Jumat, 27 Juli 2018

Nyadran di Kaledonia Baru



Related image

Pesan singkat masuk di layar smartphone dengan nama pengirim “Penerbit Cempaka,” mata ini langsung terbelalak terkejut dan terdiam dalam beberapa detik.  Apakah ini memang benar-bemar nyata, sebuah pesan yang sudah satu bulan ditunggu-tunggu kabar baiknya.

Selamat Pagi dan Semangat Beraktivitas
Setelah dilakukannya beberapa pertimbangan dan penilaian. Maka kami putuskan untuk memilih saudara Raka untuk bekerjasama dengan tim penerbit dalam rangka penelitian tentang Budaya Jawa di Kaledonia Baru. Pemberangkatan akan dilaksanakan pada awal April dan akan berakhir di akhir bulan Mei. Demikian pemberitahuan dari kami, mohon dipersipakan dengan sebaik-baiknya.

“Kaledonia Baru! Tunggu kedatanganku,”sontak suaraku melambung tinggi kegirangan mendapatkan pesan dari Penerbit Cempaka.

“Aku harus mempersipakan semuanya, mulai dari keperluan pribadi, pemantapan jurnalis dan fisik.”

Siapa yang tidak ingin pergi ke Kaledonia Baru. Sebuah pulau di barat daya Samudra Pasifik atau di sisi timur Australia, Negara yang dulu berada dalam jajahan Prancis. Mengutip dari jurnal Indonesian Overseas, terjadinya migrasi orang Jawa ke Kaledonia Baru adalah hasil transaksi permintaan tenaga kerja pemerintah kolonial Prancis terhadap Belanda yang datang tahun 1896.

Penerbit Cempaka memberikan tugas untuk mencari informasi apakah budaya Jawa masih tetap di hati, bagaimana kehidupan keseharian mereka. Berangkat dengan dua peserta lain yaitu Doni dari Yogyakarta dan Rian dari Semarang dan aku Raka membawa nama Surabaya dalam kompetisi ini. Kita sungguh beruntung mampu mengalahkan beberapa peserta yang telah diseleksi secara ketat. Pergi ke Kaledonia Baru adalah sebuah pengalaman berharga dan pasti akan banyak hal baru akan diperoleh.

***

Setelah briefing dari pihak Penerbit Cempaka di Jakarta, diberikannya pembekalan dan arahan-arahan untuk tetap semangat dan kuat menjalankan tugas, semua akomodasi mulai dari kendaraan dan biaya hidup sepenuhnya ditanggung alias free. Kita diberangkatkan menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Di dalam pesawat sembari menunggu perjalanan sampai pada tujuan Doni memulai memperkenalkan diri secara formal, meskipun ketika tadi briefing sudah diperkenalkan sebatas nama dan asal daerah. “Namaku Doni Firmansyah, panggil saja Doni”, tangannya terulur memperkenalkan diri dan Rian menyambut dengan mengucap namanya, tak ketinggalan juga “namaku Rakabuming Raka, paggil saja Raka,” kujabat tangan mereka dengan erat. Tidak buang waktu kita saling bercerita mengenai dunia literasi. Doni yang sudah beberapa kali menerbitkan buku Antologi sama halnya sepertiku, Rian yang masih dibilang paling muda diantara kita namun buku-bukunya sudah berderet di jajaran penulis best seller.

*** 

Akhirnya tiba di Bandar Udara Internasional Nouméa - La Tontouta. Pak Bruston, salah satu warga Kaledonia Baru telah menuggu di depan pintu utama sejak tadi pagi.

Bienvenue Selamat datang saudaraku”, sapa hangat terhias di wajah Pak Bruston, secara bergantian dia memeluk kami dan mempersilahkan untuk masuk ke dalam mobil.

“Saya sangat senang bisa bertemu dengan orang Indonesia”.

“Pak Bruston sangat lancar menggunakan bahasa Indonesia, apakah masyarakat di sini masih sering menggunakan Bahasa Indonesia untuk bahasa kesehariannya?.” Tangkas Doni sembari melihat pemandangan alam sekitar yang memukau.

“Perlu anda ketahui, masyarakat sini didominasi oleh masyarakat Jawa. Sejarah mencatat kala itu Belanda mengirimkan banyak orang-orang Jawa untuk bekerja di Kaledonia Baru dan rata-rata dipekerjakan di tambang dan juga pertanian.”

“Bapak masih lancar menggunakan Bahasa Jawa?, saya juga dari Jawa pak, lebih tepatnya Surabaya.”

“Keluarga saya masih konsisten dengan Jawa, jadi Bahasa Jawa maupun Bahasa Indonesia masih lancar digunakan untuk bahasa keseharian, tapi tidak semua suku keturunan Jawa di Kaledonia Baru ini mengerti bahasa leluhurnya. Sebagian anak-anak muda Jawa buta soal bahasa aslinya, karena keseharian mereka menggunakan Bahasa Inggris dan Perancis yang merupakan bahasa nasional.”

Terbesit dibenakku, jika suku keturunan Jawa tidak semua mengerti bahasa leluhurnya, maka ada percampuran suku lainnya yang mendominasi sehingga lupa akan bahasa leluhur.

“Pak Bruston, apakah di sini ada beberapa suku Jawa?”.

“Suku Jawa di Kaledonia Baru dibedakan bukan dari ras namun dari status mereka. Ada tiga golongan yaitu Golongan Niaouli yaitu orang Jawa lahir di Kaledonia Baru sedangkan orangtua mereka asli Indonesia. Golongan Wong Baleh artinya kembali. Jadi, mereka pernah pergi dari Kaledonia Baru tapi kembali lagi. Golongan Wong Jukuan adalah orang-orang yang lahir di Indonesia dibawa ke Kaledonia Baru.”

