih berkelumit dalam ombak, menjadikannya sebuah keutuhan yang mampu bertahan dalam lingkup mempertahankan diri. Hanya butuh kesabaran dan sedikit waktu agar bisa berlabuh.

Hujan terus saja meghantam kapal, selayaknya hujan menderas rindu melangitkan doa. Semoga segera terjawab apa yang telah dilanggitkan untuk menjadikan Bumi mampu memunculkan kuncup baru dalam sebuah perikatan dua pikir.

Semoga yang selalu disemogakan.

#Days8 #30DWC #ODOP

Minggu, 21 Januari 2018

Diajeng

Image result for tulisan diajeng



Diajeng adalah panggilan pertama yang anda lontarkan untuk pertamakalinya menyapa, tepat di hari jumat jam 10.00 pagi dalam ruang lepas dengan beberapa banyak kursi telah duduk disana sambil mengaitkan tangan dan berharap Diajeng segera datang menemuimu.

“Saya sudah di tempat, Mas ada di sebelah mana?”, pesan singkatku.

“Saya juga sudah di tempat, this is me”. Sebuah gambar terkirim masuk di handphone-ku

Aku juga tau ini wajahmu, tapi sederetan kursi yang ada disini hanya ada beberapa mahasiswa sedang belajar mengaji dan satu guru sedang mengajarinya. Lalu dia di mana.

“Saya di sini sedang duduk melihat satu gerombolan Mahasiswa sedang belajar mengaji, anda sebelah mana?”. Tanyaku.

“Saya juga sedang duduk, banyak Mahasiswa dan Mahasiswi di sini, sepertinya Diajeng salah gedung”.

“Apa.., salah gedung, bukannya dia berada di Asrama Putra ya, kenapa bisa salah gedung”. Gumamku seelah membaca balasan pesan singkat darinya.

“Saya ada di Asrama Putra, Mas ada di mana?”.

“Wah…saya ada di Asrama Putri, Diajeng salah tujuan”.

***

Bergegas segera menuju parkiran motor, untuk memutar balik arah tujuan, karena sepahamanku ketika ada Mahasiswa luar bertamu di Kampus Biru, tempat istirahatnya di Arama Putra bukan di Asrama Putri.

Motor sudah terparkir rapi sesuai dengan posisi letak motor-motor yang lain, kakiku mulai masuk menuju serambi Asrama Putri, terhampar kursi-kursi dengan beberapa Mahasiswa dan Mahasiswi sedang berdiskusi, ada yang sedang mengerjakan tugas, ada beberapa duduk sendiri menikmati dunianya. Dari kejauhan terlihat seseorang yang baru saja mengirimkan fotonya di layar handphone-ku.

“Assalamu’alaikum”. Sapaku.

“Wa’alaikumussalam”. Jawab dia.

“Sudah lama di sini, maaf saya salah ke Asrama Putra”.

“Tidak apa-apa, bertepatan saya lagi free hari ini, eh.., silahkan duduk Diajeng”. Sebutan Diajeng dia menyebutku dan mempersilahkan dengan sedikit menggeser tempat duduk agar mempermudah untuk duduk.

“Terimakasih”.

Perkenalan kita memang sudah beberapa bulan lalu, kita sering berdiskusi bnyak hal namun belum pernah berjumpa secara langsung.

“Saya sangat senang sekali bisa berjumpa dengan Diajeng”.

“Panggil saya Husna saja”.

“Baiklah kalau begitu, bukankah panggilan Diajeng itu panggilan seorang gadis Jawa yang sangat di hormati”.

“Iya , bisa seperti itu, namun saya tidak terbiasa di panggil Diajeng”.

“Baik Mbak Husna, mohon maaf kita bertemunya di sini, karena saya juga belum paham betul daerah sini. Kebetulan saya ada acara di Kampus Biru, dan baru menyadari kalau saya punya kenalan, makanya saya menghubungi Diajeng, eh maksud saya Mbak Husna”.

“Tidak masalah, senang bertemu dengan Anda”, jawabku kaku karena lihat penampilannya sangat resmi dan rapi.

“Sudah sarapan”. Tanya dia. “Panggil saya Purna atau Purnama”. Tawaran dia dalam memanggil namanya.

“Oke, Mas Purna”.
Kita berbincang-bincang banyak hal mengenai perbedaan budaya, kuliah dan beberapa informasi pariwisata yanga ada di daerah kita masing-masing. Sempat beberapa kali dia memperlihatkan foto di handphonenya mengenai objek wisata di tanah kelahiran. Sangat bagus dan menawan.

Tak sengaja tercium bau aroma parfum yang dia kenakan, “kira-kira berapa lama dia bersiap diri”, celotehku dalam hati.

