Minggu, 21 Januari 2018

Diajeng

Image result for tulisan diajeng



Diajeng adalah panggilan pertama yang anda lontarkan untuk pertamakalinya menyapa, tepat di hari jumat jam 10.00 pagi dalam ruang lepas dengan beberapa banyak kursi telah duduk disana sambil mengaitkan tangan dan berharap Diajeng segera datang menemuimu.

“Saya sudah di tempat, Mas ada di sebelah mana?”, pesan singkatku.

“Saya juga sudah di tempat, this is me”. Sebuah gambar terkirim masuk di handphone-ku

Aku juga tau ini wajahmu, tapi sederetan kursi yang ada disini hanya ada beberapa mahasiswa sedang belajar mengaji dan satu guru sedang mengajarinya. Lalu dia di mana.

“Saya di sini sedang duduk melihat satu gerombolan Mahasiswa sedang belajar mengaji, anda sebelah mana?”. Tanyaku.

“Saya juga sedang duduk, banyak Mahasiswa dan Mahasiswi di sini, sepertinya Diajeng salah gedung”.

“Apa.., salah gedung, bukannya dia berada di Asrama Putra ya, kenapa bisa salah gedung”. Gumamku seelah membaca balasan pesan singkat darinya.

“Saya ada di Asrama Putra, Mas ada di mana?”.

“Wah…saya ada di Asrama Putri, Diajeng salah tujuan”.

***

Bergegas segera menuju parkiran motor, untuk memutar balik arah tujuan, karena sepahamanku ketika ada Mahasiswa luar bertamu di Kampus Biru, tempat istirahatnya di Arama Putra bukan di Asrama Putri.

Motor sudah terparkir rapi sesuai dengan posisi letak motor-motor yang lain, kakiku mulai masuk menuju serambi Asrama Putri, terhampar kursi-kursi dengan beberapa Mahasiswa dan Mahasiswi sedang berdiskusi, ada yang sedang mengerjakan tugas, ada beberapa duduk sendiri menikmati dunianya. Dari kejauhan terlihat seseorang yang baru saja mengirimkan fotonya di layar handphone-ku.

“Assalamu’alaikum”. Sapaku.

“Wa’alaikumussalam”. Jawab dia.

“Sudah lama di sini, maaf saya salah ke Asrama Putra”.

“Tidak apa-apa, bertepatan saya lagi free hari ini, eh.., silahkan duduk Diajeng”. Sebutan Diajeng dia menyebutku dan mempersilahkan dengan sedikit menggeser tempat duduk agar mempermudah untuk duduk.

“Terimakasih”.

Perkenalan kita memang sudah beberapa bulan lalu, kita sering berdiskusi bnyak hal namun belum pernah berjumpa secara langsung.

“Saya sangat senang sekali bisa berjumpa dengan Diajeng”.

“Panggil saya Husna saja”.

“Baiklah kalau begitu, bukankah panggilan Diajeng itu panggilan seorang gadis Jawa yang sangat di hormati”.

“Iya , bisa seperti itu, namun saya tidak terbiasa di panggil Diajeng”.

“Baik Mbak Husna, mohon maaf kita bertemunya di sini, karena saya juga belum paham betul daerah sini. Kebetulan saya ada acara di Kampus Biru, dan baru menyadari kalau saya punya kenalan, makanya saya menghubungi Diajeng, eh maksud saya Mbak Husna”.

“Tidak masalah, senang bertemu dengan Anda”, jawabku kaku karena lihat penampilannya sangat resmi dan rapi.

“Sudah sarapan”. Tanya dia. “Panggil saya Purna atau Purnama”. Tawaran dia dalam memanggil namanya.

“Oke, Mas Purna”.
Kita berbincang-bincang banyak hal mengenai perbedaan budaya, kuliah dan beberapa informasi pariwisata yanga ada di daerah kita masing-masing. Sempat beberapa kali dia memperlihatkan foto di handphonenya mengenai objek wisata di tanah kelahiran. Sangat bagus dan menawan.

Tak sengaja tercium bau aroma parfum yang dia kenakan, “kira-kira berapa lama dia bersiap diri”, celotehku dalam hati.

“Di tanah kelahiran saya terkenal dengan situs Majapahit, bisa dibilang dahulu kala Kerajaan Majapahit bertempat di sana, banyak beberapa candi yang masih tersisa. Namun untuk kerajaan pusatnya berdiri sampai saat ini belum diketahui kejelasannya”.

“Oh ya, wah bisa masuk tujuh keajaiban dunia itu,

“Tidak juga, berita-berita hanya memberikan informasi itu adalah peninggalan Kerajaan Majapahit, belum sampai pada keajaiban dunia. Di masyarakat sekitar masih mempercayai jika menemukan barang-barang kuno ketika menggalih tanah maka harus diserahkan ke pihak Museum untuk diamankan, dari pihak menemukan, menerima sejumlah uang atas penemuan tersebut. Meskipun tidak sebanyak jika dia langsung menjualnya ke orang lain.”

“Kenapa harus diamankan ke Museum”.

“Karena jika tidak, si penemu tersebut akan celaka, sakit atau meninggal.

“Ih serem juga ya”. Respon dia.

“Karena sudah menjadi kepercayaan, jadilah seperti itu. Meskipun demikian bisa jadi dia sakit maupun meningeal karena sudah waktunya”

“Bolehlah ya lain waktu saya berkunjung ke daerahnya Mbak Husna”.

“Monggo, dengan senang hati diterima kedatangannya”

Matur Nuwun.., hehe”.

“Wah bisa bahasa Jawa nih”.

Terlihat senyum malu terbias di wajahnya. Sampai pada waktu dhuhur kita mengakhiri perbincangan dan pertemuan ini. Sempat minta diantarkan ke Masjid Kampus Biru. Kita saling berpamitan dan semoga kelak bisa berjumpa kembali dalam waktu dan suasana berbeda.

“Terimakasih untuk hari ini Mbak Husna”

“Sama-sama, senang sekali bisa berjumpa secara langsung dengan Mas Purna”.

Aku memberikan ucapan Salam untuk menutup perjumpaanku dengannya dan dia bergegas menuju Masjd untuk mensegerakan sholat jumat.
 
“Sampai jumpa, semoga bertemu kembali”. Gumamku dalam hati sambil mengendarai motor menuju Kampus Hijau.

@Kampus Biru, Jumat 20/11/2015
#Days7 #30DWC #ODOP

4 komentar:

  1. Hihihi temanya sejarah euy.. Keren ka ilmi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebuah sebutan "Diajeng" yang masih terniang.

      Hapus
  2. Salah satu keunikan cerita yg diangkat dr sejarah, terkadang ada hal2 baru yg belum kita ketahui, semacam kepercayaan itu td, keren 😊

    BalasHapus