Jumat, 12 Januari 2018

Asma' Husna



Image result for BERKERUDUNG PUTIH DARI BELAKANG
Angin menghempaskan kerudung putih menjulur ditubuhya, wajahnya teduh nan asri terpancar jernih tak terpaut oleh rusaknya hitam udara disekitar manusia yang berolok-olok, bersahutan kedamaian berlatar belakang sisi kehidupan sang kerudung putih.

Tidak menjadi sebuah pertanyaan kenapa demikian?, sudah digariskan seperti itu atau memang dia sudah terbentuk dengan berbagai proses sehigga terwujudlah sosok nyata dalam sebuah pelataran dunia berpenghuni manusia.

Jika sesuatu itu mudah untuk didapat mungkin semua orang akan merubah keinginannya dalam waktu sekejab, tak ada sifat konsisten dalam sebuah pencapaian dan menggelakkan proses karena sudah dengan mudah ia mampu mendapatkan. Maka Sang Pemilik kehidupan memang adil dalam memberikan apapun itu kepada makhluk yag bernama manusia.

Seseorang berkerudung putih berjalan menyusuri jalan untuk melewati pertigaan sebeum dia kembali pulang, dengan melewati beberapa rumah terlihat sang anak kecil menyapa dengan riang dan penuh hormat kepada kerudung putih. “Assalamu’alaikum Ustadzah,” Seorang berkerudung putih yaitu 

Ustadzah Asma’ Husna. Wajah teduh selalu meyelimuti dan senyum ramah terpancar dari setiap sisi perangainya.

Masyarakat sekitar sering meyebutnya pahlawan putih, sebutan yang memiliki sejarah tersendiri bagi mereka, Ustadzah Asma’ adalah seorang guru ngaji kedua setelah Almarhum Ustad Fakhrudin, seorang Ustadzah meghabiskan masa-masanya untuk mensyiarkan agama melalu pembelajaran mengaji di kalangan anak-anak.

***

“Ustadzah Asma’, apakah selama ini merasa sendiri atau kesepian?.” Tanya Ria, salah satu anak didiknya.

Asma’ memberikan senyuman merekah dilemparkan dalam sebuah tanya yang sebenarnya tak mampu dia jawab.

“Yach.. kenapa Ustadzah hanya senyum saja”.

“Ria sayang, Ustadzah lagi tidak sendiri atau kesepian, karena ada Ria di sini”. Jawab Ustadzah sambil melambaikan tangannya ke kepala Ria.

“Kakak Ria belum menikah lho”, spontan Ria membalikkan pembicaraan.

“Lalu..?, apa hubungannya dengan Ustadzah?”. Asma’spontan penasaran.

“Ria ingin Ustadzah menjadi Kakak Ria, selama Ibu sudah tiada, rumah sangat sepi tak ada sentuhan kasih sayang dari orang tua”.

Hanya sentuhan lembut dia lambaikan ke kepala Ria, Asma’ menyadari sudah waktunya untuk mensegerakan, namun apa daya jika sang kehendak pemilik kehidupan masih belum memberikan ridhonya untuk mensegerakan.

*** 

Sebuah kata pahlawan sering terdengar di telinga Asma’, pahlawan untuk masyarakat yang awalnya pendidikan agama tidak tersampaikan kepada anak, untuk saat ini anak-anak sudah mulai memahami membaca al-Quran, sementara pahlawan untuk dirinya sendiri dia tak mampu, menomorsatukan orang lain tapi tak tau kapan mampu menomorsatukan dirinya sendiri.

“Aku tau ini memang sudah waktuku, menyadari begitu banyak himpitan asa dan suara menyergap di pelupuk mata, meski sering tak ku terima”.

“Jangan bersedih Asma’, masih ada waktu untukmu,hanya perlu sedikit bersabar lagi”, sahut Hati menghibur dirinya”.

“Lalu sampai kapan?, orang-orang terkadang tak menghiraukan bagaimana perasaanku, hanya ego mereka tonjolkan untuk kepuasan ataukah perhatian?”.

“Asma’, hidup itu tak semulus dan semudah apa yang dipikirkan, butuh proses dan perjuangan untuk mendapatkan, jika kamu menikah saat ini dengan siapapun bisa saja, namun apakah sebuah keputusan pernikahan semudah itu?”.

“Iy Hati, aku memahaminya, tak semudah itu bisa memutuskan”.

“Sudahkah kamu memutuskan untuk memilih seseorang?”.

“Sudah, namun aku masih bimbang dengan keputusanku, karena kepastian tak juga kunjung hadirnya”.

“Asma’ bolehkah aku memberikan saran kepadamu?”.

“Boleh, Silahkan”.

“Segera ambil tindakan untuk sebuah perjalananmu, jangan terlalu lama menunggu”.

“Baiklah akan aku coba”.

“Asma’ what are you waiting for, make 2018 is your years”.

“Aku hanya bisa menunggu, tak kuasa meminta”

***

Pahlawan putih, sebuah keagungan warna putih bersih tanpa cela, mampu menenagkan pada jiwa-jiwa terlelah, tak ada yang menyadari hatinya sedang terusik dengan berbagai hal akan waktu selalu memburu. Kepasrahan diri sudah terkapar dalam sebuah harap, penguat rohani dilambungkan dalam melangitkan doa, kerinduan sangat sudah terpendam di celengan rindu.
 
Hanya sang waktu, mampu menentukan kapan sebuah pelaksanaan perwujudan harapan tersampaiakan dalam keberkahan.

 #Days2 #30DWC #ODOP

4 komentar:

  1. kalimat terakhirnya luar biasa...

    BalasHapus
  2. "Hanya sang waktu, mampu menentukan kapan sebuah pelaksanaan perwujudan harapan tersampaiakan dalam keberkahan."

    Suka bgt

    BalasHapus
  3. Wah... terimakasih ^^ Kang @Bari, Mbak @Laila

    BalasHapus
  4. mantap, kesabaran harusnya memang tidak mengenal batas ...

    BalasHapus