Doni masih mencoba mencerna apa yang Pak Bruston jelaskan, entah terbesit apa di raut wajahnya, sontak dia penasaran dengan adat dan budaya di Kaledonia Baru. “Lalu, apakah masyarakat masih memegang adat budaya Jawa?, sementara jarak yang sudah berkilo-kilo membentang memisahkan mereka dari Jawa.”

“Kita masih memegang adat budaya Jawa, itulah warisan yang sangat berharga dari nenek moyang. Prinsip yang masih di emban masyarakat Kaledonia Baru jangan sampai lupa dari mana berasal, jangan pernah meninggalkan adat, meskipun Bahasa Jawa tergeser oleh kaum remaja dengan berkebiasaan menggunakan Bahasa Inggris dan Perancis.”

***

Memasuki perkampungan dengan tulisan gerbang “Welcome to New Caledonia”. Beberapa laki-laki paruh baya sedang berjalan di pinggir ruas bahu jalan, terlihat raut wajah yang tak asing lagi sering kujumpai. Sudah tentu mereka masih sama denganku aliran darah Jawa masih membenam erat dalam tubuh.

“Jika kalian jauh-jauh datang ke sini untuk mencari tahu bagaimana kami memegang erat budaya dan adat Jawa. Besok pagi jangan lupa ikut Nyadran untuk sesepuh yang dilaksanakan satu tahun sekali”. Ajak Pak Bruston sembari mempersilahkan kami masuk ke rumahnya.

“Sesepuh yang dimaksud Bapak, maksudnya nenek moyang.”

“Iya benar, karena kegigihan dan keberaniannnya dalam mengarahkan pendidikan, semua masyarakat sangat menyanjungnya.”

“Apakah Nyadran hanya boleh dilakukan setahun sekali?”

“Nyadran hanya diadakan satu tahun sekali untuk mengenang jasa-jasa beliau. Itulah yang sangat ditunggu-tunggu. Semua orang akan berkumpul, berdoa bersama, tentu saja akan mengikatkan tali persaudaraan semakin erat.”

Nyadran di Kaledonia Baru. Bukan hanya orang dewasa atau orangtua yang berdatangan, remaja bahkan anak kecil ikut serta menghadiri. Jika tanggal Nyadran bertepatan hari aktif maka akan diliburkan.

Terlihat ibu-ibu membawa sejumlah makanan untuk dimakan bersama, ada beberapa yang membawa tikar. Semuanya tertunduk sendu dan sama-sama berucap doa. Pak Bruston memimpin doa dengan khitmat. Hampir semua keturuna Jawa di Kaledonia Baru berkumpul untuk Nyadran. Salah satu bacaan yang sangat khas dalam Jawa yaitu dengan membacakan Surat Yasin, mereka juga masih memegang adat Jawa hingga saat ini.

Kami bertiga ikut khusuk dalam Nyadran, hanya bisa dari jarak jauh melihat sekumpulan masyarakat mengerumuni makam. Entah kenapa hatiku ingin melihat nama yang tertulis di nisan tersebut. Hati ini seperti tergerakkan untuk menuju ke sana. Maka dari itu, aku putuskan untuk menuju ke sana setelah usai acara.

“Meskipun masyarakat Kaledonia Baru sudah sangat jauh dengan Jawa, saya sangat kagum pada adat dan budaya yang mereka pegang.” Tangkas Doni

“Aku juga demikian Don”. Jawabku dengan singkat dan masih dengan wajah penasaran. Sementara Rian masih termanggu diam tak bersuara, masih terheran-heran dengan apa yang dilihatnya. Bahkan dia sendiri sebagai orang Semarang belum pernah pergi ke makam untuk nyadran, nyekar atau semacam kegiatan berdoa bersama.

Setelah semua doa telah selesai dipanjatkan dan sontak membalasnya “Aamiin”. Mereka diarahkan ke lapangan samping pemakaman untuk makan bersama.

Kakiku pelan-pelan terperanjat menuju nisan, sementara Doni menarik tangganku untuk mengurungkan. Aku membalas tangannya dengan berucap “tidak usah khawatir, aku baik-baik saja.” Doni sangat khawatir karena wajahku semakin pucat dan tangan semakin dingin.

Aku terperangga, bibir mengucap perlahan pada nama tertulis di atas pahatan nisan Rara Kembang Kasih. Apakah hanya sebuah kebetulan nama yang sama dengan nama Adik perempuanku. Ataukah memang benar apa yang pernah diceritakan oleh Eyang, bahwa dahulu orangtua Eyang adalah pejuang sejati, selalu memperjuangkan pendidikan. Namun, perjuangannya kandas tak tahu kelanjutannya. Kabar yang tersohor Rara Kembang Kasih dipaksa untuk menikah lagi dengan orang Belanda. Dan, besar kemungkinan nisan yang tertulis di sini adalah nenek moyangku yang sudah lama hilang dimakan waktu. 

Entah sebuah kebenaran atau hanya kebetulan, itu sudah cukup memberikan informasi bahwa Rara Kembang Kasih adalah sosok yang dikagumi dan disegani. Di tempat ini begitu banyak memberikan makna akan sebuah adat dan budaya, bukan hanya semerta-merta mengingat jasa sang pejuang pendidikan. Namun, dibalik itu semua ada sebuah kerukunan kuat yang mereka eratkan untuk selalu menjaga apa yang sudah diberikan nenek moyang. Meski sudah berpuluh-puluh kilo jauh membentang, darah Jawa masih mengalir kuat di dalam jiwa dan raga.

0 komentar:

Posting Komentar