Sabtu, 20 Januari 2018

Sungai Wangsit



 Brook, Forest, Tree, The Brook, Landscape, Nature
Membersamai dalam kebersamaan, menjadikanmu sebuah tali ikatan saling merindu. Pondok Pesantren, sang tembok suci melingkari gerak-gerik tindak santri. Kebiasaaan yang sudah menjadi hal biasa yaitu mengantri kamar mandi, berderet santri dengan membawa keranjang sabun di tangan kanan dan di pundak kiri terdampar kain lebar yang berwujudkan handuk mandi.

Tak disangka-sangka air terdongkrak keluar dari pipa-pipa, air berceceran dimana-mana, kondisi pondok pesantren gaduh menggaduh seperti halnya pasar pagi yang saling bersahutan meneriakkan keingginan untuk segera mendapatkan.

Krakkk.., krakkk.., brakkk…. Terdengar suara kran mulai menggeluh karena tak kenal henti  bekerja, beberapa terlihat sangat parah tidak bisa dikendalikan lagi, saluran paling dekat dengan tembok kamar mandi pecah dan putus, air menyumbar ke semua ruangan, yang di dalam kamar mandi hanya mampu berpasrah diri dengan keadaan sabun berlumuran mengkujur seluruh badan.

“Woy…, airnya habis ya, masih makai shampo nih”. Terdengar suara teriakan dari dalam kamar mandi.

“Saluran airnya rusak, ruangan sebelah sudah penuh air”.
Semuanya terhampar air berceceran tak beraturan. Bercak-bercak kaki menghiasi disetiap sisi ruangan. Sudah berulang kali terjadi, bahkan sudah menjadi hal biasa.

***

Sebab tak ada air di Pondok, para Santri berhamburan untuk mencari air wudlu ke masyarakat sekitar. Karena dirasa tidak enak merepotkan. Kami berenam memutuskan menelusuri beberapa sungai untuk mandi dan mengambil air wudlu. Awalanya aku menolak karena Sofi memiliki indra lebih untuk menerawang hal-hal yang tidak biasa dilakukan oleh manusia.

“Nia…, bergantian ya, tiga orang berjaga dan  tiga orang mandi”, saran Fia memberikan instruksi sambil melihat sekitar apakah sungai ini aman atau tidak.

“Iya.., aku, Rina dan Sofi yang jaga, kalian mandi dulu”. Sahutku menerima instruksi.

***

Setelah beberapa menit berlalu, Sofi meraung dengan nafas terisak, matanya memerah dan tingkah laku tak seperti biasanya. Beberapa kali aku memanggil dia namun tak ada respon menimpali panggilanku.

“Sof.., apakah kamu baik-baik saja?”. Tanya Rina.

“Kalian kenapa di sini, ini bukan tempat kalian”. Sofi berbicara dengan nada berat, terlihat seperti marah dan tidak suka.

Seketika itu kami menyadari kalau Sofi sedang kesurupan, dia meraung-raung, memperlihatkan aura wajah sinis, mengisyaratkan untuk kita segera pergi.

“Jika kalian masih tetap di sini, aku akan membawa temanmu ini ke Alamku”.

“Tolong jangan…, jangan bawa Sofi pergi, baiklah kami akan pergi, tapi tolong pergilah dari tubuh Sofi”. Ajakku kepadanya untuk melepaskan tubuh sofi.

“Baiklah aku akan pergi dari tubuh ini, tapi kalian harus berjanji jangan ke sungai ini lagi, manusia hanya bisa merusak, aku tak ingin siapapun menghampiri istanaku ini”.

*** 

Tersibak guratan wajah Sofi lemas, tanpa bisa terkendali, seketika dia pingsan tak sadarkan diri, aku mencoba menangkap tubuh Sofi agar tak tergelincir ke bebatuan bercampur tanah di pinggiran sungai. Kami sepakat untuk segera pergi dan membawa Sofi dengan mengangkat tubuhnya bersama. Masih untung kita berenam, jadi masih kuat menopang.

