Kamis, 11 Januari 2018

Ruangan



Image result for RUANGAN LORONG
Menjadikan satu kesatuan berasal dari berbagai sisi untuk memberikan banyak perubahan, berawal dari pola pikir atau semacam sebuah pendapat yang diagungkan untuk ketetapan pernyataan.

Bukti sebuah keadaan memberikan pengaruh untuk sebuah perjalan berharga dan sebuah sejarah dalam kehidupan seseorang, langkah-langkah kaki berhamburan meneropong asa melihat sudut pandang berbeda dari berbagai genre manusia, tidak mudah memang memilih satu dari sekian ribu mapun jutaan, namun apakah memilih dalam sebuah pilihan harus sangat lama untuk dipertimbangkan. Itu juga menjadi sebuah pertanyaanku saat ini.

Layaknya sebuah tangga untuk menuju ruangan yang akan dituju, berjalan menapaki jejak menorobos waktu, berbelok-belok beralih arah mengikuti ritme aturan berganti bersebelahan kaki kanan dan kaki kiri, bertalian koordinasi otak dan hati menuju ruangan. Baiklah itu sudah menjadi kesepakatan untuk menuju kesana, cukup beberapa langkah untuk sampai diruangan, tak ada lift untuk mempercepat laju langkah.

Pada sebuah tangga berkelok-kelok menuju satu tujuan, di tingkat dua banyak ruangan dengan pintu terbuka, tercium aroma parfum wangi dan menenagkan, terlihat bersih dan tertata rapi, namun tampak dari kejauhan lampu menerawang dengan penuh warna. “Mungkin ada pesta disana?”, tanyaku dalam diri. Tak terlihat ada manusia, hanya ada bekas-bekas pakaian yang tergeletak di beberapa kursi, dari jauh memang tampak indah, tapi dari dekat kenapa terlihat ada bekas pakaian tercecer.

Masih beberapa tangga lagi untuk dilalui, berirama tak tak tak suara sepatu hitam menghentam lantai putih, berbecak sedikit tanah sebab hujan sempat menghampiri, meski tak sempat melihat pelangi.

Bertuliskan ruangan dengan angka 2824.I.D dimanakah itu, mata mulai menuju sebuah lorong sunyi, hanya bisikan angin terdengar pada himpitan-himpitan tiang, terisak daun bergesekan sembari mengabarkan sebuah berita, menoreh ke sudut kiri terlihat gumpalan awan akan menurunkan hujan, sesekali menegadah ke atas terlihat beberapa pita merah tertempel di langit-langit. “Apakah beberapa waktu lalu ada pesta di sini”, tanyaku sembari melangkah menuju ruangan yang kutuju.

Ruangan 2824, terlihat dari kejauhan bertuliskan angka ruangan dengan warna merah jambu. “Iya ruangan itu yang kutuju”. Hati riang menyelimuti dalam harap diri, namun masih tak terlihat jenis ruangan I.D, dimanakah dia?.

Berbelok arah, mencari, berputar sudut wajah, berlari untuk mencari tanya tapi masih saja tak menemukan. “Apakah aku tersesat?”. Semua ruang dan sudut-sudut masih saja tak terlihat.

Hingga pada akhirnya setelah radius beberapa meter terlihat di ujung ada tanda panah ke atas bertuliskan 2824.I.D. “Itu dia ruangan yang hendak kutuju”, kakiku berlari penuh tenaga untuk menyegerakan sampai pada tujuan.

“Akhirnya kutemukan juga”. Terlihat ruangan ini paling besar, pintu besar dengan cat putih bersih, perawatannya sungguh sempurna. Aku sangat bersemangat untuk segera masuk.

***

Grek grek grek

Kenapa pintu ini masih terkunci rapat, jendela satupun tak ada yang terbuka, berlari mencari sela masih saja tak ada, berdiam lama menunggu agar terbuka pintu ini, masih saja tak ada perubahan. 

Mencoba berteriak tak ada yang mendengar, ada fentilasi jendela mampu terintip dari luar, sedikit mata bisa mmandang bahwa di dalam begitu mewah. Namun hati ini terisak sakit sangat karena terlalu lama menunggu pintu terbuka, susah payah menemukan ruangan ini, meski sudah ada berita mengabarkan untuk segera datang menuju ruangan 2824.I.D. tapi tak ada hasil ketika sudah sampai di tujuan.

Apakah ini hanya sekedar wacana, atau hanya keingginanku yang terlalu menggebu-nggebu sehingga tak menyadari lalu lalang untuk segera membalikkan ke arah lain. Sebuah perjalanan yang misterius.

Pilihannya hanya ada dua, tetap menunggu ruangan ini terbuka atau pergi untuk meninggalkan.

Hanya itu.

***

Sedikit ada yang mengganjal di sudut mataku, beberapa cahaya masuk menghampiri, dan tersadar bahwa aku baru saja “bermimpi”.
 
Ruangan 2824.I.D

#Days1 #30DW

6 komentar:

  1. lalu, akhirnya memilih menunggu atau meninggalkan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. pada akhirnya. Aku melangkahkan kaki untuk meninggalkan ruangan ini. Awalnya memang berat tapi harus.

      Hapus
  2. menunggu di ujung ranjang sambil ucek ucek mata hehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sambil ucek-ucek mata karena baru bangun tidur yang berkepanjangan.. :)

      Hapus
  3. Suka gaya menulisnya mbak 😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih perlu belajar lagi mengenai showing cerita

      Hapus