“Di tanah kelahiran saya terkenal dengan situs Majapahit, bisa dibilang dahulu kala Kerajaan Majapahit bertempat di sana, banyak beberapa candi yang masih tersisa. Namun untuk kerajaan pusatnya berdiri sampai saat ini belum diketahui kejelasannya”.

“Oh ya, wah bisa masuk tujuh keajaiban dunia itu,

“Tidak juga, berita-berita hanya memberikan informasi itu adalah peninggalan Kerajaan Majapahit, belum sampai pada keajaiban dunia. Di masyarakat sekitar masih mempercayai jika menemukan barang-barang kuno ketika menggalih tanah maka harus diserahkan ke pihak Museum untuk diamankan, dari pihak menemukan, menerima sejumlah uang atas penemuan tersebut. Meskipun tidak sebanyak jika dia langsung menjualnya ke orang lain.”

“Kenapa harus diamankan ke Museum”.

“Karena jika tidak, si penemu tersebut akan celaka, sakit atau meninggal.

“Ih serem juga ya”. Respon dia.

“Karena sudah menjadi kepercayaan, jadilah seperti itu. Meskipun demikian bisa jadi dia sakit maupun meningeal karena sudah waktunya”

“Bolehlah ya lain waktu saya berkunjung ke daerahnya Mbak Husna”.

“Monggo, dengan senang hati diterima kedatangannya”

Matur Nuwun.., hehe”.

“Wah bisa bahasa Jawa nih”.

Terlihat senyum malu terbias di wajahnya. Sampai pada waktu dhuhur kita mengakhiri perbincangan dan pertemuan ini. Sempat minta diantarkan ke Masjid Kampus Biru. Kita saling berpamitan dan semoga kelak bisa berjumpa kembali dalam waktu dan suasana berbeda.

“Terimakasih untuk hari ini Mbak Husna”

“Sama-sama, senang sekali bisa berjumpa secara langsung dengan Mas Purna”.

Aku memberikan ucapan Salam untuk menutup perjumpaanku dengannya dan dia bergegas menuju Masjd untuk mensegerakan sholat jumat.
 
“Sampai jumpa, semoga bertemu kembali”. Gumamku dalam hati sambil mengendarai motor menuju Kampus Hijau.

@Kampus Biru, Jumat 20/11/2015
#Days7 #30DWC #ODOP

Sabtu, 20 Januari 2018

Sungai Wangsit



 Brook, Forest, Tree, The Brook, Landscape, Nature
Membersamai dalam kebersamaan, menjadikanmu sebuah tali ikatan saling merindu. Pondok Pesantren, sang tembok suci melingkari gerak-gerik tindak santri. Kebiasaaan yang sudah menjadi hal biasa yaitu mengantri kamar mandi, berderet santri dengan membawa keranjang sabun di tangan kanan dan di pundak kiri terdampar kain lebar yang berwujudkan handuk mandi.

Tak disangka-sangka air terdongkrak keluar dari pipa-pipa, air berceceran dimana-mana, kondisi pondok pesantren gaduh menggaduh seperti halnya pasar pagi yang saling bersahutan meneriakkan keingginan untuk segera mendapatkan.

Krakkk.., krakkk.., brakkk…. Terdengar suara kran mulai menggeluh karena tak kenal henti  bekerja, beberapa terlihat sangat parah tidak bisa dikendalikan lagi, saluran paling dekat dengan tembok kamar mandi pecah dan putus, air menyumbar ke semua ruangan, yang di dalam kamar mandi hanya mampu berpasrah diri dengan keadaan sabun berlumuran mengkujur seluruh badan.

“Woy…, airnya habis ya, masih makai shampo nih”. Terdengar suara teriakan dari dalam kamar mandi.

“Saluran airnya rusak, ruangan sebelah sudah penuh air”.
Semuanya terhampar air berceceran tak beraturan. Bercak-bercak kaki menghiasi disetiap sisi ruangan. Sudah berulang kali terjadi, bahkan sudah menjadi hal biasa.

***

Sebab tak ada air di Pondok, para Santri berhamburan untuk mencari air wudlu ke masyarakat sekitar. Karena dirasa tidak enak merepotkan. Kami berenam memutuskan menelusuri beberapa sungai untuk mandi dan mengambil air wudlu. Awalanya aku menolak karena Sofi memiliki indra lebih untuk menerawang hal-hal yang tidak biasa dilakukan oleh manusia.

“Nia…, bergantian ya, tiga orang berjaga dan  tiga orang mandi”, saran Fia memberikan instruksi sambil melihat sekitar apakah sungai ini aman atau tidak.

“Iya.., aku, Rina dan Sofi yang jaga, kalian mandi dulu”. Sahutku menerima instruksi.

***

Setelah beberapa menit berlalu, Sofi meraung dengan nafas terisak, matanya memerah dan tingkah laku tak seperti biasanya. Beberapa kali aku memanggil dia namun tak ada respon menimpali panggilanku.