Niatan untuk mandi di sungai menjadi mala petaka berjung Sofi kesurupan. Sudah lumayan jauh membopong, badan mulai kelelahan, tapi Sofi harus segera di bawa ke Pondok Pesantren, jika tidak segera akan berakibat fatal pada tubuhnya.

***

Ada seorang bapak-bapak sedang mencari rumput untuk ternak kambing, penasaran dengan apa yang kami lakukan.

“Nak, itu temannya kenapa?”, tanya bapak pencari rumput sambil menghampiri.

“Teman kami baru saja kesurupan Pak, sekarang lagi idak sadarkan diri”.

“Lho kesurupan di mana?, apakah kalian dari Sungai Wangsit”.

“Iya Pak kami dari sungai yang sebelah bukit itu”.

“Atas perintah siapa kalian kesana?, itu sungai angker, masyarakat sini tidak ada yang berani kesana, kalian masih beruntung masih bisa pulang”. Sahut bapak pencari rumput.

“Kami hanya mau mandi di sungai itu Pak, dan tidak tahu kalau sungai itu angker”.

“Walah nak..nak…, makanya kalau belum paham daerah sini jangan sembarangan. Ya sudah kalian tunggu sini, saya ambilkan becak buat anterin temanmu ini”.

“Terimakasih banyak Pak, maaf merepotkan, maaf kami tidak tahu apa-apa mengenai daerah sini”.

*** 

Selang sepuluh menit berlalu, Sofi masih saja tak sadarkan diri, bapak pencari rumput akhirnya datang dengan membawa becak untuk mengantarkan.

“Karena kalian berenam, jadi yang ikut sama saya dua orang, satu orang mangku temanmu yang pingsan”.

“Nia, kamu saja ikut sama Bapak, kami jalan kaki menyusulmu”. Saran Dira.

“Baiklah, nanti ketemu di Pondok ya”. Jawabku.

***

Setelah sesampainya di Pondok Pesantren, semua santri dan pengurus geger karena aku membawa Sofi dalam keadaan pingsan. Beberapa kali bapak pencari rumput memberikan informasi ke pengurus, jika dia menolong kami dalam keadaan sofi pingsan karena telah berani ke Sungai Wangsit.
Tak pikir panjang, Sofi langsung di bawa ke ruang pengurus untuk diobati. Hampir satu jam lebih Sofi masih tidak sadarkan diri. Alhamdulillah.., setelah dipaksa untuk minum air putih dari Pak Kiyai, Sofi bisa sadar.

“Bapak terimakasih sudah mengantarkan santri saya ke Pondok, maaf telah merepotkan”. Ucap Ustadzah Tia dengan menelungkupkan kedua tangannya.

“Sama-sama Bu, maaf saya mau langsung pulang. Saran saya jangan ada lagi yang ke Sungai Wangsit, itu berbahaya”.

“Baik pak, saya akan selalu ingat saran bapak”.

*** 

Setelah Sofi sadarkan diri,aku dan empat temanku dipanggil oleh pengurrus, kita diberikan hukuman tidak boleh keluar sama sekali dari podok selama satu bulan, tanpa ada alasan apapun harus diterima.
 
Setiap tempat memiliki peraturan yang harus ditaati, meski berat dirasa, baiklah kami memahami dan menerima, karena masih berada di tembok suci maka peraturan ini mengikat tiap santri tanpa memihak siapapun.

#Days6 #30DWC #ODOP

5 komentar:

  1. Itulah pentingnya mengetahui seluk beluk suatu tempat baru, Krn kita yakin ada makhluk tak kasat mata disana, 😅

    BalasHapus
  2. Walaupun saya bukan santri, saya pernah ikut merasakan antrian di pesantren, ngadepin santri cowok yang diam-diam merokok. Duh itu sesuatu

    BalasHapus
  3. 😮 sungainya angker... hiii

    BalasHapus
  4. indra ke enam itu tidak ada, kalau orang bisa melihat yang ghoib itu perlu di ruqyah, bisa jadi dalam dirinya sudah bersemayam jin

    BalasHapus