Kamis, 18 Januari 2018

Ombak dan Senja




Gemuruh bergesekan suara, berbenturan pada angin dan udara. Melambai keindahan alam bertajuk syukur atas nikmat yang Engkau berikan, tak semudah apa yang dibayangkan oleh manusia. Ombak berbenturan dengan ombak selanjutya merupakan ketentuan atas apa-apa yang terjalankan di Bumi.
Senja di Pantai Pandansari, 13 Januari 2018. Bersama dua temanku ikut menemani indahnya pantai ini, suara teriakan berulang-ulang kita gelontorkan ke bibir pantai, bersuara lepas, meraung sebuah kepenatan, melemparkan suara untuk terdengar namun hanya sekelebat empat langkah kaki, suara aungan kita terdengar.

Huwaaaaaa…., Pantai, lama kita tak berjumpa”.

Sesekali ombak kecil ikut menyapu pasir-pasir hitam bergerak mengikuti laju ombak, hantaman suara gemuruh menjadikan rileksasi dalam pikiran.

“Apa yang sedang kita lakukan disini”, ungkap temanku Fita.

“Kita sedang menikmati waktu-waktu senggang, atau kita sedang menertawakan diri sendiri dalam keheningan yang tak tampak”, sahutku.

“Kita sedang bermain-main dengan alam, karena kita tahu alam juga perlu meluapkan rasa atas penat terpendam dalam dirinya”. Julai mulai berucap dalam terselubung makna.

“Alam memiliki rasa tersendiri atas apa-apa yang sudah dimilikinya, hanya saja manusia seringkali tak memihak alam untuk selalu menampakkan keindahan”. Responku atas alam


Dalam senja di penghujung hari, membersamai dengan sesama kawan seperjuangan, sama-sama ikut merasakan bagaimana sebuah proses perjuangan itu harus diperjuangkan. Kita tak menuntut seseorang untuk sebuah pencapaian atas keberhasilan, hanya saja perjuangan yang selama ini kita lakukan perlu adanya apresiasi dari orang spesial, dan itulah masih kita pikirkan dalam benak harap dan semoga segera terwujud.

*** 

“Besok sudah hari Senin, kembali ke dunia nyata, apakah hari ini hanya sekedar kamuflase?” ungkapku serasa ingin mengetahui respon kedua temanku ini.

“Ini adalah duniaku, besok hanya sekedar kamuflase sementara”, tangkas Julai

“Kenapa bisa begitu Jul?”, tanya penasaran Fita oleh ungkapnya.

“Karena hidup ini sebenarnya kamuflase yang semuanya hanya sementara, setiap manusia pasti mengiginkan kesenangan dan kebahagian, untuk mendapati keseharian yang membahagiakan, maka kujadikan kesibukanku hanyalah kamuflase sesaat, karna hidupku yang sebenarnya bukan pada kesibukan keseharian dengan kepenatan”. Jawab Julai.

“Kehidupan memang akan menjadi benar-benar hidup jika kita menghidupkannya dengan berbagai hal, apakah itu sebuah kesibukan atau hanya sekedar mengsisi luang waktu untuk kesenangan, karena hidup adalah pilihan untuk mengambil dari sisi mana dia berpihak”. Tangkasku menanggapi percakapan senja ini.

***

Perjalnan kita memang berbeda likunya, terkadang kita menertawakan diri kita sendiri untuk penghibur lara atas penyebab yang masih belum menemukan titik temu. Mencoba memberikan solusi meski si pemilik kegundahan juga sudah menyadari titik lemahnya, hanya saja perlu adanya suara-suara lain untuk mendukung yang bukan dari sisi hidupnya sendiri. Sebuah diskusi unik ketika membersamai dengan mereka.

Senja pun malu-malu tertutupi oleh mendung, sedikit demi sedikit kemegahan merah senja hilang sirna ditenggelamkan oleh waktu, kita masih berlari-lari kecil menikmati ombak dan senja.

“Sebentar lagi kau akan hilang senja”, ungkapku dengan nada lirih

“Tak perlu khawatir, senja akan selalu datang di penghujung hari, dia menawarkan gelapnya malam untuk menjadikanmu hangat dalam tidurmu”. Tangkas Julai dalam sebuah intonasi ringan di telingaku.

“Jangan takut akan gelap, esok akan cerah kembali, mentari pagi menyambutmu dengan kegembiraan”. Sahut Fita dengan menggerakkan kakinya ke pasir hitam.

Waktu magrib sudah menghampiri, menyapa kita untuk segera bergegas memenuhi panggilanNya. Usai sudah perjanan kita hari ini, melancong bersama dari pagi di tutup dengan menikmati senja di Pantai. Kita menyepakati tak perlu lagi dirisaukan, karena semuanya sudah ada ketetapan dan sudah diatur olehNya.

***

Senja akan selalu datang sesuai dengan ketentuanNya, digantikan oleh malam dan disambut hangatnya mentari esok.

Sampai jumpa lagi

Senja di Pantai Pandansari, Bantul, Yogyakarta
Jejak kaki dalam 3 arah.

#Days4
#30DWC
#ODOP

2 komentar:

  1. Aku pun pengagum senja
    Pengagum indahnya alam

    BalasHapus
  2. Masyaallah, cerpen bergizi. Maknanya dalem mbak il ❤

    BalasHapus