“Sof.., apakah kamu baik-baik saja?”. Tanya Rina.

“Kalian kenapa di sini, ini bukan tempat kalian”. Sofi berbicara dengan nada berat, terlihat seperti marah dan tidak suka.

Seketika itu kami menyadari kalau Sofi sedang kesurupan, dia meraung-raung, memperlihatkan aura wajah sinis, mengisyaratkan untuk kita segera pergi.

“Jika kalian masih tetap di sini, aku akan membawa temanmu ini ke Alamku”.

“Tolong jangan…, jangan bawa Sofi pergi, baiklah kami akan pergi, tapi tolong pergilah dari tubuh Sofi”. Ajakku kepadanya untuk melepaskan tubuh sofi.

“Baiklah aku akan pergi dari tubuh ini, tapi kalian harus berjanji jangan ke sungai ini lagi, manusia hanya bisa merusak, aku tak ingin siapapun menghampiri istanaku ini”.

*** 

Tersibak guratan wajah Sofi lemas, tanpa bisa terkendali, seketika dia pingsan tak sadarkan diri, aku mencoba menangkap tubuh Sofi agar tak tergelincir ke bebatuan bercampur tanah di pinggiran sungai. Kami sepakat untuk segera pergi dan membawa Sofi dengan mengangkat tubuhnya bersama. Masih untung kita berenam, jadi masih kuat menopang.

Niatan untuk mandi di sungai menjadi mala petaka berjung Sofi kesurupan. Sudah lumayan jauh membopong, badan mulai kelelahan, tapi Sofi harus segera di bawa ke Pondok Pesantren, jika tidak segera akan berakibat fatal pada tubuhnya.

***

Ada seorang bapak-bapak sedang mencari rumput untuk ternak kambing, penasaran dengan apa yang kami lakukan.

“Nak, itu temannya kenapa?”, tanya bapak pencari rumput sambil menghampiri.

“Teman kami baru saja kesurupan Pak, sekarang lagi idak sadarkan diri”.

“Lho kesurupan di mana?, apakah kalian dari Sungai Wangsit”.

“Iya Pak kami dari sungai yang sebelah bukit itu”.

“Atas perintah siapa kalian kesana?, itu sungai angker, masyarakat sini tidak ada yang berani kesana, kalian masih beruntung masih bisa pulang”. Sahut bapak pencari rumput.

“Kami hanya mau mandi di sungai itu Pak, dan tidak tahu kalau sungai itu angker”.

“Walah nak..nak…, makanya kalau belum paham daerah sini jangan sembarangan. Ya sudah kalian tunggu sini, saya ambilkan becak buat anterin temanmu ini”.

“Terimakasih banyak Pak, maaf merepotkan, maaf kami tidak tahu apa-apa mengenai daerah sini”.

*** 

Selang sepuluh menit berlalu, Sofi masih saja tak sadarkan diri, bapak pencari rumput akhirnya datang dengan membawa becak untuk mengantarkan.

“Karena kalian berenam, jadi yang ikut sama saya dua orang, satu orang mangku temanmu yang pingsan”.

“Nia, kamu saja ikut sama Bapak, kami jalan kaki menyusulmu”. Saran Dira.

“Baiklah, nanti ketemu di Pondok ya”. Jawabku.

***

Setelah sesampainya di Pondok Pesantren, semua santri dan pengurus geger karena aku membawa Sofi dalam keadaan pingsan. Beberapa kali bapak pencari rumput memberikan informasi ke pengurus, jika dia menolong kami dalam keadaan sofi pingsan karena telah berani ke Sungai Wangsit.
Tak pikir panjang, Sofi langsung di bawa ke ruang pengurus untuk diobati. Hampir satu jam lebih Sofi masih tidak sadarkan diri. Alhamdulillah.., setelah dipaksa untuk minum air putih dari Pak Kiyai, Sofi bisa sadar.

“Bapak terimakasih sudah mengantarkan santri saya ke Pondok, maaf telah merepotkan”. Ucap Ustadzah Tia dengan menelungkupkan kedua tangannya.

“Sama-sama Bu, maaf saya mau langsung pulang. Saran saya jangan ada lagi yang ke Sungai Wangsit, itu berbahaya”.

“Baik pak, saya akan selalu ingat saran bapak”.

*** 

Setelah Sofi sadarkan diri,aku dan empat temanku dipanggil oleh pengurrus, kita diberikan hukuman tidak boleh keluar sama sekali dari podok selama satu bulan, tanpa ada alasan apapun harus diterima.
 
Setiap tempat memiliki peraturan yang harus ditaati, meski berat dirasa, baiklah kami memahami dan menerima, karena masih berada di tembok suci maka peraturan ini mengikat tiap santri tanpa memihak siapapun.

#Days6 #30DWC #ODOP