Kamis, 18 Januari 2018

Jangan Tanya Lagi


Image result for stop bertanya kapan nikah

Sebuah pertanyaan yang selalu tampak hadir, padahal tak pernah diundang diantar juga tidak pernah, menghampiri tanpa permisi sebelumnya, menanyakan untuk meminta jawaban kepadaku padahal akupun tak tau harus menjawab apa, kalau asal menjawab malah jadi perkara di akhir.

Pernah terbesit sebuah ungkapan atas lontaran seseorang untuk menunjuk suatu jawaban dengan asumsi bahwa itu sebuah kebenaran, kenapa tidak ada sedikitpun terlintas untuk memikirkan kembali apakah sebuah pertayaan itu dapat diterima secara langsung bagi Subjek pertanyaan.

Setiap pertanyaan apakah memang perlu untuk dijawab, padahal setiap pertanyaan belum tentu harus memiliki jawaban. “Mengapa kamu seorang perempuan?”, itu juga merupakan pertanyaan yang tidak perlu memiliki sebuah jawaban.

Ungkapan seseorang di luar orang terdekat mampu beralih untuk tak perlu dipikirkan, jika itu sebuah tanya dari orang-orang terdekat, apalah daya senjata senyuman akan disodorkan, meski itu pun tak mampu menyelesaikan masalah.

Waktu memang selalu memburuku atau aku memburu waktu untuk sampai pada titik pelabuhan.

*** 

Inilah diiskusi maupun pertanyaan-pertanyaan yang seringkali terlontar dari pikiran seseorang untuk menuju sebuah jawaban pengharapan.

**   “Kapan?”. Sebuah kata tanya.

*** “Tidak tahu”. Jawabku ketus.

**   “Kapan keluarga mendapatkan kabar kepastian?”. Pertanyaan mengusik.

***  “Tidak tahu”. Jawabku singkat.

**   “Kapan tidak tahu menjadi tahu?”. Mulai mengisak.

***  “Segera, mungkin”. Gerutuku.

**   “Kapan mungkin menjadi nyata?”. Masih tak mau kalah untuk terus bertanya.

***  “Tidak tahu”. Jawabku cuek.

**   “Kenapa balik lagi jawaban tidak tahu, ini sudah ketiga kalinya lho”. Mulai kesal dengan jawaban tidak tahu.

*** “Adanya cuma tahu tidak ada tempe”, mencoba mengelak, meski ini bukan jawaban untuk pelarian sesaat.

**   “Ini pertanyaan serius”. Emosional mulai memuncak.

***  “Aku pun serius menjawabnya, tidak tahu”. Masih berusaha mengelak tidak tahu.

**  “Baiklah akupun tak akan menanyakannya lagi”, mulai nyerah karena tak mendapatkan jawaban sesuai.

***  “Itu lebih baik, jika tak bertanya lagi”, memberikan apresiasi.

**   “Apakah kamu terusik?”. Masih saja bertanya

*** “Sedikit”. Jawabku singkat

**   “Kenapa kamu terusik?”. Mengisak lagi.

***  “Karena aku tak memiliki jawaban”. Ungkapan pasrah

**   “Cari dong jawabanya”. Mendesak lagi

*** “Sudah”

**  “Lalu?”

*** “Menunggu dia datang, itu hasil pencarianku”.

Sejenak kami pun terlena dengan pertanyaan sama-sama tak mampu meneruskannya kembali, sebab apa yang dia rasa seperti halnya apa yang kurasa, bukan sebab mengapa, bagaimana dan dimana, itu sebuah rahasia dan sudah ketentuan olehnya, boleh jadi sudah di depan mata namun masih saja tak tampak, atau seseorang yang diam-diam mengirimkan doa untuk merayu ridhoNya, atau bisa jadi orang yang selama ini sangat diinginkan namun Sang pemilik kehidupan masih memberikan waktu kepadanya utuk memperbaiki diri.

Maka, jangan tanyakan lagi jika tidak memberikan solusi.

#Days3
#30DWC
#ODOP

0 komentar:

Posting Komentar